Tatalaksana TB dengan Diabetes Melitus dan Hipertensi
Regimen Pengobatan TB Standar
Pasien dengan TB, DM, dan hipertensi harus menerima regimen TB standar 4 obat (isoniazid, rifampin, pyrazinamide, dan ethambutol) selama 2 bulan fase intensif, diikuti isoniazid dan rifampin selama 4 bulan fase lanjutan, dengan pertimbangan perpanjangan durasi pengobatan karena risiko kegagalan terapi yang lebih tinggi. 1, 2, 3
Fase Intensif (2 bulan pertama)
- Berikan isoniazid, rifampin, pyrazinamide, dan ethambutol setiap hari (7 hari/minggu untuk 56 dosis) atau 5 hari/minggu untuk 40 dosis 1, 4
- Ethambutol dapat dihentikan setelah konfirmasi kepekaan terhadap isoniazid 4
- Semua dosis harus diberikan dengan Directly Observed Therapy (DOT) karena kompleksitas komorbiditas 1, 5
Fase Lanjutan (4 bulan berikutnya)
- Lanjutkan isoniazid dan rifampin setiap hari atau 3 kali seminggu 1
- Pertimbangkan perpanjangan fase lanjutan menjadi 7 bulan (total 9 bulan) jika terdapat kavitas pada foto toraks dan kultur sputum masih positif pada bulan ke-2 4, 6
Manajemen Diabetes Melitus Selama Pengobatan TB
Metformin adalah obat pilihan utama untuk kontrol glikemik pada pasien TB-DM karena tidak berinteraksi dengan rifampisin dan dapat mengurangi mortalitas TB. 6
Kontrol Glikemik
- Target kontrol gula darah ketat selama pengobatan TB untuk mengurangi risiko kegagalan terapi dan kekambuhan 6, 7
- Gunakan metformin sebagai lini pertama karena tidak ada interaksi bermakna dengan rifampisin 6
- Insulin efektif untuk hiperglikemia berat, namun memiliki keterbatasan dalam penggunaan pada pasien TB 6
- Monitor HbA1c atau gula darah puasa secara berkala 1
Peringatan Penting
- DM meningkatkan risiko resistensi obat, paparan obat TB yang lebih rendah, kegagalan pengobatan, dan TB berulang 6, 8
- Pasien TB-DM memerlukan pemantauan lebih ketat sebelum, selama, dan setelah pengobatan TB 6, 8
- DM tipe 2 bertanggung jawab atas perpanjangan durasi pengobatan TB dan peningkatan angka kekambuhan 8, 9
Manajemen Hipertensi Selama Pengobatan TB
Hipertensi harus dikontrol secara optimal karena meningkatkan mortalitas 64% pada pasien TB, terutama pada wanita dan usia ≥45 tahun. 10
Strategi Pengelolaan
- Lakukan penilaian risiko kardiovaskular untuk memandu pemberian terapi antihipertensi, penurun lipid, dan antiplatelet 6
- Monitor tekanan darah secara rutin selama pengobatan TB 10
- Perhatikan interaksi obat antara rifampisin dan beberapa obat antihipertensi 6, 9
Pemantauan dan Evaluasi
Pemantauan Bakteriologis
- Kirim kultur sputum setiap bulan hingga 2 kultur negatif berturut-turut 5
- Evaluasi respons klinis dan bakteriologis pada bulan ke-2 dengan kultur sputum ulang 1, 4
- Jika BTA masih positif pada bulan ke-3, evaluasi ulang untuk kemungkinan kegagalan pengobatan, ketidakpatuhan, atau resistensi obat 5
Pemantauan Fungsi Hati
- Lakukan tes fungsi hati baseline untuk semua pasien 1
- Monitor fungsi hati setiap 2-4 minggu selama pengobatan, terutama karena risiko hepatotoksisitas lebih tinggi pada pasien dengan komorbiditas 11
- Hentikan obat hepatotoksik jika ALT ≥3x batas atas normal dengan gejala hepatitis, atau ≥5x tanpa gejala 1
Pemantauan Lainnya
- Pemeriksaan visus baseline dan diskriminasi warna bulanan untuk pasien yang menerima ethambutol 1, 12
- Monitor berat badan bulanan untuk menilai respons pengobatan dan menyesuaikan dosis 1
- Evaluasi adherensi dan perbaikan gejala TB (batuk, demam, keringat malam) serta efek samping obat 1
Koordinasi Perawatan
Pengobatan kombinasi sebaiknya diberikan, diawasi, dan dipantau di klinik TB dengan koordinasi dengan spesialis DM dan hipertensi untuk manajemen komprehensif. 4, 6
- Rujuk ke perawatan DM spesialis jika diperlukan berdasarkan kondisi lokal dan keparahan DM 6
- Lanjutkan perawatan DM dan hipertensi setelah penyelesaian pengobatan TB 6
- Skrining HIV pada semua pasien TB dalam 2 bulan diagnosis 4