Pengobatan Diabetes Melitus pada Pasien Tuberkulosis
Pasien dengan TB dan DM harus menerima regimen TB standar yang sama dengan pasien tanpa DM, yaitu 2HRZE/4HR (2 bulan isoniazid, rifampisin, pirazinamid, etambutol diikuti 4 bulan isoniazid dan rifampisin), dengan penekanan kuat pada kontrol glikemik optimal dan penyesuaian dosis obat hipoglikemik oral karena interaksi dengan rifampisin. 1
Regimen Pengobatan TB
Fase Intensif dan Lanjutan
- Gunakan regimen standar 6 bulan: 2 bulan fase intensif dengan isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol, diikuti 4 bulan fase lanjutan dengan isoniazid dan rifampisin 1
- Dosis rifampisin untuk dewasa: 10 mg/kg sekali sehari, maksimal 600 mg/hari 2
- Pemberian obat harian lebih disukai dibandingkan intermiten untuk memastikan efikasi optimal 1
Pertimbangan Khusus untuk Pasien DM
- Regimen TB standar tetap adekuat untuk pasien diabetes - tidak perlu modifikasi regimen 1
- Namun, pasien DM memiliki risiko lebih tinggi untuk kegagalan pengobatan, resistensi obat, dan kekambuhan TB 3, 4
- Pertimbangkan perpanjangan durasi pengobatan jika respons klinis lambat atau kultur tetap positif setelah 3 bulan 3
Manajemen Diabetes Selama Pengobatan TB
Kontrol Glikemik Optimal
- Kontrol glikemik optimal adalah kunci untuk meningkatkan outcome TB - pasien dengan kontrol glikemik baik memiliki tingkat kesembuhan lebih tinggi (RR 1.13) dan positivitas sputum lebih rendah (RR 0.23) 5
- Target kontrol gula darah harus ketat selama pengobatan TB untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas 3
Pilihan Obat Hipoglikemik
Metformin sebagai Pilihan Utama:
- Metformin adalah obat hipoglikemik pilihan pertama untuk pasien TB-DM karena tidak memiliki interaksi bermakna dengan rifampisin dan dapat mengurangi mortalitas TB 3
- Metformin harus dipertimbangkan pada pasien DM tipe 2 yang kelebihan berat badan 1
Sulfonilurea - Perhatian Khusus:
- Rifampisin menurunkan kadar serum obat sulfonilurea melalui induksi enzim P450 1
- Dosis sulfonilurea perlu ditingkatkan selama pengobatan dengan rifampisin 1, 6
- Monitor gula darah lebih ketat dan sesuaikan dosis sesuai kebutuhan 1
Insulin:
- Insulin efektif untuk hiperglikemia berat tetapi memiliki beberapa kerugian yang membatasi penggunaannya pada pasien TB 3
- Gunakan insulin jika kontrol glikemik tidak tercapai dengan obat oral 3
Monitoring dan Follow-up
Pemantauan Bakteriologis
- Kultur sputum bulanan hingga konversi, kemudian kurang sering 1
- Ulangi tes sensitivitas obat jika kultur tetap positif setelah 3 bulan pengobatan 1
- Pasien DM memiliki beban bakteri lebih tinggi dan mempengaruhi absorpsi serta metabolisme obat anti-TB 4
Pemantauan Klinis
- Monitor berat badan bulanan untuk menilai respons pengobatan dan sesuaikan dosis obat jika diperlukan 1
- Nilai perbaikan gejala TB (batuk, demam, kelelahan, keringat malam) 1
- Monitor fungsi hati hanya pada baseline kecuali ada abnormalitas baseline, gejala hepatotoksisitas, atau faktor risiko penyakit hati 1
Pemantauan Glikemik
- Lakukan skrining diabetes dengan glukosa puasa atau HbA1c untuk pasien dengan faktor risiko 1
- Monitor kontrol glikemik secara ketat selama pengobatan TB 3, 5
- Sesuaikan dosis obat hipoglikemik sesuai kebutuhan, terutama saat memulai atau menghentikan rifampisin 1
Directly Observed Therapy (DOT)
- DOT sangat direkomendasikan untuk memastikan kepatuhan, terutama pada kasus kompleks seperti TB-DM 1
- Kepatuhan terhadap regimen adalah penentu kesuksesan pengobatan yang paling penting 1
Manajemen Risiko Kardiovaskular
- Pertimbangkan penilaian risiko kardiovaskular pada pasien TB-DM untuk memandu manajemen dalam hal konseling dan pemberian terapi antihipertensi, penurun lipid, dan antiplatelet 1, 3
- Target tekanan darah individual: SBP 130 mmHg dan jika dapat ditoleransi <130 mmHg, tetapi tidak <120 mmHg 1
- Target LDL-C berdasarkan risiko kardiovaskular: risiko tinggi <1.8 mmol/L, risiko sangat tinggi <1.4 mmol/L 1
Peringatan Penting
- Jangan menambahkan hanya satu obat pada regimen yang gagal - ini dengan cepat menyebabkan resistensi yang didapat 7
- Pasien DM memiliki risiko lebih tinggi untuk resistensi obat, sehingga perlu penilaian hati-hati sebelum, selama, dan mungkin setelah pengobatan TB 3
- Piridoksin profilaksis 10 mg/hari direkomendasikan untuk mencegah neuropati perifer 6
- Hindari konsumsi alkohol selama pengobatan karena meningkatkan risiko hepatotoksisitas 1