Diagnosis dan Tatalaksana Ischemic Colitis
Diagnosis
Kolonoskopi adalah prosedur diagnostik pilihan untuk ischemic colitis dengan kemampuan menegakkan diagnosis pada lebih dari 90% kasus, namun sigmoidoskopi fleksibel sudah cukup pada kasus akut untuk menghindari risiko perforasi. 1
Presentasi Klinis Khas
- Pasien biasanya datang dengan nyeri abdomen akut disertai diare berdarah 2, 3
- Rektum biasanya normal (rectal sparing) karena vaskularisasi yang lebih baik 1
- Keterlibatan segmental yang jelas terutama di "watershed territory" dari kolon sigmoid hingga fleksura lienalis 1
- Pada pasien usia lanjut dengan faktor risiko vaskular, kecurigaan harus tinggi 3
Pemeriksaan Laboratorium Wajib
- Laktat serum >2 mmol/L mengindikasikan iskemia intestinal ireversibel dengan hazard ratio 4.1 4, 5
- D-dimer >0.9 mg/L memiliki spesifisitas 82% dan sensitivitas 60% untuk iskemia intestinal; D-dimer normal secara efektif menyingkirkan ischemic colitis 4, 5
- Hitung darah lengkap untuk menilai leukositosis dan anemia dari perdarahan gastrointestinal 5
- Panel metabolik komprehensif untuk menilai asidosis metabolik dan disfungsi organ 4, 5
- Protein C-reaktif (CRP) sebagai penanda inflamasi 3
Pemeriksaan Feses Sebelum Terapi
- Kultur feses dan toksin Clostridioides difficile WAJIB dilakukan sebelum memulai terapi apapun 4, 5
- Kultur bakteri untuk Salmonella, Shigella, Campylobacter, dan E. coli 5
- Fecal lactoferrin atau calprotectin (sensitivitas 90% untuk inflamasi histologis) untuk membedakan penyebab inflamasi dari non-inflamasi 4, 5
Pencitraan
- CT angiografi abdomen/pelvis adalah pencitraan lini pertama untuk mengevaluasi patensi vaskular dan perubahan dinding usus 4, 5
- Foto polos abdomen untuk menyingkirkan dilatasi kolon (≥5.5 cm) dan mencari tanda-tanda yang memprediksi respons terapi 1
- CT scan menunjukkan penebalan dinding dan fat stranding di area watershed 3
Endoskopi
- Kolonoskopi dengan biopsi dalam 48 jam (kecuali pada kasus fulminan) adalah gold standard untuk mengkonfirmasi ischemic colitis dan menyingkirkan etiologi lain 4
- Pada kolitis berat akut, sigmoidoskopi fleksibel lebih aman daripada kolonoskopi penuh untuk menghindari risiko perforasi 1
- Temuan endoskopi khas: pendarahan petechial, ulserasi longitudinal, mukosa hemoragik dengan ulserasi dalam, dan resolusi cepat pada pemeriksaan serial 1
- Biopsi minimal dari dua lokasi di setidaknya lima area di sekitar kolon untuk evaluasi histopatologi 6
Diferensiasi dari Kondisi Lain
- Inflammatory bowel disease (IBD): Biasanya menunjukkan keterlibatan rektal, inflamasi kontinyu tanpa rectal sparing 1, 6
- Infeksi CMV: Dapat menunjukkan mukosa hemoragik, lebih sering pada pasien immunocompromised 1
- Divertikulitis: Pola distribusi dan temuan imaging berbeda 3
- Kanker kolorektal: Dapat dibedakan berdasarkan pola gejala dan temuan imaging 3
Tatalaksana
Klasifikasi Berdasarkan Keparahan
Ischemic colitis harus diklasifikasikan sebagai gangrenous atau non-gangrenous, karena ini menentukan pendekatan terapi dan prognosis secara fundamental. 2, 7
Non-Gangrenous Ischemic Colitis (Mayoritas Kasus)
- Terapi konservatif dengan bowel rest, cairan IV, koreksi abnormalitas elektrolit dan anemia 4
- Antibiotik spektrum luas untuk mencegah translokasi bakteri 3
- Hindari obat vasokonstriksi (NSAID, vasopresor jika memungkinkan) 4
- Sebagian besar kasus bentuk non-gangrenous bersifat transien dan sembuh spontan tanpa komplikasi 2, 7
- Monitoring ketat termasuk tanda vital 4 kali sehari, chart feses, dan imaging serial jika dilatasi kolon >5.5 cm 4
Tromboprofilaksis
- Low-molecular-weight heparin harus dimulai setelah perdarahan akut teratasi 4
- Penting terutama pada pasien dengan faktor risiko trombosis seperti penggunaan kontrasepsi oral 5
Gangrenous Ischemic Colitis
- Intervensi bedah urgent dan mortalitas tinggi adalah ciri khas gangrenous ischemic colitis 2, 7, 8
- Laparotomi dengan revaskularisasi usus iskemik (embolektomi atau bypass grafting), penilaian viabilitas usus setelah revaskularisasi, reseksi usus non-viable, dan perawatan intensif 1
- "Second look" operations yang dijadwalkan 24-48 jam setelah prosedur awal adalah cara terbaik untuk menghindari reseksi berlebihan dari usus yang berpotensi viable dan kegagalan mereseksi usus non-viable 1
- Mortalitas rata-rata sekitar 70% meskipun dengan terapi 1
Monitoring Respons Terapi
- Respons harus ditentukan dengan kombinasi parameter klinis, endoskopi, dan penanda laboratorium seperti CRP dan fecal calprotectin 6
- Endoskopi follow-up menunjukkan perbaikan lesi yang signifikan pada kasus yang merespons terapi konservatif 3
- Pada pasien yang merespons secara klinis, penyembuhan mukosa harus dinilai secara endoskopi atau dengan fecal calprotectin sekitar 3-6 bulan setelah inisiasi terapi 6
Pitfall yang Harus Dihindari
- Diagnosis sering tertunda karena gejala awal hanya nyeri abdomen dengan sedikit temuan fisik; pada saat diagnosis jelas (distensi abdomen, perforasi, syok), iskemia sudah sangat lanjut dan survival meragukan 1
- Pasien ICU dengan ischemic colitis sering under-diagnosed karena komorbiditas paralel dan sifat gejala yang tidak spesifik yang meniru hampir semua patologi abdomen 9
- Pasien yang tersedasi atau terventilasi dapat menutupi banyak fitur karakteristik ischemic colitis dan membuat diagnosis menantang 9
- Jangan fokus hanya pada penyebab vaskular dan melewatkan kondisi underlying seperti hypereosinophilic syndrome yang dapat menyebabkan trombosis 4
Prognosis
- Bentuk non-gangrenous transient biasanya hanya memerlukan manajemen medis dan berhubungan dengan prognosis baik 2, 7
- Subtipe kronis dapat menyebabkan sekuele berupa kolitis segmental persisten atau striktur kolon yang kadang memerlukan pembedahan 2
- Tanpa terapi, ischemic colitis akut akibat obstruksi arteri intestinal hampir selalu fatal, menyebabkan infark, perforasi, peritonitis, dan kematian 1