What anticoagulant is recommended for an elderly female patient with DVT affecting the femoral and popliteal veins, impaired renal function, and a high bleeding risk?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: January 20, 2026View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Antikoagulan untuk Pasien Lansia dengan DVT Femoral-Popliteal, Risiko Perdarahan Tinggi, dan Gangguan Ginjal

Pada pasien ini dengan eGFR 30,2 mL/menit dan skor IMPROVE bleeding 8 (risiko perdarahan tinggi), hindari DOAC dan gunakan unfractionated heparin (UFH) 5000 unit subkutan setiap 8 jam sebagai antikoagulan pilihan, dengan monitoring ketat tanda perdarahan. 1

Mengapa Bukan DOAC?

Pedoman American Society of Hematology 2020 secara eksplisit menyatakan bahwa rekomendasi DOAC tidak berlaku untuk pasien dengan insufisiensi ginjal (creatinine clearance <30 mL/min). 1

  • Apixaban: Label FDA menyatakan tidak ada data klinis pada pasien dengan CrCl <15 mL/min, dan data terbatas pada CrCl 15-30 mL/min 2
  • Rivaroxaban: Label FDA secara eksplisit menyatakan ada data klinis terbatas pada pasien dengan CrCl 15 hingga <30 mL/min, dan harus dihindari pada CrCl <15 mL/min 3
  • Dengan eGFR 30,2 mL/menit, pasien ini berada di zona abu-abu dimana keamanan DOAC tidak terjamin 1

Mengapa Bukan LMWH?

Meskipun LMWH (enoxaparin) biasanya lebih superior daripada UFH untuk DVT, pada pasien lansia dengan gangguan ginjal berat, LMWH terakumulasi dan meningkatkan risiko perdarahan. 1, 4

  • Pedoman trauma geriatri 2024 merekomendasikan UFH pada pasien dengan gagal ginjal, bukan LMWH 1
  • Dosis enoxaparin harus disesuaikan pada gangguan ginjal, tetapi dengan risiko perdarahan tinggi (IMPROVE bleeding score 8), margin keamanan sangat sempit 4

Protokol Antikoagulasi yang Direkomendasikan

Fase Akut (5-10 hari pertama):

  • UFH 5000 unit subkutan setiap 8 jam 1
  • Monitoring: aPTT setiap hari, target 1,5-2,5 kali kontrol 4
  • Evaluasi tanda perdarahan setiap hari (hemoglobin, hematokrit, tanda vital) 3
  • Hitung trombosit setiap 2-3 hari untuk deteksi HIT (heparin-induced thrombocytopenia) 5

Transisi ke Terapi Jangka Panjang:

  • Setelah 5-7 hari UFH dan kondisi stabil, pertimbangkan transisi ke warfarin dengan target INR 2,0-3,0 1, 4
  • Overlap UFH dengan warfarin minimal 5 hari dan sampai INR terapeutik selama 24 jam 2
  • Monitoring INR lebih ketat pada lansia (setiap 3-7 hari awal, kemudian setiap 2-4 minggu) 1, 4

Durasi Terapi

Berikan antikoagulasi selama 3 bulan, kemudian hentikan. 6

  • Pedoman berbasis cost-effectiveness modeling menunjukkan bahwa pada pasien ≥80 tahun, antikoagulasi lebih dari 3 bulan memiliki rasio risiko-manfaat yang tidak menguntungkan 6
  • Dengan risiko perdarahan tinggi (IMPROVE bleeding score 8), perpanjangan terapi meningkatkan risiko perdarahan mayor secara signifikan 1

Pertimbangan Khusus untuk Pasien Ini

Kontraindikasi Trombolisis:

  • Meskipun DVT melibatkan vena femoral dan popliteal (proksimal), trombolisis tidak diindikasikan karena risiko perdarahan tinggi 1
  • Pedoman ASH 2020 menyatakan trombolisis hanya untuk pasien dengan risiko perdarahan rendah dan DVT yang mengancam ekstremitas (phlegmasia cerulea dolens) 1

Monitoring Fungsi Ginjal:

  • Evaluasi ulang eGFR setiap 1-2 minggu selama fase akut 3
  • Jika eGFR turun <15 mL/menit, pertimbangkan hentikan antikoagulasi atau konsultasi nefrologi 3

Faktor Risiko Jatuh:

  • Pada pasien lansia, evaluasi risiko jatuh karena dapat meningkatkan risiko perdarahan intrakranial 6, 7
  • Pertimbangkan fisioterapi dan modifikasi lingkungan rumah 6

Peringatan Penting: Kesalahan yang Harus Dihindari

  • Jangan gunakan DOAC pada eGFR <30 mL/min tanpa konsultasi spesialis 1, 3
  • Jangan gunakan LMWH dosis penuh pada gangguan ginjal berat tanpa monitoring anti-Xa 1, 4
  • Jangan lakukan trombolisis pada pasien dengan risiko perdarahan tinggi 1
  • Jangan berikan warfarin tanpa bridging dengan heparin terlebih dahulu 2, 4
  • Jangan abaikan penurunan trombosit >50% yang dapat mengindikasikan HIT 5
  • Jangan perpanjang antikoagulasi >3 bulan pada pasien lansia dengan risiko perdarahan tinggi tanpa alasan kuat 6

References

Guideline

Guideline Directed Topic Overview

Dr.Oracle Medical Advisory Board & Editors, 2025

Guideline

Heparin-Induced Thrombocytopenia Management

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2026

Guideline

Anticoagulation for Elderly Patients with Extensive Proximal DVT

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Guideline

Restarting Anticoagulation in Elderly Patients with Prior DVT

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.