Prognosis dan Penatalaksanaan CMT Tipe 2
Prognosis
CMT tipe 2 memiliki prognosis yang relatif baik dengan perburukan yang lambat, namun menunjukkan disabilitas yang lebih berat dibandingkan CMT tipe 1 pada usia yang sama. 1
Perjalanan Penyakit
- Studi prospektif 5 tahun menunjukkan deteriorasi kekuatan otot yang lambat namun konsisten, dengan skor kekuatan motorik menurun dari median 135 menjadi 128 poin (dari maksimal 140 poin) 1
- Perburukan tidak pernah bersifat cepat atau dramatis 1
- Tidak terdapat deteriorasi sensorik yang signifikan selama follow-up 5 tahun 1
- Skor Rankin menurun 1 poin pada 37% pasien, menunjukkan peningkatan disabilitas bertahap 1
- Sebagian besar pasien tetap dapat berjalan (ambulant), meskipun lebih banyak yang memerlukan alat bantu jalan seiring waktu 1
Karakteristik Klinis yang Mempengaruhi Prognosis
- CMT2 menunjukkan kelemahan dorsifleksi ankle yang lebih berat (31.9 ± 30.9 N) dibandingkan CMT1 (80.4 ± 37.4 N), yang secara signifikan mempengaruhi pola gait 2
- Kelemahan plantarfleksi juga cenderung lebih berat pada CMT2 2
- CMT Pediatric Scale (CMTPedS) konsisten menunjukkan skor yang lebih tinggi (severitas penyakit lebih berat) pada CMT2 dibandingkan CMT1 pada usia yang sama 2
- Deformitas kaki seperti claw toes meningkat seiring waktu, sementara pes cavus dan otot betis yang pendek cenderung stabil 1
Faktor yang Tidak Mempengaruhi Prognosis
- Tidak ada korelasi antara kecepatan deteriorasi dengan usia pasien 1
- Kualitas hidup (diukur dengan RAND 36-item health survey) tidak menunjukkan perubahan signifikan selama follow-up 5 tahun 1
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan CMT tipe 2 bersifat suportif dan berbasis rehabilitasi, karena saat ini tidak ada terapi kuratif yang efektif. 3
Pendekatan Rehabilitasi (Pilar Utama Terapi)
1. Program Latihan
- Latihan aerobik dan penguatan terbukti efektif meningkatkan kekuatan dan kebugaran umum 4
- Latihan peregangan (stretching) cukup efektif dalam mempertahankan range of motion 4
- Program latihan harus fokus pada penguatan otot dorsifleksor dan plantarfleksor ankle, mengingat kelemahan signifikan pada area ini 5, 2
2. Terapi Okupasi
- Terapi okupasi merupakan komponen penting untuk mempertahankan fungsi ekstremitas atas dan aktivitas sehari-hari 3
3. Alat Ortotik (Mainstay Treatment)
- Alat ortotik adalah pilar utama untuk mempertahankan mobilitas, ambulasi, dan fungsi ekstremitas atas 4
- Ortosis ankle-foot (AFO) sangat penting untuk mengatasi foot drop dan meningkatkan stabilitas gait 4
- Pemilihan ortotik harus disesuaikan dengan derajat kelemahan ankle dan pola gait individual 2
Manajemen Gejala Spesifik
Gangguan Keseimbangan
- Pada penyakit ringan, instabilitas terutama disebabkan oleh kelemahan dorsifleksor dan plantarfleksor 5
- Pada penyakit sedang hingga berat, selain kelemahan otot tungkai, hilangnya propriosepsi berkontribusi pada gangguan keseimbangan 5
- Intervensi harus mencakup latihan keseimbangan dan penggunaan alat bantu jalan sesuai kebutuhan 5
Manajemen Nyeri dan Fatigue
- Pengobatan nyeri dan kelelahan harus dilakukan secara teratur sesuai dengan severitas penyakit 3
Follow-up dan Monitoring
- Follow-up teratur diperlukan dengan frekuensi disesuaikan dengan severitas penyakit 3
- Evaluasi berkala harus mencakup:
- Penilaian kekuatan otot (manual muscle testing)
- Evaluasi fungsi gait dan keseimbangan
- Penilaian disabilitas menggunakan skala terstandar (modified Rankin scale, CMTPedS)
- Evaluasi kebutuhan alat bantu dan ortotik 1
Terapi Eksperimental (Belum Tersedia untuk Praktik Klinis)
- Terapi genetik untuk membungkam gen seperti PMP22 atau mengekspresikan GJB1 sedang dalam penelitian 3
- Molekul yang menjanjikan termasuk inhibitor aksis NRG-1 dan modulator UPR atau enzim HDAC family 3
- Saat ini belum ada terapi ini yang tersedia untuk penggunaan klinis rutin 3
Peringatan Penting
- Intervensi bedah memiliki hasil yang problematis dan harus dipertimbangkan dengan hati-hati 4
- Rehabilitasi tetap menjadi peran utama dalam penatalaksanaan mengingat tidak adanya pengobatan medis kuratif 4
- Meskipun terjadi perburukan bertahap, sebagian besar pasien mempertahankan ambulasi dengan dukungan yang tepat 1