Pendekatan Diagnostik Demam Tifoid
Untuk mendiagnosis demam tifoid, prioritas utama adalah kultur darah (sensitivitas 40-80%) yang harus diambil SEBELUM antibiotik dimulai, dikombinasikan dengan pemeriksaan fisik sistematis mencari hepatosplenomegali, nyeri abdomen, dan tanda-tanda komplikasi neurologis. 1, 2
Kesadaran
- Nilai tingkat kesadaran menggunakan Glasgow Coma Scale 3
- Perhatikan adanya altered mental status, confusion, atau delirium - terjadi pada kasus berat dan merupakan indikasi untuk steroid 1, 4
- Obtundation atau penurunan kesadaran dapat menandakan komplikasi ensefalopati tifoid atau syok septik 4, 5
- Kejang dapat terjadi pada komplikasi neurologis 5
Tanda Vital
- Suhu: Demam tinggi persisten (>38°C) adalah karakteristik utama 3, 4
- Tekanan darah: Monitor untuk hipotensi yang menandakan syok septik (contoh: 100/60 mmHg atau lebih rendah) 3, 6
- Nadi: Takikardia (>100-120 bpm) sering ditemukan pada sepsis 3
- Frekuensi napas: Evaluasi untuk distress pernapasan atau ARDS pada kasus berat 4
Pemeriksaan Fisik Kepala, Leher, Thorax, Abdomen, Ekstremitas
Kepala dan Leher
- Periksa mukosa oral untuk lesi atau infeksi fungal (komplikasi jarang) 5
- Evaluasi limfadenopati sebagai bagian dari diagnosis banding 3
Thorax
Abdomen
- Nyeri epigastrium atau kuadran kanan atas dengan palpasi dalam - temuan khas 3
- Hepatosplenomegali - temuan penting yang mendukung diagnosis tifoid 3
- Evaluasi nyeri tekan abdomen difus dan tanda peritonitis 4, 6
- Tidak ada rebound tenderness pada kasus tanpa komplikasi 3
- Perhatikan distensi abdomen yang dapat menandakan perforasi usus 2
Ekstremitas
- Periksa rose spots (ruam makulopapular) - jarang terlihat tapi spesifik 3
- Evaluasi eritema difus atau scabs pada kulit 3
Pemeriksaan Fisik Tambahan/Khusus untuk Diagnosis Demam Tifoid
CATATAN PENTING: Pertanyaan ini menanyakan kolesistitis, tetapi diagnosis yang dimaksud adalah demam tifoid. Tidak ada pemeriksaan khusus seperti Murphy sign untuk tifoid.
Pemeriksaan Spesifik Tifoid:
- Palpasi hati dan limpa secara sistematis untuk hepatosplenomegali 3
- Evaluasi neurologis lengkap termasuk tanda meningismus, cranial nerve palsies, atau focal weakness pada kasus dengan komplikasi SSP 1
- Pemeriksaan kulit menyeluruh untuk rose spots atau ruam 3
Diagnosis Banding
- Malaria - HARUS disingkirkan pada semua pelancong dari daerah tropis dengan demam 3, 1
- Dengue - limfopenia dan trombositopenia serupa dengan tifoid 3
- Infeksi HIV akut - dapat menyebabkan limfopenia 3
- Sepsis bakterial lain dengan atau tanpa DIC 3
- Meningitis/ensefalitis (viral atau bakterial) 3
- Kolesistitis akut - nyeri abdomen dan demam 3
- Toxic shock syndrome - ruam dengan kegagalan multi-organ 3
- TTP - gagal ginjal akut dengan demam, altered mental status, dan trombositopenia 3
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan WAJIB (Prioritas Tertinggi):
Film Malaria dan Rapid Diagnostic Test (RDT) - WAJIB pada semua pasien dari daerah tropis 3, 1
- Lakukan 3 kali dalam 72 jam untuk menyingkirkan malaria dengan pasti 3
Urea & Elektrolit (U&E) dan Liver Function Tests (LFTs) 3, 1
Pemeriksaan Tambahan Berdasarkan Klinis:
Urinalysis 3
- Proteinuria dan hematuria (untuk menyingkirkan leptospirosis) 3
Ultrasound Abdomen 3
Serum untuk serologi (simpan untuk pemeriksaan lanjutan jika diperlukan) 3
Jika Ada Komplikasi Neurologis:
CT Scan Kepala - untuk menyingkirkan edema serebral atau komplikasi SSP 3, 5
Lumbar Puncture - jika dicurigai meningitis/ensefalitis 3
- Dapat menunjukkan pleositosis limfositik pada 50% kasus tifoid dengan komplikasi SSP 1
Pemeriksaan yang TIDAK Direkomendasikan:
- Widal Test - JANGAN GUNAKAN untuk diagnosis karena spesifisitas rendah (68.44%) dan positive predictive value sangat buruk (5.7%) 2
Pemeriksaan Lanjutan (Jika Tersedia):
- Kultur sumsum tulang - sensitivitas lebih tinggi (35-65%) dibanding kultur darah, tetapi invasif 1
- PCR untuk Salmonella Typhi - jika tersedia 3
Peringatan Penting
- Mayoritas infeksi tropis menjadi simptomatik dalam 21 hari setelah paparan 1
- Pengobatan dini menghasilkan outcome lebih baik dibanding pengobatan tertunda 1
- Komplikasi terjadi pada 10-15% pasien termasuk perdarahan GI, perforasi usus, dan ensefalopati tifoid 2
- Perforasi usus biasanya terjadi pada pasien dengan durasi penyakit >2 minggu 2