Klasifikasi Analgetik
Analgetik diklasifikasikan menjadi tiga kategori utama berdasarkan mekanisme kerja dan potensi: (1) analgetik non-opioid, (2) opioid lemah, dan (3) opioid kuat, yang diorganisir dalam tangga analgetik WHO tiga tingkat sesuai intensitas nyeri. 1
1. Analgetik Non-Opioid (WHO Level 1)
Digunakan untuk nyeri ringan hingga sedang dengan skor NRS <3 dari 10. 1
Asetaminofen (Parasetamol)
- Lini pertama untuk nyeri ringan hingga sedang dengan dosis 1 gram setiap 4-6 jam, maksimal 4 gram/hari 1
- Dapat dikombinasikan dengan opioid pada semua tingkat tangga WHO 1
- Hati-hati pada pasien dengan gagal hati karena risiko hepatotoksisitas 1
Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid (OAINS)
- Direkomendasikan khusus untuk nyeri inflamasi, terutama nyeri tulang 1
- Efektif untuk semua intensitas nyeri setidaknya dalam jangka pendek 1
- Kontraindikasi absolut: tidak boleh digunakan bersamaan dengan metotreksat 1
- Perhatian khusus: risiko pada kemoterapi nefrotoksik (terutama cisplatin) atau mielotoksik 1
- Jika muncul gejala gastrointestinal, pertimbangkan penghentian OAINS dan/atau pemberian proton pump inhibitor 1
- Pada pasien lanjut usia, OAINS harus digunakan dengan hati-hati karena risiko gagal ginjal akut dan komplikasi gastrointestinal 1
Catatan Penting
- Inhibitor COX-2 belum dievaluasi dalam uji klinis untuk nyeri kanker 1
- Dipyrone tidak disarankan kecuali situasi khusus karena efek samping serius yang tidak dapat diprediksi 1
2. Opioid Lemah (WHO Level 2)
Digunakan untuk nyeri sedang dengan skor NRS 3-6 dari 10. 1
Karakteristik Umum
- Dapat digunakan sendiri atau dikombinasikan dengan analgetik level 1 1
- Pilihan obat meliputi: kodein, dekstropropoksifen, dihidrokodein, tramadol 1
Pertimbangan Khusus per Obat
Tramadol:
- Kontraindikasi absolut: tidak boleh dikombinasikan dengan inhibitor monoamine oksidase 1
- Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan risiko epilepsi dan saat dikombinasikan dengan antidepresan 1
Dekstropropoksifen:
- Tidak boleh dikombinasikan dengan karbamazepin karena meningkatkan konsentrasi plasma karbamazepin 1
Kodein:
- Konstipasi harus selalu diantisipasi dengan pemberian laksatif rutin 1
3. Opioid Kuat (WHO Level 3)
Digunakan untuk nyeri sedang hingga berat dengan skor NRS >6 dari 10. 1
Klasifikasi Berdasarkan Aksi Reseptor
Opioid dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori: 1
- Agonis murni (pure agonist)
- Agonis-antagonis parsial (partial agonist-antagonist)
- Agonis-antagonis campuran (mixed agonist-antagonist)
Peringatan kritis: Obat dari kategori berbeda tidak boleh diresepkan bersamaan 1
Morfin sebagai Lini Pertama
- Morfin oral adalah opioid kuat lini pertama pilihan kecuali dalam situasi khusus 1, 2
- Harus diberikan tanpa penundaan pada pasien yang nyerinya tidak terkontrol dengan terapi tingkat 1 dan 2 1, 2
- Dosis awal untuk pasien opioid-naif: 20-40 mg oral 2
- Untuk relief cepat atau rute oral tidak tersedia: morfin parenteral 5-10 mg IV atau SC 2
Formulasi dan Administrasi
- Rute oral lebih disukai bahkan untuk nyeri berat 2
- Bentuk oral: tablet atau kapsul morfin sulfat immediate-release, sustained-release, atau larutan morfin hidroklorida 1
- Analgesik harus diberikan secara terjadwal, bukan "bila perlu" untuk kontrol nyeri dasar 2
- Dosis rescue (10% dari total dosis opioid harian sebagai formulasi IR) harus diresepkan untuk episode breakthrough pain 2
Opioid Kuat Alternatif
- Oksikodon 20 mg oral (1,5-2 kali lebih poten dari morfin oral) 2
- Hidromorfon 8 mg oral (7,5 kali lebih poten dari morfin oral) 2
- Fentanyl IV atau buprenorfin untuk pasien dengan gangguan ginjal (eGFR <30 mL/min) 2
Rute Alternatif
- Ketika administrasi oral tidak memungkinkan, rute yang disukai adalah transdermal (misalnya fentanyl) atau parenteral kontinyu dengan patient-controlled analgesia 1
- Fentanyl transdermal tidak boleh digunakan untuk titrasi cepat, hanya setelah nyeri terkontrol dengan opioid lain 2
4. Analgetik Adjuvan (Koanalgetik)
Dapat digunakan bersamaan pada setiap tingkat tangga analgetik WHO. 1
Kategori Utama
Analgetik adjuvan didefinisikan sebagai obat dengan indikasi primer selain nyeri yang memiliki sifat analgesik dalam kondisi nyeri tertentu. 3
Adjuvan multipurpose: 3
- Antidepresan
- Kortikosteroid
- Agonis alfa-2 adrenergik
- Neuroleptik
Spesifik untuk nyeri neuropatik: 3
- Antikonvulsan
- Anestesi lokal
- Antagonis reseptor N-methyl-D-aspartate
Spesifik untuk nyeri tulang: 3
- Kalsitonin
- Bisfosfonat
- Radiofarmaka
Spesifik untuk nyeri muskuloskeletal: 3
- Relaksan otot
Prinsip Manajemen Kritis
Profilaksis Wajib
- Laksatif harus diresepkan secara rutin untuk semua pasien yang menggunakan opioid untuk mencegah konstipasi 2
- Antiemetik (metoklopramid atau antidopaminergik) harus disediakan untuk mual/muntah akibat opioid 2
Pertimbangan Khusus Gangguan Ginjal
- Semua opioid harus digunakan dengan hati-hati pada dosis yang dikurangi pada pasien dengan gangguan ginjal 2
- Fentanyl dan buprenorfin adalah pilihan paling aman pada penyakit ginjal lanjut (stadium 4-5) 2
Kesalahan Umum yang Harus Dihindari
- Jangan menunda opioid kuat untuk nyeri berat - tangga WHO memungkinkan memulai pada tingkat 3 untuk nyeri sangat berat 2
- Opioid lemah (kodein, tramadol) tidak adekuat untuk nyeri berat 2
- Jangan meresepkan dua opioid sustained-release bersamaan 2
- Jangan menghentikan opioid secara tiba-tiba (terutama morfin oral) 1