How to diagnose and manage banding edema in a patient with potential underlying conditions like heart disease, kidney disease, or liver disease?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: January 22, 2026View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Diagnosis Banding Edema pada Pasien

Edema bilateral memerlukan pendekatan sistematis untuk membedakan antara penyebab kardiak, non-kardiak, dan obat-obatan, dengan prioritas menyingkirkan gagal jantung dan penyakit kardiopulmoner yang dapat meningkatkan mortalitas jika tidak terdeteksi. 1

Pendekatan Diagnostik Bertahap

Langkah 1: Kategorisasi Klinis Awal

Tentukan karakteristik edema:

  • Durasi: Akut (<72 jam) vs kronik (>3 minggu) 2
  • Distribusi: Unilateral vs bilateral 2, 3
  • Gejala penyerta: Dispnea, ortopnea, paroxysmal nocturnal dyspnea, nyeri dada 1

Langkah 2: Identifikasi Penyebab Non-Kardiak (Mimics)

Periksa secara sistematis untuk menyingkirkan penyebab non-kardiovaskular: 1

A. Penyakit Ginjal

  • Urinalisis untuk proteinuria (sindrom nefrotik jika protein/kreatinin >3.5 g/hari) 1, 3
  • Panel metabolik dasar untuk fungsi ginjal 3
  • Edema ginjal biasanya periorbital di pagi hari, kemudian menyebar ke ekstremitas 1

B. Penyakit Hati

  • USG abdomen untuk sirosis 1
  • Tes fungsi hati (albumin, bilirubin, transaminase) 3
  • Cari ascites, spider angioma, ikterus 1

C. Insufisiensi Vena Kronik

  • Duplex ultrasonography dengan reflux untuk diagnosis definitif 3
  • Cari varises, perubahan kulit (hiperpigmentasi, lipodermatosclerosis), ulkus vena 1
  • Penyebab paling umum edema bilateral pada lansia (42% kasus) 4, 5

D. Obat-Obatan (Sangat Sering Terlewatkan)

Review semua obat pasien untuk penyebab iatrogenik: 6, 7

  • Calcium channel blockers (terutama amlodipine): Penyebab tersering, lebih sering pada wanita 6, 7
  • Thiazolidinediones (pioglitazone, rosiglitazone): 3-5% pada monoterapi, meningkat drastis dengan insulin 6
  • NSAIDs: Retensi natrium/air, disfungsi ginjal 6, 7
  • Kortikosteroid: Retensi volume plasma 6
  • Vasodilator (hydralazine, minoxidil) 6
  • Terapi hormon (estrogen, kontrasepsi oral) 6, 7

Langkah 3: Evaluasi Kardiak Komprehensif

Jangan asumsikan semua edema dengan EF preserved adalah HFpEF—cari cardiac mimics: 1

A. Pemeriksaan Fisik Kardiak Spesifik

Cari tanda-tanda gagal jantung: 1, 6

  • Ortopnea dan paroxysmal nocturnal dyspnea
  • Peningkatan jugular venous pressure (JVP)
  • S3 gallop
  • Ronki paru bilateral
  • Hepatomegali dengan refluks hepatojugular

B. Laboratorium Kardiak

  • Brain natriuretic peptide (BNP) atau NT-proBNP: Jika elevated, lakukan ekokardiografi 3, 5
  • Troponin jika dicurigai sindrom koroner akut 3

C. Ekokardiografi dengan Doppler

Indikasi mutlak: 1, 5

  • Semua pasien ≥45 tahun dengan edema bilateral 5
  • BNP elevated 3
  • Gejala kardiopulmoner (dispnea, ortopnea) 1

Evaluasi ekokardiografi harus mencakup: 1, 8

  • Ejection fraction (EF)
  • Ketebalan dinding LV (septum dan posterior wall)
  • Fungsi diastolik (E/e' ratio)
  • Estimasi tekanan arteri pulmonalis (PASP) 8, 5
  • Penyakit katup (stenosis aorta, regurgitasi mitral) 8
  • Fungsi ventrikel kanan 1

Langkah 4: Identifikasi Cardiac Mimics Spesifik

Jika ekokardiografi abnormal, pertimbangkan: 1

A. Kardiomiopati Infiltratif

  • Cardiac amyloidosis: Penebalan dinding LV, carpal tunnel syndrome, lumbar spinal stenosis 1, 8
  • Workup: Monoclonal protein screen, technetium pyrophosphate scan 1
  • CMR untuk konfirmasi 1

B. Penyakit Katup

  • Stenosis aorta atau regurgitasi mitral 8
  • Evaluasi dengan ekokardiografi Doppler 8

C. Atrial Fibrillation dengan Rate Control Inadekuat

  • Dapat mempresipitasi gejala pada HFpEF 8
  • Periksa EKG dan Holter monitoring 8

D. Hipertensi Pulmonal

  • 33% pasien dengan edema bilateral memiliki hipertensi pulmonal 5
  • PASP >40 mmHg pada ekokardiografi 1, 8

Langkah 5: Diagnosis HFpEF by Exclusion

Jika mimics non-kardiak dan kardiak telah disingkirkan, diagnosis HFpEF ditegakkan dengan: 1

  • EF ≥50% 1
  • Bukti kongesti (klinis atau objektif) 1
  • Bukti disfungsi diastolik (E/e' elevated, PASP elevated) 1
  • Identifikasi komorbiditas yang berkontribusi: Hipertensi, diabetes, obesitas, atrial fibrillation, penyakit ginjal kronik 1

Pitfalls Kritis yang Harus Dihindari

Kesalahan Diagnostik Umum

  • Jangan langsung diagnosis insufisiensi vena tanpa evaluasi kardiopulmoner pada pasien ≥45 tahun: 71% klinisi salah diagnosis penyakit kardiopulmoner sebagai insufisiensi vena 5
  • Jangan abaikan hipertensi pulmonal: Ditemukan pada 42% pasien dengan edema bilateral, sering terlewatkan 5
  • Jangan lupa review obat-obatan: Penyebab iatrogenik sangat umum tetapi sering tidak teridentifikasi 6, 7, 4

Kesalahan Terapeutik

  • Jangan berikan diuretik empiris tanpa menentukan penyebab: Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit berat, deplesi volume, dan jatuh pada lansia 4, 3
  • Jangan tambahkan diuretik untuk edema akibat calcium channel blocker: Switch ke ACE inhibitor atau ARB lebih efektif 6, 7
  • Jangan lanjutkan thiazolidinedione jika gagal jantung berkembang: Harus dihentikan segera 6

Algoritma Praktis untuk Edema Bilateral

Pasien dengan dispnea dan/atau edema:

  1. Review obat-obatan → Hentikan penyebab iatrogenik 6, 7
  2. Pemeriksaan fisik lengkap → Cari tanda gagal jantung, penyakit hati, ginjal 1
  3. Lab dasar: BMP, LFT, TSH, BNP, urinalisis protein/kreatinin 3
  4. Jika ≥45 tahun ATAU BNP elevated ATAU gejala kardiopulmoner → Ekokardiografi dengan estimasi PASP 5, 8
  5. Jika ekokardiografi abnormal → Evaluasi cardiac mimics (amyloid, katup, AF) 1
  6. Jika suspek insufisiensi vena → Duplex ultrasonography dengan reflux 3
  7. Jika semua negatif → Diagnosis HFpEF, identifikasi komorbiditas 1

Nuansa Penting Berdasarkan Konteks Klinis

Pada wanita: Risiko lebih tinggi dari hipertensi, diabetes, obesitas sebagai faktor risiko HFpEF; edema akibat calcium channel blocker lebih sering 1, 6

Pada lansia (≥70 tahun): Risiko lebih tinggi edema akibat thiazolidinediones; presentasi atipikal gagal jantung lebih umum 6, 4

Pada pasien dengan CKD stage 4: Pertimbangkan cardiac amyloidosis jika ada penebalan dinding LV, carpal tunnel syndrome 1

References

Guideline

Guideline Directed Topic Overview

Dr.Oracle Medical Advisory Board & Editors, 2025

Research

Bilateral leg edema in an older woman.

Zeitschrift fur Gerontologie und Geriatrie, 2015

Research

Etiology and diagnosis of bilateral leg edema in primary care.

The American journal of medicine, 1998

Guideline

Medication-Induced Leg Swelling: Mechanisms and Management

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2026

Guideline

Physiologic and Pathologic Causes of Bipedal Edema

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Guideline

Exertional Desaturation in Patients with Asthma and HFpEF

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.