Diagnosis Banding Edema pada Pasien
Edema bilateral memerlukan pendekatan sistematis untuk membedakan antara penyebab kardiak, non-kardiak, dan obat-obatan, dengan prioritas menyingkirkan gagal jantung dan penyakit kardiopulmoner yang dapat meningkatkan mortalitas jika tidak terdeteksi. 1
Pendekatan Diagnostik Bertahap
Langkah 1: Kategorisasi Klinis Awal
Tentukan karakteristik edema:
- Durasi: Akut (<72 jam) vs kronik (>3 minggu) 2
- Distribusi: Unilateral vs bilateral 2, 3
- Gejala penyerta: Dispnea, ortopnea, paroxysmal nocturnal dyspnea, nyeri dada 1
Langkah 2: Identifikasi Penyebab Non-Kardiak (Mimics)
Periksa secara sistematis untuk menyingkirkan penyebab non-kardiovaskular: 1
A. Penyakit Ginjal
- Urinalisis untuk proteinuria (sindrom nefrotik jika protein/kreatinin >3.5 g/hari) 1, 3
- Panel metabolik dasar untuk fungsi ginjal 3
- Edema ginjal biasanya periorbital di pagi hari, kemudian menyebar ke ekstremitas 1
B. Penyakit Hati
- USG abdomen untuk sirosis 1
- Tes fungsi hati (albumin, bilirubin, transaminase) 3
- Cari ascites, spider angioma, ikterus 1
C. Insufisiensi Vena Kronik
- Duplex ultrasonography dengan reflux untuk diagnosis definitif 3
- Cari varises, perubahan kulit (hiperpigmentasi, lipodermatosclerosis), ulkus vena 1
- Penyebab paling umum edema bilateral pada lansia (42% kasus) 4, 5
D. Obat-Obatan (Sangat Sering Terlewatkan)
Review semua obat pasien untuk penyebab iatrogenik: 6, 7
- Calcium channel blockers (terutama amlodipine): Penyebab tersering, lebih sering pada wanita 6, 7
- Thiazolidinediones (pioglitazone, rosiglitazone): 3-5% pada monoterapi, meningkat drastis dengan insulin 6
- NSAIDs: Retensi natrium/air, disfungsi ginjal 6, 7
- Kortikosteroid: Retensi volume plasma 6
- Vasodilator (hydralazine, minoxidil) 6
- Terapi hormon (estrogen, kontrasepsi oral) 6, 7
Langkah 3: Evaluasi Kardiak Komprehensif
Jangan asumsikan semua edema dengan EF preserved adalah HFpEF—cari cardiac mimics: 1
A. Pemeriksaan Fisik Kardiak Spesifik
Cari tanda-tanda gagal jantung: 1, 6
- Ortopnea dan paroxysmal nocturnal dyspnea
- Peningkatan jugular venous pressure (JVP)
- S3 gallop
- Ronki paru bilateral
- Hepatomegali dengan refluks hepatojugular
B. Laboratorium Kardiak
- Brain natriuretic peptide (BNP) atau NT-proBNP: Jika elevated, lakukan ekokardiografi 3, 5
- Troponin jika dicurigai sindrom koroner akut 3
C. Ekokardiografi dengan Doppler
- Semua pasien ≥45 tahun dengan edema bilateral 5
- BNP elevated 3
- Gejala kardiopulmoner (dispnea, ortopnea) 1
Evaluasi ekokardiografi harus mencakup: 1, 8
- Ejection fraction (EF)
- Ketebalan dinding LV (septum dan posterior wall)
- Fungsi diastolik (E/e' ratio)
- Estimasi tekanan arteri pulmonalis (PASP) 8, 5
- Penyakit katup (stenosis aorta, regurgitasi mitral) 8
- Fungsi ventrikel kanan 1
Langkah 4: Identifikasi Cardiac Mimics Spesifik
Jika ekokardiografi abnormal, pertimbangkan: 1
A. Kardiomiopati Infiltratif
- Cardiac amyloidosis: Penebalan dinding LV, carpal tunnel syndrome, lumbar spinal stenosis 1, 8
- Workup: Monoclonal protein screen, technetium pyrophosphate scan 1
- CMR untuk konfirmasi 1
B. Penyakit Katup
C. Atrial Fibrillation dengan Rate Control Inadekuat
D. Hipertensi Pulmonal
- 33% pasien dengan edema bilateral memiliki hipertensi pulmonal 5
- PASP >40 mmHg pada ekokardiografi 1, 8
Langkah 5: Diagnosis HFpEF by Exclusion
Jika mimics non-kardiak dan kardiak telah disingkirkan, diagnosis HFpEF ditegakkan dengan: 1
- EF ≥50% 1
- Bukti kongesti (klinis atau objektif) 1
- Bukti disfungsi diastolik (E/e' elevated, PASP elevated) 1
- Identifikasi komorbiditas yang berkontribusi: Hipertensi, diabetes, obesitas, atrial fibrillation, penyakit ginjal kronik 1
Pitfalls Kritis yang Harus Dihindari
Kesalahan Diagnostik Umum
- Jangan langsung diagnosis insufisiensi vena tanpa evaluasi kardiopulmoner pada pasien ≥45 tahun: 71% klinisi salah diagnosis penyakit kardiopulmoner sebagai insufisiensi vena 5
- Jangan abaikan hipertensi pulmonal: Ditemukan pada 42% pasien dengan edema bilateral, sering terlewatkan 5
- Jangan lupa review obat-obatan: Penyebab iatrogenik sangat umum tetapi sering tidak teridentifikasi 6, 7, 4
Kesalahan Terapeutik
- Jangan berikan diuretik empiris tanpa menentukan penyebab: Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit berat, deplesi volume, dan jatuh pada lansia 4, 3
- Jangan tambahkan diuretik untuk edema akibat calcium channel blocker: Switch ke ACE inhibitor atau ARB lebih efektif 6, 7
- Jangan lanjutkan thiazolidinedione jika gagal jantung berkembang: Harus dihentikan segera 6
Algoritma Praktis untuk Edema Bilateral
Pasien dengan dispnea dan/atau edema:
- Review obat-obatan → Hentikan penyebab iatrogenik 6, 7
- Pemeriksaan fisik lengkap → Cari tanda gagal jantung, penyakit hati, ginjal 1
- Lab dasar: BMP, LFT, TSH, BNP, urinalisis protein/kreatinin 3
- Jika ≥45 tahun ATAU BNP elevated ATAU gejala kardiopulmoner → Ekokardiografi dengan estimasi PASP 5, 8
- Jika ekokardiografi abnormal → Evaluasi cardiac mimics (amyloid, katup, AF) 1
- Jika suspek insufisiensi vena → Duplex ultrasonography dengan reflux 3
- Jika semua negatif → Diagnosis HFpEF, identifikasi komorbiditas 1
Nuansa Penting Berdasarkan Konteks Klinis
Pada wanita: Risiko lebih tinggi dari hipertensi, diabetes, obesitas sebagai faktor risiko HFpEF; edema akibat calcium channel blocker lebih sering 1, 6
Pada lansia (≥70 tahun): Risiko lebih tinggi edema akibat thiazolidinediones; presentasi atipikal gagal jantung lebih umum 6, 4
Pada pasien dengan CKD stage 4: Pertimbangkan cardiac amyloidosis jika ada penebalan dinding LV, carpal tunnel syndrome 1