Diagnosis Banding dan Penegakan Diagnosis Acute Tubular Necrosis (ATN)
Diagnosis Banding Utama ATN
ATN harus dibedakan terutama dari prerenal AKI dan hepatorenal syndrome (HRS-AKI), karena pendekatan terapeutik ketiganya sangat berbeda. 1
1. Prerenal AKI (Azotemia Prerenal)
- Disebabkan oleh hipoperfusi ginjal tanpa kerusakan struktural 1
- Merespons baik terhadap resusitasi cairan dengan penurunan kreatinin serum ≥0.3 mg/dL dari baseline 1
- FENa biasanya <1% dan natrium urin <10 mEq/L 1, 2
- Sedimen urin bland (tidak ada cast atau sel tubular) 1, 3
2. Hepatorenal Syndrome-AKI (HRS-AKI)
- Terjadi pada pasien sirosis dengan ascites 1
- Tidak merespons ekspansi volume dengan albumin 1 g/kg selama 2 hari berturut-turut 1
- Tidak ada proteinuria (>500 mg/hari), tidak ada hematuria mikroskopik (>50 RBC/HPF) 1, 4
- USG ginjal normal, tidak ada tanda penyakit struktural 1
- FENa dapat <1% tetapi spesifisitas rendah (hanya 14%) pada sirosis 1
3. Acute Glomerulonephritis
- Ditandai dengan RBC dismorfik, RBC cast, dan proteinuria signifikan 4
- Hematuria mikroskopik >50 RBC/HPF 1, 4
- Proteinuria biasanya >500 mg/hari 4
4. Acute Interstitial Nephritis
- Riwayat paparan obat (antibiotik, NSAID, PPI) 5
- Eosinofil dalam urin (tidak selalu ada) 1
- Dapat memerlukan biopsi ginjal untuk konfirmasi 4
5. Obstruksi Postrenal
Cara Menegakkan Diagnosis ATN
A. Pemeriksaan Urinalisis dan Sedimen Urin (Paling Penting)
Temuan sedimen urin adalah kunci diagnosis ATN dan lebih spesifik daripada parameter biokimia. 3, 6
Temuan Karakteristik ATN:
- Renal tubular epithelial cells (RTEC) dalam jumlah banyak 3, 6
- Granular casts (muddy brown casts) 3, 6
- Renal tubular epithelial cell casts 3, 6
- Sistem skoring: Skor ≥2 (berdasarkan adanya cast dan RTEC) memiliki nilai prediktif positif sangat tinggi untuk ATN 3, 6
Proteinuria dan Hematuria:
- Proteinuria biasanya <500 mg/hari (tidak termasuk albuminuria signifikan) 4
- Tidak ada hematuria mikroskopik signifikan (<50 RBC/HPF) 1, 4
B. Parameter Biokimia Urin
Fractional Excretion of Sodium (FENa):
- FENa >1% menunjukkan ATN (kerusakan tubular dengan ketidakmampuan reabsorpsi natrium) 1, 2
- FENa <1% menunjukkan prerenal atau HRS 1
- Natrium urin >20 mEq/L (lebih spesifik >60 mEq/L) sangat sugestif ATN 4, 2
- Spesifisitas >85% untuk ATN 2
Catatan Penting: FENa dapat terganggu oleh diuretik 1, 2
Fractional Excretion of Urea (FEUrea):
- Lebih akurat daripada FENa pada pasien yang mendapat diuretik 1, 2
- FEUrea <28.16% atau <35% menunjukkan HRS atau prerenal 1, 2
- FEUrea >50% menunjukkan ATN 4, 2
- Sensitivitas 75% dan spesifisitas 83% untuk membedakan HRS dari non-HRS 1
Osmolalitas Urin:
- Osmolalitas urin rendah yang tidak sesuai (misalnya 220 mOsm/kg) pada pasien dehidrasi menunjukkan kerusakan tubular 2
C. Biomarker Tubular (Jika Tersedia)
Biomarker dapat meningkatkan akurasi diagnosis, terutama ketika temuan klinis meragukan. 1
Neutrophil Gelatinase-Associated Lipocalin (NGAL):
- NGAL urin >220-244 μg/g kreatinin membedakan ATN dari prerenal/HRS 1
- NGAL urin lebih baik daripada serum NGAL jika diukur 2 hari setelah fluid challenge 1
- Pada HRS-AKI, NGAL selalu jauh lebih rendah daripada ATN 1
- Dapat memprediksi mortalitas 90 hari 1
Biomarker Lain:
- Kidney Injury Molecule-1 (KIM-1) 1, 4
- Interleukin-18 (IL-18) 1, 4
- Liver fatty acid-binding protein (L-FABP) 1
- Semakin banyak biomarker yang meningkat, semakin besar kemungkinan ATN 1
D. Pencitraan
Ultrasonografi Ginjal:
- Ginjal berukuran normal dengan diferensiasi kortikomeduler yang terjaga menunjukkan AKI akut (bukan CKD) 4
- Menyingkirkan obstruksi postrenal (tidak ada hidronefrosis) 4, 2
- Ginjal echogenic kecil menunjukkan penyakit ginjal struktural kronik 1
CT/MRI:
- Umumnya tidak diperlukan untuk diagnosis ATN 4
- Dapat berguna untuk menyingkirkan penyebab AKI lainnya 4
E. Biopsi Ginjal
Biopsi ginjal tidak rutin diperlukan untuk diagnosis ATN tetapi dipertimbangkan jika diagnosis tetap tidak pasti setelah evaluasi non-invasif. 4
Temuan Histopatologi ATN:
- Hilangnya brush border pada tubulus proksimal 4
- Penipisan dan detasemen epitel tubular 4
- Cast dan debris dalam lumen tubular 4
- Perubahan glomerular atau vaskular minimal 4
Algoritma Diagnosis ATN
Langkah 1: Konfirmasi AKI
- Peningkatan kreatinin serum ≥0.3 mg/dL dalam 48 jam ATAU ≥50% dari baseline 1
- Monitor kreatinin serum harian 5
Langkah 2: Singkirkan Prerenal dan Postrenal
- Lakukan fluid challenge: Albumin 20% 1 g/kg (maksimal 100 g) selama 2 hari berturut-turut 1, 5, 2
- Target: penurunan kreatinin serum 0.3 mg/dL dari baseline 1, 2
- USG ginjal: Singkirkan obstruksi 4, 2
Langkah 3: Evaluasi Sedimen Urin
- Jika ada RTEC, granular casts, atau RTEC casts (skor ≥2): Diagnosis ATN sangat mungkin 3, 6
- Jika sedimen bland: Pertimbangkan prerenal atau HRS 1, 3
Langkah 4: Periksa Parameter Biokimia Urin
- FENa >1% dan natrium urin >20 mEq/L: Mendukung ATN 1, 2
- Jika pasien mendapat diuretik: Gunakan FEUrea (>50% mendukung ATN) 1, 4, 2
Langkah 5: Pada Pasien Sirosis
- Singkirkan infeksi: Kultur darah/urin, paracentesis diagnostik untuk SBP 1
- Periksa kriteria HRS-AKI: Tidak ada respons terhadap albumin, tidak ada proteinuria/hematuria, USG normal 1
- Pertimbangkan biomarker (NGAL): Jika tersedia untuk membedakan HRS dari ATN 1
Langkah 6: Identifikasi Penyebab ATN
- Nefrotoksik: Riwayat NSAID, aminoglikosida, kontras, cisplatin 5, 2, 7
- Iskemik: Syok kardiogenik, hipotensi, sepsis, gagal napas 7
- Campuran: Kombinasi faktor nefrotoksik dan iskemik 7
Pitfall yang Harus Dihindari
1. Keterbatasan FENa pada Sirosis
- FENa <1% memiliki sensitivitas 100% tetapi spesifisitas hanya 14% untuk prerenal AKI pada sirosis 1
- Gunakan FEUrea atau biomarker untuk akurasi lebih baik 1
2. Pengaruh Diuretik
- Diuretik dapat meningkatkan FENa secara artifisial 1, 2
- Hentikan diuretik dan gunakan FEUrea sebagai gantinya 1, 5, 2
3. Tidak Melakukan Pemeriksaan Sedimen Urin
- Sedimen urin adalah tes diagnostik paling berharga untuk ATN 3, 6
- Selalu periksa sedimen urin segar pada semua pasien AKI 3, 6
4. Menunggu Kreatinin ≥2.5 mg/dL
- Definisi lama HRS tipe 1 memerlukan kreatinin ≥2.5 mg/dL 1
- Diagnosis dan terapi harus dimulai lebih awal (stadium AKI 1-2) untuk hasil lebih baik 1