What is the safe volume of residual gastric content to initiate diet in an adult patient recovering from paralytic ileus and experiencing bloating?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: January 24, 2026View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Volume Residu Lambung yang Aman untuk Memulai Diet

Pada pasien dewasa yang pulih dari ileus paralitik dengan keluhan kembung, diet enteral dapat dimulai dengan aman ketika volume residu lambung (GRV) kurang dari 500 mL per 6 jam, dengan pemantauan ketat terhadap tanda-tanda intoleransi. 1, 2

Ambang Batas Volume Residu Lambung

  • Volume residu lambung normal harus kurang dari 200 mL ketika diperiksa setiap 4 jam pada pasien yang mendapat nutrisi enteral 3
  • Studi REGANE yang melibatkan 329 pasien ICU menunjukkan bahwa batas GRV 500 mL sama amannya dengan batas 200 mL, tanpa peningkatan komplikasi gastrointestinal atau pneumonia aspirasi 2
  • Pemberian nutrisi enteral harus ditunda ketika GRV melebihi 500 mL per 6 jam, dan dalam situasi ini, aplikasi prokinetik harus dipertimbangkan 1

Pertimbangan Khusus untuk Ileus Paralitik

  • Pasien dengan ileus paralitik harus tetap puasa (NPO) hingga ileus teratasi, karena pemberian makanan oral dikontraindikasikan pada kehadiran ileus dan dapat memperburuk distensi abdomen 4
  • Tanda-tanda resolusi ileus yang harus dinilai sebelum memulai diet meliputi: adanya flatus atau buang air besar, berkurangnya distensi abdomen, dan kembalinya bising usus 4
  • Setelah ileus teratasi dan pasien dapat mentoleransi pemberian oral, nutrisi enteral dini harus segera dimulai 4

Risiko Aspirasi dan Manajemen

  • Pasien dengan GRV melebihi 200 mL memerlukan tinjauan segera terhadap regimen pemberian makan dan tindakan pencegahan aspirasi, terutama jika pasien memiliki kesadaran menurun, refleks muntah yang buruk, atau trakeostomi 3
  • Risiko aspirasi meningkat signifikan ketika volume lambung melebihi 1,5 mL/kg berat badan dan pH lambung kurang dari 2,5 5
  • Posisi semi-recumbent (kepala ditinggikan minimal 30°) harus dipertahankan untuk mengurangi risiko aspirasi pneumonia dan refluks formula faringoesofageal 6

Protokol Inisiasi Diet Bertahap

Fase Persiapan

  • Pastikan tidak ada tanda-tanda obstruksi lambung, gastroparesis berat, atau akumulasi cairan masif yang memerlukan investigasi mendesak 3
  • Periksa GRV sebelum memulai diet; jika >500 mL, tunda pemberian dan pertimbangkan dekompresi nasogastrik 1, 4

Fase Inisiasi

  • Pada pasien dengan pankreatitis akut berat dan hipertensi intra-abdomen, inisiasi nutrisi enteral harus dimulai pada 20 mL/jam, meningkatkan kecepatan sesuai toleransi 1
  • Jika tekanan intra-abdomen (IAP) meningkat antara 15-20 mmHg, pertimbangkan pengurangan kecepatan nutrisi enteral ke 20 mL/jam 1
  • Nutrisi enteral harus dihentikan (sementara) pada pasien dengan IAP di atas 20 mmHg atau pada kehadiran sindrom kompartemen abdomen 1

Pemantauan Berkelanjutan

  • Lakukan pemeriksaan GRV serial setiap 4-6 jam setelah pemberian makan dimulai kembali 3, 2
  • Monitor status respirasi untuk tanda-tanda aspirasi, termasuk demam, desaturasi oksigen, dan gejala respirasi 3
  • Jika volume besar terus diaspirasi, lakukan pemantauan elektrolit karena kehilangan cairan lambung dapat menyebabkan alkalosis metabolik dan deplesi elektrolit 3

Manajemen Intoleransi Gastrik

Intervensi Prokinetik

  • Eritromisin intravena harus digunakan sebagai terapi prokinetik lini pertama pada dosis 100-250 mg tiga kali sehari selama 2-4 hari untuk pasien dengan intoleransi pemberian lambung 1
  • Alternatifnya, metoklopramid intravena (10 mg dua hingga tiga kali sehari) atau kombinasi metoklopramid dan eritromisin dapat digunakan 1
  • Efektivitas eritromisin atau prokinetik lain menurun hingga sepertiga setelah 72 jam dan harus dihentikan setelah tiga hari 1

Pertimbangan Rute Alternatif

  • Jika GRV besar (>500 mL) masih menetap setelah 24-48 jam terapi prokinetik, penggunaan pemberian post-pyloric harus dipertimbangkan daripada menahan nutrisi enteral, kecuali komplikasi abdomen baru (obstruksi, perforasi, distensi berat) dicurigai 1
  • Penempatan tube post-pyloric dikaitkan dengan pengurangan volume residu lambung dan refluks, meskipun uji coba yang cukup kuat tidak tersedia untuk mendukung pencegahan pneumonia aspirasi 6

Peringatan Penting

  • Jangan menggunakan pewarna makanan biru dengan pemberian enteral karena sensitivitasnya yang terbatas untuk aspirasi dan beberapa risiko mortalitas 6
  • Hindari penggunaan agen antimotilitas, obat antikolinergik, agen antidiare, dan opioid pada pasien dengan ileus yang sudah terbentuk 4
  • Pada pasien dengan kembung persisten, evaluasi untuk penyebab yang mendasari seperti stenosis pilorus, tumor, gastroparesis diabetik, atau komplikasi pasca operasi 3
  • Penerimaan GRV hingga 250 mL dapat meningkatkan volume formula yang diberikan tanpa meningkatkan komplikasi 6

References

Guideline

Guideline Directed Topic Overview

Dr.Oracle Medical Advisory Board & Editors, 2025

Guideline

Gastric Output Assessment and Management

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Guideline

Initial Management of Paralytic Ileus

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Guideline

Gastric Volume and pH Thresholds for Aspiration Risk

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.