Pengelolaan Pasien dengan Diabetes Melitus yang Tidak Terkontrol dan Hipokalemia
Jika pasien memiliki DM tidak terkontrol dengan hipokalemia, prioritas utama adalah koreksi kalium hingga ≥3 mEq/L SEBELUM memulai terapi insulin, karena insulin akan menurunkan kalium serum lebih lanjut dan dapat menyebabkan aritmia jantung yang fatal. 1, 2
Penilaian Awal yang Kritis
Pertama, tentukan apakah pasien mengalami ketoasidosis diabetik (KAD) atau hanya hiperglikemia tanpa komplikasi:
- Kriteria KAD: glukosa darah >250 mg/dL, pH arteri <7,3, bikarbonat serum <15 mEq/L, dan adanya ketonemia atau ketonuria 2
- Lakukan pemeriksaan laboratorium lengkap: glukosa plasma, elektrolit (dengan anion gap), kalium serum, fungsi ginjal, osmolalitas, analisis gas darah, urinalisis, keton urin, hitung darah lengkap, dan EKG 3, 1, 2
- EKG wajib dilakukan untuk menilai efek kardiak dari hipokalemia 1
Algoritma Pengelolaan Berdasarkan Kadar Kalium
Jika Kalium <3 mEq/L (Hipokalemia Berat):
JANGAN MULAI INSULIN - ini adalah kontraindikasi absolut 1, 2
- Mulai resusitasi cairan dengan NaCl 0,9% isotonik pada 15-20 mL/kg/jam untuk jam pertama 3, 1, 2
- Koreksi kalium agresif: berikan 20-40 mEq/L kalium dalam cairan IV (gunakan kombinasi 2/3 KCl atau kalium-asetat dan 1/3 KPO₄) 1, 2
- Pastikan fungsi ginjal adekuat (output urin memadai) sebelum pemberian kalium agresif 2
- Monitor kalium setiap 2 jam hingga mencapai ≥3 mEq/L 1, 2
- Baru mulai insulin setelah K⁺ ≥3 mEq/L dengan bolus IV 0,1 unit/kg insulin reguler, diikuti infus kontinu 0,1 unit/kg/jam 1
Peringatan Penting: Kasus hipokalemia berat pada presentasi KAD sangat jarang tetapi dapat fatal - satu laporan kasus menunjukkan pasien dengan K⁺ 1,3 mmol/L mengalami disritmia jantung dan memerlukan penundaan insulin selama 9 jam 4
Jika Kalium 3-5 mEq/L:
- Mulai insulin dengan protokol standar: bolus IV 0,1 unit/kg insulin reguler, kemudian infus kontinu 0,1 unit/kg/jam 1, 2
- Tambahkan 20-30 mEq/L kalium ke dalam cairan IV (2/3 KCl dan 1/3 KPO₄) setelah output urin terkonfirmasi 3, 1, 2
- Target kalium serum 4-5 mEq/L selama pengobatan 3, 2
- Monitor kalium setiap 2-4 jam karena insulin akan menurunkan kalium serum dengan cepat 3, 1, 2
Jika Kalium >5 mEq/L:
- Tahan pemberian kalium awalnya 2
- Mulai insulin sesuai protokol standar 2
- Monitor ketat karena kadar akan turun cepat dengan terapi insulin 2
Pengelolaan Cairan dan Insulin
Resusitasi Cairan:
- Jam pertama: NaCl 0,9% isotonik 15-20 mL/kg/jam (sekitar 1-1,5 L pada dewasa rata-rata) 3, 1, 2
- Setelah jam pertama: pilihan cairan tergantung status hidrasi dan elektrolit 2
- Ketika glukosa mencapai 200-250 mg/dL: ganti ke dekstrosa 5% dengan NaCl 0,45-0,75% sambil melanjutkan infus insulin untuk mencegah hipoglikemia dan memastikan resolusi ketoasidosis lengkap 3, 2
Terapi Insulin:
- Target penurunan glukosa: 50-75 mg/dL per jam 1, 2
- Jika glukosa tidak turun 50 mg/dL dalam jam pertama: periksa status hidrasi; jika memadai, gandakan laju infus insulin setiap jam hingga penurunan stabil tercapai 2
- Lanjutkan infus insulin hingga resolusi ketoasidosis (pH >7,3, bikarbonat ≥18 mEq/L, anion gap ≤12 mEq/L) terlepas dari kadar glukosa 3, 2
Kesalahan Umum yang Harus Dihindari
- Memulai insulin sebelum koreksi hipokalemia berat - ini adalah kesalahan paling berbahaya yang dapat menyebabkan aritmia fatal 1, 2, 4
- Deplesi kalium total tubuh universal pada KAD (rata-rata 3-5 mEq/kg berat badan) meskipun hanya sebagian kecil pasien yang datang dengan hipokalemia 2
- Menghentikan infus insulin tanpa pemberian insulin basal subkutan terlebih dahulu - berikan insulin basal (glargine atau detemir) 2-4 jam SEBELUM menghentikan infus IV untuk mencegah rekurensi ketoasidosis dan hiperglikemia rebound 3, 1, 5, 2
- Monitoring kalium tidak adekuat - hipokalemia adalah penyebab utama mortalitas pada KAD 2
- Menghentikan insulin terlalu dini ketika glukosa turun - ini menyebabkan ketoasidosis persisten atau memburuk 2
Pertimbangan Khusus untuk DM Tidak Terkontrol Tanpa KAD
Jika pasien memiliki hiperglikemia berat tanpa ketoasidosis:
- Untuk pasien rawat inap non-kritis: target glukosa 7,8-10,0 mmol/L (140-180 mg/dL) untuk sebagian besar pasien 3
- Regimen insulin subkutan dengan kombinasi insulin kerja pendek/cepat dan kerja menengah/panjang lebih tepat daripada infus IV 3
- Metformin tetap menjadi agen farmakologis awal yang disukai untuk DM tipe 2 jika dapat ditoleransi dan tidak ada kontraindikasi 3
- Intensifikasi terapi: jika monoterapi tidak mencapai target HbA1c dalam 3 bulan, tambahkan agen kedua 3
- SGLT-2 inhibitor menunjukkan penurunan HbA1c terbesar ketika ditambahkan sebagai agen ketiga pada pasien dengan kontrol suboptimal (HbA1c berkurang dari 9,29±1,84 menjadi 8,59±1,74 dalam 12 minggu) 6
Monitoring Selama Pengobatan
- Glukosa darah: setiap 2-4 jam 3, 1, 2
- Elektrolit serum, glukosa, BUN, kreatinin, osmolalitas, dan pH vena: setiap 2-4 jam 3, 1, 2
- Kalium serum: setiap 2-4 jam selama pengobatan aktif 2
- β-hidroksibutirat darah: metode yang disukai untuk monitoring resolusi KAD 1, 2
Transisi ke Insulin Subkutan
Ketika KAD teratasi (glukosa <200 mg/dL, bikarbonat ≥18 mEq/L, pH >7,3, anion gap ≤12 mEq/L) dan pasien dapat makan: