Pendekatan Diagnostik untuk Pasien dengan Kolik Abdomen Menyerupai Apendisitis Tanpa Murphy Sign
Pasien ini kemungkinan besar BUKAN mengalami kolesistitis akut karena Murphy sign negatif, dan harus segera menjalani CT abdomen-pelvis dengan kontras intravena untuk mengonfirmasi atau menyingkirkan apendisitis akut serta diagnosis alternatif lainnya. 1, 2
Klarifikasi Penting tentang Murphy Sign
Murphy sign adalah tanda spesifik untuk kolesistitis akut (peradangan kandung empedu), BUKAN untuk apendisitis. 1 Murphy sign positif terjadi ketika pasien menghentikan inspirasi secara tiba-tiba akibat nyeri saat palpasi kuadran kanan atas abdomen, yang menunjukkan kandung empedu yang meradang menyentuh tangan pemeriksa. 1, 3
- Tidak adanya Murphy sign pada pasien ini sebenarnya membantu menyingkirkan kolesistitis akut sebagai diagnosis, bukan apendisitis. 1
- Untuk apendisitis, tanda-tanda klinis yang relevan adalah Rovsing sign, psoas sign, obturator sign, nyeri tekan titik McBurney, dan rigiditas abdomen—bukan Murphy sign. 2, 3, 4
Algoritma Diagnostik yang Direkomendasikan
Langkah 1: Evaluasi Klinis dan Stratifikasi Risiko
Lakukan penilaian sistematis menggunakan kombinasi gejala, pemeriksaan fisik, dan laboratorium: 2, 4
Gejala klasik apendisitis yang harus dicari: 3, 5, 4
- Nyeri periumbilikal yang berpindah ke kuadran kanan bawah (tanda diskriminator terkuat)
- Anoreksia, mual, muntah intermiten
- Demam derajat rendah (30-80% kasus)
- Nyeri tekan kuadran kanan bawah dengan guarding
Pemeriksaan fisik kunci untuk apendisitis: 2, 3, 4
- Rovsing sign: Palpasi kuadran kiri bawah menimbulkan nyeri di kuadran kanan bawah
- Psoas sign: Nyeri saat ekstensi panggul kanan (menunjukkan apendiks retrosekal)
- Obturator sign: Nyeri saat rotasi internal panggul yang difleksikan (menunjukkan apendiks pelvik)
- Nyeri tekan titik McBurney: Lokasi 1/3 jarak dari spina iliaka anterior superior ke umbilikus
- Rigiditas abdomen dan nyeri lepas: Menunjukkan peritonitis yang sudah terjadi
Pemeriksaan laboratorium: 2, 4
- Leukosit dengan hitung jenis: Leukositosis >10.000/mm³ memiliki likelihood ratio positif 1.59-2.7
- C-reactive protein (CRP): CRP ≥10 mg/L memiliki likelihood ratio positif 4.24
- Kombinasi leukosit >10.000/mm³ DAN CRP ≥8 mg/L memiliki likelihood ratio positif 23.32 dan likelihood ratio negatif 0.03 (paling kuat)
Langkah 2: Gunakan Skor Klinis untuk Stratifikasi Risiko
Untuk pasien dewasa, gunakan AIR score atau Appendicitis Inflammatory Response score (bukan Alvarado score, yang tidak cukup spesifik untuk konfirmasi diagnosis): 2
- Risiko rendah: Pulangkan dengan follow-up 24 jam, minimal atau tanpa pemeriksaan tambahan
- Risiko sedang: Lakukan pencitraan diagnostik (CT atau USG)
- Risiko tinggi: Rujuk langsung ke ahli bedah dengan minimal pemeriksaan
Langkah 3: Pencitraan Diagnostik
Untuk pasien dewasa non-hamil dengan kecurigaan klinis sedang hingga tinggi: 1, 2, 5
- CT abdomen-pelvis dengan kontras intravena adalah modalitas pilihan pertama
- Sensitivitas: 96-100%
- Spesifisitas: 93-95%
- Kontras oral TIDAK diperlukan dan dapat menunda diagnosis
- CT sangat baik untuk mendeteksi apendisitis DAN diagnosis alternatif (gastroenteritis, kolitis, penyakit radang usus, massa adneksa, konstipasi, dll.)
Temuan CT yang menunjukkan apendisitis: 2, 5
- Diameter apendiks ≥7 mm
- Penebalan dinding apendiks
- Stranding lemak periapendikular
- Appendicolith (menunjukkan risiko perforasi lebih tinggi)
- Abses, udara ekstraluminal, atau defek enhancement dinding (menunjukkan apendisitis komplikata)
Untuk populasi khusus: 2
- Anak-anak dan remaja: USG sebagai modalitas pertama (sensitivitas 76%, spesifisitas 95%) untuk menghindari radiasi
- Wanita hamil: USG pertama, kemudian MRI tanpa kontras IV jika USG tidak konklusif (sensitivitas 94%, spesifisitas 96%)
- Pasien lansia: CT dengan kontras IV sangat direkomendasikan karena tingkat apendisitis komplikata dan mortalitas lebih tinggi
Langkah 4: Manajemen Berdasarkan Hasil Pencitraan
Jika CT mengonfirmasi apendisitis: 2, 6
- Berikan antibiotik spektrum luas segera (mencakup gram negatif aerob dan anaerob)
- Lakukan apendektomi sesegera mungkin (laparoskopi atau terbuka)
- Untuk apendisitis komplikata dengan abses besar, pertimbangkan drainase perkutan sebelum operasi
Jika CT negatif tetapi kecurigaan klinis tetap tinggi: 1, 2
- Observasi dan perawatan suportif dengan atau tanpa antibiotik
- Follow-up wajib dalam 24 jam karena risiko hasil false-negative yang terukur
- Pertimbangkan intervensi bedah jika kecurigaan klinis sangat tinggi meskipun pencitraan negatif
Jika CT menunjukkan diagnosis alternatif: 1
- Kelola sesuai dengan diagnosis yang ditemukan
- CT mengidentifikasi penyebab nyeri kuadran kanan bawah pada 94.3% kasus non-apendisitis
Peringatan Klinis Penting
Jangan mengandalkan pemeriksaan fisik saja untuk diagnosis: 2, 3
- Presentasi atipikal terjadi pada sekitar 50% pasien
- Triad klasik (nyeri berpindah, demam, leukositosis) hanya ada pada minoritas pasien
- Pasien lansia sering memiliki presentasi atipikal dengan tanda peritonitis yang lebih menonjol
Jangan menggunakan Alvarado score sendirian untuk mengonfirmasi apendisitis: 2
- Alvarado score berguna untuk menyingkirkan apendisitis (skor rendah), tetapi tidak cukup spesifik untuk konfirmasi
- Studi menunjukkan 8.4% pasien dengan apendisitis memiliki skor Alvarado <5
- Satu studi menemukan 72% pasien dengan skor sangat rendah (1-4) ternyata memiliki apendisitis
Waspada pada populasi khusus: 2, 3
- Wanita usia subur: Presentasi lebih atipikal, akurasi USG lebih rendah (tingkat false-positive 35.5% vs 6.2% pada pria)
- Pasien obesitas: Akurasi USG menurun signifikan (tingkat diagnosis salah 34.4% pada pria obesitas vs 6.2% pada pria non-obesitas)
- Pasien lansia: Presentasi lebih lambat dengan tingkat perforasi lebih tinggi, memerlukan ambang batas lebih rendah untuk pencitraan
Diagnosis alternatif yang harus dipertimbangkan jika Murphy sign negatif dan presentasi tidak khas: 1, 7, 8
- Epiploic appendagitis (dapat meniru apendisitis atau kolesistitis, self-limiting, terlihat pada CT sebagai massa lemak ovoid dengan rim hiperatensi)
- Gastroenteritis atau kolitis
- Penyakit radang usus
- Konstipasi
- Massa atau kista adneksa (pada wanita)
- Batu ureter (jika nyeri pinggang ada)