Can cilostazol be given with aspirin to a patient with a history of medulla oblongata infarct?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: February 3, 2026View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Cilostazol Dapat Diberikan Bersama Aspirin pada Pasien dengan Riwayat Infark Medula Oblongata

Ya, cilostazol dapat diberikan bersama aspirin untuk pasien dengan riwayat infark medula oblongata, dengan profil keamanan yang baik dan potensi manfaat tambahan dalam pencegahan stroke berulang. Kombinasi ini telah dipelajari secara ekstensif dalam populasi Asia dan menunjukkan tidak ada peningkatan risiko perdarahan yang signifikan dibandingkan terapi antiplatelet tunggal.1

Bukti Keamanan Kombinasi Cilostazol-Aspirin

  • Beberapa uji klinis acak (RCT) telah meneliti kombinasi cilostazol 200 mg/hari dengan aspirin pada pasien dengan stenosis arteri intrakranial simptomatik (ICAS), yang merupakan penyebab umum infark di sirkulasi posterior termasuk medula oblongata.1

  • Studi TOSS-1 dan TOSS-2 menemukan bahwa cilostazol plus aspirin sama amannya dengan aspirin tunggal atau kombinasi clopidogrel plus aspirin.1

  • Studi CATHARSIS melaporkan bahwa kombinasi cilostazol dan aspirin superior terhadap aspirin tunggal untuk pencegahan endpoint sekunder gabungan dari semua kejadian vaskular dan infark otak silent baru (10,7% versus 25%; P=0,04).1

  • Analisis subgrup dari studi CSPS menunjukkan bahwa pasien dengan ICAS yang menerima cilostazol plus aspirin atau clopidogrel memiliki angka stroke yang lebih rendah dibandingkan dengan monoterapi (4% versus 9,2%; HR, 0,47 [95% CI, 0,23–0,95]).1

Profil Keamanan Perdarahan

  • Penelitian menunjukkan bahwa cilostazol tidak meningkatkan waktu perdarahan ketika diberikan sendiri, berbeda dengan aspirin atau clopidogrel yang secara signifikan meningkatkan waktu perdarahan.2

  • Ketika cilostazol ditambahkan ke regimen aspirin/clopidogrel, tidak ada perpanjangan waktu perdarahan lebih lanjut yang diamati, menunjukkan profil keamanan yang baik.2

  • Studi CSPS 2 menunjukkan bahwa cilostazol dikaitkan dengan lebih sedikit kejadian hemoragik dibandingkan aspirin (0,77% versus 1,78%; HR 0,458,95% CI 0,296-0,711; p=0,0004).3

Dosis dan Pertimbangan Praktis

  • Dosis yang direkomendasikan: Cilostazol 100 mg dua kali sehari dikombinasikan dengan aspirin, dengan dosis aspirin tidak melebihi 150 mg/hari ketika digunakan dalam kombinasi.1

  • Onset manfaat muncul setelah 60-90 hari pengobatan, konsisten dengan efek pleiotropik cilostazol pada agregasi platelet, remodeling vaskular, aliran darah, dan lipid plasma.4

Peringatan dan Kontraindikasi Penting

  • Kontraindikasi absolut: Cilostazol dikontraindikasikan pada pasien dengan gagal jantung kongestif dari tingkat keparahan apapun, karena obat dengan efek farmakologis penghambat fosfodiesterase III telah menyebabkan penurunan kelangsungan hidup pada pasien dengan gagal jantung kelas III-IV.5

  • Efek samping yang perlu dimonitor: Sakit kepala (terjadi pada hingga 25% pasien dalam dua minggu pertama), pusing, palpitasi, takikardia, dan gejala gastrointestinal dapat menyebabkan penghentian obat pada sekitar 6% pasien.4, 3

  • Cilostazol dapat menyebabkan takiaritmia dan hipotensi, dan dapat memperburuk angina pektoris atau infark miokard pada pasien dengan penyakit jantung iskemik.6

Algoritma Penggunaan untuk Pasien Anda

  1. Konfirmasi tidak ada gagal jantung: Pastikan pasien tidak memiliki gagal jantung kongestif dari tingkat keparahan apapun sebelum memulai cilostazol.5

  2. Mulai dengan cilostazol 100 mg dua kali sehari ditambah aspirin 81-150 mg sekali sehari.1

  3. Monitor efek samping dalam 2 minggu pertama: Perhatikan khususnya sakit kepala, palpitasi, dan gejala gastrointestinal.4, 3

  4. Evaluasi respons setelah 60-90 hari: Manfaat penuh mungkin tidak terlihat sampai periode ini.4

  5. Pertimbangkan pemeriksaan hitung platelet dan sel darah putih secara berkala.6

Catatan Khusus untuk Populasi Non-Asia

  • Perlu dicatat bahwa sebagian besar studi dilakukan pada populasi Asia, dan banyak yang tidak tersamar (unblinded).1

  • Meskipun demikian, mekanisme aksi cilostazol yang berbeda dari aspirin (penghambat fosfodiesterase versus penghambat siklooksigenase) memberikan dasar farmakologis yang kuat untuk efek komplementer tanpa risiko perdarahan aditif.6, 2

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.