Kombinasi Aspirin dan Cilostazol untuk Pasien dengan Kelemahan Keempat Ekstremitas, Nyeri Kepala, DM, dan Hipertensi
Rekomendasi Utama
Kombinasi aspirin 100 mg 1x1 dan cilostazol 100 mg 1x1 TIDAK TEPAT untuk pasien ini karena diagnosis belum jelas dan cilostazol memiliki kontraindikasi absolut pada gagal jantung yang harus disingkirkan terlebih dahulu. 1, 2
Evaluasi Klinis yang Diperlukan
Sebelum memulai terapi antiplatelet, Anda harus:
Konfirmasi diagnosis stroke iskemik melalui CT scan atau MRI kepala untuk menyingkirkan perdarahan intrakranial, karena nyeri kepala dengan kelemahan ekstremitas dapat menunjukkan stroke hemoragik yang merupakan kontraindikasi absolut untuk antiplatelet 3, 4
Evaluasi fungsi jantung dengan ekokardiografi atau minimal pemeriksaan klinis untuk gagal jantung, karena cilostazol memiliki black-box warning dan kontraindikasi absolut pada gagal jantung dengan tingkat keparahan apapun 5, 1, 2
Periksa fungsi ginjal dan hati karena mempengaruhi keamanan terapi antiplatelet 5
Jika Diagnosis Stroke Iskemik Terkonfirmasi
Terapi Antiplatelet Primer
Pilih SATU antiplatelet saja untuk pencegahan sekunder:
- Aspirin 75-162 mg sekali sehari (Level A) 5, 1 ATAU
- Clopidogrel 75 mg sekali sehari (Level A) 1, 6, 7
Dual antiplatelet therapy (aspirin + clopidogrel) TIDAK direkomendasikan untuk pencegahan stroke jangka panjang karena meningkatkan risiko perdarahan tanpa manfaat kardiovaskular tambahan 5, 1, 6
Peran Cilostazol
Cilostazol BUKAN pengganti aspirin atau clopidogrel—fungsinya berbeda 1:
Cilostazol digunakan untuk klaudikasio intermiten (nyeri tungkai saat berjalan akibat penyakit arteri perifer), bukan untuk pencegahan stroke primer 5, 1, 2
Cilostazol dapat dipertimbangkan sebagai alternatif aspirin pada pasien stroke iskemik Asia dengan risiko tinggi perdarahan serebral (riwayat perdarahan intraserebral atau multiple microbleeds) 8, 4
Pada penelitian PICASSO, cilostazol mengurangi stroke hemoragik secara signifikan dibanding aspirin pada pasien dengan multiple microbleeds (HR 0.08,95% CI 0.01-0.61, p=0.01) 4
Kontraindikasi Absolut Cilostazol
JANGAN berikan cilostazol jika:
- Pasien memiliki gagal jantung dengan tingkat keparahan apapun (Class III Harm) 5, 1, 2
- Riwayat gagal jantung kongestif bahkan jika saat ini terkompensasi 6
Efek Samping Cilostazol
- 20-25% pasien menghentikan cilostazol dalam 3 bulan karena efek samping 1
- Efek samping tersering: nyeri kepala, diare, pusing, palpitasi 5, 1, 2
Terapi Komprehensif untuk DM dan Hipertensi
Kontrol Tekanan Darah
- Target tekanan darah <130/80 mmHg untuk pasien dengan diabetes dan stroke 5, 7
- ACE inhibitor atau ARB sebagai lini pertama untuk proteksi kardiovaskular 5, 7
Kontrol Glikemik
- Target HbA1c <7% untuk mengurangi komplikasi mikrovaskuler 7
- SGLT2 inhibitor atau GLP-1 receptor agonist dengan manfaat kardiovaskular terbukti untuk mengurangi kejadian kardiovaskular 7
Terapi Statin
- Statin intensitas tinggi untuk semua pasien stroke dengan DM, target LDL <55 mg/dL dengan reduksi ≥50% dari baseline 5, 7
Algoritma Keputusan untuk Kasus Ini
- Lakukan CT scan/MRI kepala segera → Jika perdarahan → JANGAN berikan antiplatelet
- Jika stroke iskemik terkonfirmasi → Evaluasi fungsi jantung
- Jika TIDAK ada gagal jantung:
- Jika ADA gagal jantung atau riwayat gagal jantung:
Peringatan Penting
- Dosis cilostazol yang benar adalah 100 mg 2x sehari, bukan 1x sehari seperti yang Anda tanyakan 5, 1, 2
- Kombinasi aspirin + cilostazol dapat meningkatkan risiko perdarahan meskipun penelitian menunjukkan cilostazol tidak meningkatkan perdarahan sebanyak aspirin 9, 8
- Pada pasien diabetes, cilostazol menunjukkan efek antiplatelet yang lebih kuat (reduksi PRI 35.1% lebih rendah dibanding non-diabetes, p=0.039) 9
- Cilostazol mengurangi rekurensi stroke pada pasien diabetes (RRR 64.4%, p=0.008) dan hipertensi (RRR 58.0%, p=0.003) 10