Perbedaan Tifoid dan Paratifoid
Tifoid dan paratifoid adalah penyakit demam enterik yang disebabkan oleh bakteri Salmonella yang berbeda—tifoid oleh Salmonella Typhi dan paratifoid oleh Salmonella Paratyphi (terutama tipe A)—dengan presentasi klinis yang hampir identik namun paratifoid cenderung lebih ringan, dan yang paling penting: vaksin yang tersedia saat ini hanya melindungi terhadap tifoid, bukan paratifoid. 1, 2, 3
Perbedaan Mikrobiologi dan Epidemiologi
Organisme Penyebab
- Tifoid disebabkan oleh Salmonella enterica serovar Typhi (S. Typhi), yang merupakan patogen utama demam enterik 2, 4
- Paratifoid disebabkan oleh Salmonella enterica serovar Paratyphi (terutama tipe A, juga tipe B dan C), yang merupakan kelompok sekunder penyebab demam enterik 2, 4
- Kedua organisme ini adalah "typhoidal Salmonella" yang beradaptasi ketat pada manusia dan berbeda dari Salmonella non-tifoid yang menyebabkan gastroenteritis 4, 5
Insidensi dan Distribusi
- Tifoid memiliki insidensi jauh lebih tinggi: 216 per 100.000 orang-tahun di daerah endemik seperti Bangladesh 6
- Paratifoid memiliki insidensi lebih rendah: 27 per 100.000 orang-tahun di area yang sama 6
- Namun, di kalangan pelancong, paratifoid menjadi semakin penting karena tidak ada perlindungan vaksin 1, 3
- Kedua penyakit paling sering terjadi pada anak usia 2-4 tahun, dengan insidensi tertinggi tifoid 887 per 100.000 orang-tahun dan paratifoid 72 per 100.000 orang-tahun 6
Perbedaan Presentasi Klinis
Keparahan Penyakit
- Tifoid dapat menyebabkan penyakit berat dan fatal jika tidak diobati, dengan komplikasi terjadi pada 10-15% pasien 7, 2
- Paratifoid umumnya merupakan bentuk penyakit yang lebih ringan tanpa komplikasi, meskipun kasus berat dengan disfungsi multiorgan dapat terjadi 2, 4
- Kedua penyakit secara klinis tidak dapat dibedakan berdasarkan gejala saja dan memerlukan konfirmasi laboratorium 2, 5
Gejala Klinis yang Sama
- Demam tinggi berkelanjutan (hadir pada 97-100% kasus) 7, 8
- Malaise, sakit kepala, dan anoreksia 7, 8
- Gejala gastrointestinal (konstipasi atau diare, muntah) 7, 8
- Masa inkubasi 7-18 hari (rentang 3-60 hari) untuk keduanya 7, 9
Perbedaan Resistensi Antibiotik
Pola Resistensi yang Berbeda Signifikan
- Tifoid menunjukkan prevalensi resistensi multidrug yang jauh lebih tinggi: 20,2% dari isolat 6
- Paratifoid memiliki resistensi multidrug yang sangat rendah: hanya 0,8% dari isolat (p<0,001) 6
- Resistensi fluorokuinolon meningkat pada tifoid, terutama dari Asia Selatan dan Tenggara, dengan resistensi asam nalidiksat meningkat dari 19% (1999) menjadi 59% (2008) 1
- Untuk kedua penyakit, sefalosporin generasi ketiga (seftriakson) saat ini direkomendasikan sebagai terapi lini pertama 2, 3
Perbedaan Krusial dalam Pencegahan
Ketersediaan Vaksin
- Tifoid: Dua vaksin tersedia—vaksin oral live-attenuated Ty21a (4 dosis, booster setiap 5 tahun) dan vaksin polisakarida parenteral (1 dosis, booster setiap 2 tahun), dengan efikasi 50-80% 1
- Paratifoid: TIDAK ADA vaksin yang tersedia untuk melindungi terhadap Salmonella Paratyphi A 1, 2
- Ini adalah perbedaan paling penting secara klinis karena pelancong yang divaksinasi tifoid tetap rentan terhadap paratifoid 1, 3
Implikasi untuk Pelancong
- Pelancong ke daerah endemik (terutama anak benua India, Asia Tenggara) harus diedukasi bahwa vaksinasi tifoid tidak melindungi dari paratifoid 1, 3
- Higiene makanan dan air yang konsisten tetap krusial untuk kedua penyakit karena vaksin tidak 100% efektif dan tidak ada perlindungan untuk paratifoid 1, 2
Diagnosis dan Konfirmasi
Metode Diagnostik Identik
- Kultur darah adalah gold standard untuk kedua penyakit, dengan sensitivitas tertinggi pada minggu pertama (40-80%) 7, 9
- Isolasi organisme dari darah, tinja, atau spesimen klinis lain diperlukan untuk konfirmasi 9
- Tes Widal TIDAK boleh digunakan untuk diagnosis karena kurangnya sensitivitas dan spesifisitas untuk kedua penyakit 9, 8
- Kultur sumsum tulang lebih sensitif daripada kultur darah, terutama jika antibiotik sudah diberikan 9
Peringatan Klinis Penting
- Jangan berasumsi bahwa vaksinasi tifoid memberikan perlindungan lengkap terhadap demam enterik—paratifoid tetap menjadi risiko 1, 3
- Kedua penyakit memerlukan terapi antibiotik segera setelah pengambilan kultur pada pasien dengan penyakit berat atau tanda sepsis 7, 8
- Faktor risiko identik untuk kedua penyakit: kurangnya toilet pribadi, air minum tidak aman, dan perjalanan ke daerah endemik 6
- Komplikasi serius (perforasi usus, perdarahan gastrointestinal, ensefalopati) dapat terjadi pada kedua penyakit meskipun lebih jarang pada paratifoid 7, 2, 4