Tidak, Jangan Puasakan ASI pada Bayi dengan Intoleransi Laktosa
Bayi dengan dugaan intoleransi laktosa yang mendapat ASI harus tetap dilanjutkan menyusui, dan ibu harus mengeliminasi produk susu sapi dari dietnya—bukan menghentikan ASI. 1, 2, 3
Perbedaan Penting: Intoleransi Laktosa vs Alergi Protein Susu Sapi
Pertama, penting untuk membedakan dua kondisi yang sering tertukar:
- Intoleransi laktosa primer pada bayi sangat jarang dan biasanya tidak muncul secara klinis sebelum usia 5 tahun 4
- Alergi protein susu sapi (CMPA) jauh lebih umum pada bayi dan sering salah didiagnosis sebagai intoleransi laktosa 4
- Protein susu sapi dari diet ibu dapat ditransfer melalui ASI dalam jumlah yang cukup untuk memicu reaksi alergi pada bayi yang sensitif 1, 2
- Mayoritas bayi dengan CMPA sebenarnya dapat mentoleransi laktosa, kecuali jika ada enteropati dengan defisiensi laktase sekunder 4
Algoritma Manajemen yang Benar
Langkah 1: Lanjutkan ASI + Eliminasi Diet Ibu
- Teruskan menyusui karena ini sesuai dengan rekomendasi pemberian makan bayi dan memberikan banyak manfaat 1, 3
- Ibu harus mengeliminasi semua produk susu sapi dan dairy dari dietnya, termasuk susu, keju, yogurt, mentega, dan sumber tersembunyi dalam makanan olahan 1
- Perbaikan gejala biasanya terjadi dalam 1-2 minggu setelah eliminasi diet ibu yang ketat 1, 2
- Konsultasi dengan ahli gizi direkomendasikan untuk memastikan kecukupan nutrisi ibu, terutama suplementasi kalsium 1, 2
Langkah 2: Monitor Respons Klinis
- Jika gejala membaik dengan eliminasi diet ibu, lanjutkan menyusui dengan diet ibu yang terbatas 3
- Setelah 1-2 minggu, lakukan rechallenge terkontrol dengan ibu mengonsumsi kembali dairy untuk mengkonfirmasi diagnosis 2, 3
- Jika gejala kambuh saat ibu konsumsi dairy dan hilang saat eliminasi, ini mengkonfirmasi diagnosis 2
Langkah 3: Kapan Mempertimbangkan Formula
Hanya pertimbangkan menghentikan ASI jika:
- Bayi gagal membaik meskipun eliminasi diet ibu yang ketat selama 2 minggu 1, 3
- Bayi mengalami failure to thrive 3
- Ibu tidak mampu mempertahankan diet eliminasi 1
Pilihan formula jika diperlukan:
- Lini pertama: Extensively hydrolyzed formula (eHF) berbasis kasein 3, 5
- Untuk kasus berat: Amino acid-based formula (AAF) 1, 3
- Jangan gunakan: Susu kambing, dombing (homologi protein tinggi dengan susu sapi) 1, 3
- Hati-hati dengan soy: 20-40% bayi dengan CMPA juga bereaksi terhadap soy 3, 5
Peringatan Penting dan Kesalahan Umum
Jangan Lakukan Ini:
- Jangan hentikan ASI secara prematur ketika diet eliminasi ibu dapat mengatasi gejala secara efektif 1
- Jangan terlalu restriktif dalam diet ibu melebihi eliminasi susu sapi yang terkonfirmasi, karena dapat mengganggu nutrisi ibu dan kemampuan menyusui 2, 3
- Jangan gunakan tes IgG spesifik makanan karena tidak berbasis bukti dan menyebabkan overdiagnosis 2
- Jangan diagnosis hanya berdasarkan pH tinja rendah (<6.0) atau reducing substances (>0.5%) tanpa gejala klinis yang jelas 6
Diagnosis Intoleransi Laktosa Sejati:
- Ditandai dengan diare yang lebih berat saat makanan mengandung laktosa diperkenalkan 6
- Bukan hanya berdasarkan temuan laboratorium tinja 6
Konteks Khusus: Diare Akut
Jika bayi mengalami diare akut (misalnya gastroenteritis):
- Bayi yang menyusui harus terus menyusui sesuai permintaan 6
- Intoleransi laktosa sekunder dapat terjadi (88% pada rotavirus), tetapi ini biasanya transien dan membaik dengan resolusi penyakit dasar 6, 4
- Untuk bayi dengan formula, gunakan formula bebas laktosa atau rendah laktosa segera setelah rehidrasi 6
- Jika intoleransi laktosa terjadi, terapi yang tepat adalah pengurangan sementara atau penghilangan laktosa dari diet, bukan penghentian ASI 6
Manajemen Jangka Panjang
- Reintroduksi protein susu sapi harus dilakukan di bawah supervisi medis, biasanya setelah 6-12 bulan eliminasi 1
- Waktu reintroduksi bervariasi berdasarkan keparahan gejala awal dan harus diindividualisasi 1
Kesimpulannya: ASI tetap diberikan, ibu yang mengeliminasi susu sapi—bukan sebaliknya.