From the Research
Perbedaan target hematokrit antara polistemia sekunder dan polisitemia vera sangat signifikan, dengan target hematokrit untuk polisitemia vera lebih rendah, yaitu di bawah 45%. Hal ini karena polisitemia vera adalah neoplasma mieloproliferatif dengan risiko trombotik yang lebih tinggi, sehingga memerlukan kontrol yang lebih ketat. Polisitemia sekunder, yang disebabkan oleh kondisi seperti hipoksia kronis atau penggunaan obat-obatan tertentu, umumnya memiliki risiko trombotik yang lebih rendah dibandingkan dengan bentuk primer. Pendekatan pengobatan juga berbeda, dengan polisitemia vera memerlukan jadwal flebotomi yang lebih agresif dan seringkali terapi sitoreduktif seperti hidroksiurea, sedangkan polisitemia sekunder fokus pada mengatasi penyebab yang mendasarinya sambil mempertahankan tingkat hematokrit yang dapat diterima untuk mencegah komplikasi hiperviskositas. Menurut studi terbaru 1, target hematokrit untuk polisitemia vera adalah di bawah 45%, yang juga didukung oleh studi lain 2, 3, 4, 5. Oleh karena itu, pengelolaan polisitemia vera harus memprioritaskan kontrol hematokrit yang ketat untuk mengurangi risiko trombosis dan komplikasi lainnya.
Beberapa poin penting yang perlu dipertimbangkan dalam pengelolaan polisitemia vera adalah:
- Penggunaan aspirin dosis rendah sebagai terapi dasar untuk semua pasien 1, 5
- Flebotomi terapeutik untuk mengontrol tingkat hematokrit 1, 2, 3, 4, 5
- Terapi sitoreduktif dengan hidroksiurea atau interferon untuk pasien dengan risiko trombosis yang lebih tinggi 1, 3, 4, 5
- Pengawasan ketat terhadap gejala dan tanda-tanda komplikasi, seperti trombosis, perdarahan, dan transformasi menjadi mielofibrosis atau leukemia mieloid akut 1, 3, 4, 5
Dengan demikian, pengelolaan polisitemia vera yang efektif memerlukan pendekatan yang komprehensif dan terintegrasi, dengan fokus pada kontrol hematokrit yang ketat, penggunaan terapi yang tepat, dan pengawasan ketat terhadap komplikasi.