When should micafungin be used versus fluconazole?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: February 6, 2026View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Kapan Menggunakan Mikafungin vs Flukonazol

Gunakan mikafungin untuk pasien sakit kritis dengan kandidemia/kandidiasis invasif, terutama jika ada paparan azol sebelumnya, penyakit sedang-berat, atau risiko tinggi infeksi C. glabrata atau C. krusei; gunakan flukonazol untuk pasien yang stabil secara klinis tanpa paparan azol baru-baru ini dan infeksi yang kemungkinan disebabkan oleh spesies yang sensitif terhadap flukonazol seperti C. albicans. 1

Indikasi Mikafungin

Kandidemia dan Kandidiasis Invasif

  • Mikafungin (100 mg/hari IV) adalah terapi lini pertama untuk pasien sakit kritis dengan kandidemia atau kandidiasis invasif, terutama pada pasien ICU dengan penyakit sedang hingga berat 1
  • Gunakan mikafungin jika pasien memiliki paparan azol dalam beberapa minggu terakhir, karena hal ini meningkatkan risiko resistensi 1
  • Mikafungin adalah pilihan utama untuk infeksi C. glabrata karena tingginya tingkat resistensi azol pada spesies ini 1, 2
  • Untuk C. krusei, mikafungin direkomendasikan karena spesies ini secara intrinsik resisten terhadap flukonazol 1, 2

Kandidiasis Esofageal Refrakter

  • Mikafungin (100-150 mg/hari IV) digunakan sebagai terapi lini ketiga atau keempat untuk kandidiasis esofageal yang refrakter terhadap flukonazol dan amphotericin B 3
  • Durasi pengobatan dapat mencapai 28 hari untuk penyakit refrakter 3

Profilaksis pada Pasien Neutropenia

  • Mikafungin 50 mg/hari direkomendasikan sebagai profilaksis pada penerima transplantasi sel punca hematopoietik selama periode neutropenia 1, 3
  • Mikafungin menunjukkan keunggulan dibandingkan flukonazol dalam uji klinis besar (tingkat keberhasilan 80,7% vs 73,7%) 1
  • Mikafungin juga mengurangi kebutuhan amphotericin B empiris dan menunjukkan tren tingkat aspergillosis yang lebih rendah 1

Indikasi Flukonazol

Kandidemia dan Kandidiasis Invasif

  • Flukonazol (dosis awal 800 mg, kemudian 400 mg/hari) adalah pilihan yang wajar untuk pasien yang stabil secara klinis tanpa paparan azol baru-baru ini 1
  • Flukonazol efektif untuk infeksi yang disebabkan oleh C. albicans dan spesies lain yang sensitif terhadap flukonazol 1
  • Flukonazol adalah pilihan utama untuk infeksi C. parapsilosis, meskipun melanjutkan echinocandin dapat diterima jika pasien membaik secara klinis dan kultur tindak lanjut negatif 1

Kandidiasis Mukokutan

  • Flukonazol 100-200 mg/hari adalah terapi lini kedua untuk kandidiasis orofaringeal sedang hingga berat 3
  • Untuk kandidiasis vaginal tanpa komplikasi (90% kasus), flukonazol dosis tunggal atau terapi topikal jangka pendek efektif 1
  • Kandidiasis vaginal yang rumit memerlukan dua dosis 150 mg flukonazol dengan jarak 72 jam 1

Profilaksis

  • Flukonazol 400 mg/hari adalah pilihan profilaksis yang sesuai untuk pasien dengan risiko signifikan kandidiasis invasif, termasuk pasien yang menerima kemoterapi untuk leukemia mieloid akut atau transplantasi sumsum tulang 1

Pertimbangan Penting dalam Pemilihan

Faktor Klinis yang Mempengaruhi Keputusan

  • Tingkat keparahan penyakit: Pasien sakit kritis atau dengan sepsis memerlukan mikafungin 1
  • Paparan azol sebelumnya: Jika ada paparan azol dalam 3 bulan terakhir, pilih mikafungin 1
  • Status neutropenia: Pasien neutropenia dengan kandidemia memerlukan echinocandin seperti mikafungin 1
  • Spesies Candida: Identifikasi spesies sangat penting karena pola resistensi yang berbeda 1, 2

Peringatan Khusus

  • Terapi azol tidak dapat diandalkan untuk spesies non-albicans seperti C. glabrata dan C. krusei 1
  • Pada neonatus, echinocandin termasuk mikafungin harus digunakan dengan hati-hati dan umumnya terbatas pada terapi penyelamatan atau situasi di mana resistensi atau toksisitas menghalangi penggunaan amphotericin B deoxycholate atau flukonazol 1, 3
  • Mikafungin menunjukkan MIC yang lebih tinggi terhadap C. parapsilosis, meskipun tingkat keberhasilan klinis serupa di seluruh uji klinis 1

Transisi Terapi

  • Transisi dari mikafungin ke flukonazol direkomendasikan untuk pasien dengan isolat yang kemungkinan sensitif terhadap flukonazol (misalnya C. albicans) dan yang stabil secara klinis 1
  • Transisi ke flukonazol atau voriconazole untuk C. glabrata tidak direkomendasikan tanpa konfirmasi kerentanan isolat 1, 2

Durasi Terapi

  • Untuk kandidemia tanpa komplikasi metastatik yang jelas, lanjutkan terapi selama 2 minggu setelah pembersihan Candida yang terdokumentasi dari aliran darah dan resolusi gejala 1, 2
  • Kultur darah tindak lanjut setiap 48-72 jam sangat penting untuk mendokumentasikan pembersihan 2

Pertimbangan Praktis

  • Mikafungin harus diberikan secara intravena, sedangkan flukonazol tersedia dalam formulasi oral dan intravena 1
  • Mikafungin tidak memerlukan penyesuaian dosis untuk gangguan ginjal atau hati, tidak seperti flukonazol yang memerlukan penyesuaian dosis ginjal 3
  • Mikafungin memiliki profil toksisitas yang lebih rendah dan interaksi obat-obat yang lebih sedikit dibandingkan dengan azol 4, 5

References

Guideline

Guideline Directed Topic Overview

Dr.Oracle Medical Advisory Board & Editors, 2025

Guideline

Treatment of Resistant Candida Infections

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2026

Guideline

Micafungin Dosing for Invasive Candidiasis

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2026

Guideline

Combination Therapy for Invasive Fungal Infections

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.