Rekomendasi untuk Anak Autisme dengan Perilaku Hiperaktif yang Muncul Kembali Setelah Terapi SI Dihentikan
Terapi integrasi sensorik (SI) harus dilanjutkan kembali sebagai bagian dari rencana terapi komprehensif, karena munculnya kembali perilaku negatif hiperaktif setelah penghentian menunjukkan bahwa anak masih memerlukan intervensi ini untuk fungsi optimal. 1
Dasar Pemikiran Klinis
Bukti untuk Melanjutkan Terapi SI
Terapi okupasi dengan pendekatan integrasi sensorik dapat diterima sebagai salah satu komponen dari rencana perawatan komprehensif untuk anak dengan gangguan spektrum autisme (ASD), terutama ketika dikombinasikan dengan terapi perilaku. 1
Munculnya kembali perilaku hiperaktif setelah penghentian terapi SI menunjukkan bahwa anak masih bergantung pada intervensi ini untuk regulasi sensorik dan kontrol perilaku. 1
Anak dengan ASD sering mengalami kesulitan dalam memproses informasi sensorik, yang dapat memperburuk gejala inti seperti hiperaktivitas dan perilaku negatif. 2
Pendekatan Terapi yang Direkomendasikan
Kombinasi terapi SI dan terapi perilaku harus dipertahankan secara bersamaan, karena:
Terapi perilaku (behavior therapy) tetap menjadi intervensi berbasis bukti yang kuat untuk mengelola perilaku hiperaktif dan negatif pada anak dengan ASD. 1
Kombinasi terapi okupasi (termasuk integrasi sensorik) dengan terapi perilaku memberikan pendekatan yang lebih komprehensif untuk mengatasi masalah sensorik dan perilaku secara bersamaan. 1
Terapi perilaku harus mencakup pelatihan orang tua dalam teknik manajemen perilaku spesifik, yang telah terbukti efektif untuk memodifikasi perilaku anak dengan ASD. 1
Algoritma Pengelolaan
Langkah 1: Reinstitusi Terapi SI
Mulai kembali terapi SI dengan frekuensi yang sama seperti sebelumnya atau sesuai rekomendasi terapis okupasi. 1
Fokus pada input vestibular, proprioseptif, dan taktil yang telah terbukti membantu regulasi sensorik anak sebelumnya. 2, 3
Langkah 2: Intensifikasi Terapi Perilaku
Lakukan functional behavior assessment untuk mengidentifikasi pemicu spesifik perilaku hiperaktif dan negatif. 1
Implementasikan strategi reinforcement positif untuk perilaku yang diinginkan dan planned ignoring untuk perilaku yang tidak diinginkan. 1
Latih orang tua dalam teknik modifikasi perilaku yang konsisten di rumah. 1
Langkah 3: Pertimbangan Farmakologis (Jika Diperlukan)
Jika perilaku hiperaktif tetap signifikan meskipun terapi SI dan perilaku telah dioptimalkan:
Untuk hiperaktivitas dan inatensi: Pertimbangkan methylphenidate dengan dosis awal 0,3-0,6 mg/kg/dosis, 2-3 kali sehari, yang telah menunjukkan efikasi pada 49% anak dengan ASD. 4
Untuk iritabilitas dan agresi: Jika perilaku negatif termasuk agresi atau iritabilitas berat, pertimbangkan risperidone (0,5-3,5 mg/hari) atau aripiprazole (5-15 mg/hari) sebagai lini pertama. 4
Kombinasi obat dengan pelatihan orang tua lebih efektif daripada obat saja untuk mengurangi gangguan perilaku serius. 4
Peringatan Penting dan Jebakan Klinis
Keterbatasan Bukti untuk Terapi SI
Orang tua harus diberitahu bahwa jumlah penelitian mengenai efektivitas terapi integrasi sensorik masih terbatas dan tidak konklusif. 2
Tidak ada kerangka diagnosis yang diterima secara universal untuk "sensory processing disorder", sehingga diagnosis ini umumnya tidak boleh dibuat sebagai diagnosis primer. 2
Kesulitan dalam mentoleransi atau memproses informasi sensorik adalah karakteristik yang dapat terlihat pada banyak gangguan perkembangan perilaku, termasuk ASD dan ADHD. 2
Evaluasi Efektivitas Terapi
Tetapkan periode uji coba terapi SI (misalnya 8-12 minggu) dengan tujuan perilaku yang jelas dan terukur. 2
Gunakan skala penilaian standar seperti Aberrant Behavior Checklist untuk memantau respons terapi secara objektif. 4
Jika tidak ada perbaikan yang terukur setelah periode uji coba yang memadai, pertimbangkan untuk memodifikasi atau menghentikan terapi SI dan fokus pada intervensi berbasis bukti lainnya. 2
Pentingnya Konsistensi
Penghentian terapi SI secara tiba-tiba dapat menyebabkan regresi perilaku, seperti yang terlihat pada kasus ini. 1
Jika terapi SI akan dihentikan di masa depan, lakukan secara bertahap sambil memantau perilaku anak dengan ketat. 1
Pastikan strategi terapi perilaku yang kuat sudah ada sebelum mengurangi atau menghentikan terapi SI. 1
Koordinasi dengan Sekolah
Koordinasikan program terapi perilaku antara rumah dan sekolah untuk meningkatkan efektivitas. 1
Pertimbangkan adaptasi kelas seperti tempat duduk yang disukai, modifikasi tugas, dan rencana perilaku sebagai bagian dari program pendidikan individual (IEP). 1
Gunakan jadwal visual dan rehearsal verbal untuk membantu anak memahami aktivitas dan perilaku yang diharapkan. 1