Terapi Methotrexate pada Kolitis Crohn
Untuk kolitis Crohn (Crohn's disease), methotrexate parenteral (subkutan) 25 mg/minggu efektif sebagai terapi induksi pada pasien yang gagal dengan kortikosteroid, dan dosis minimal 15 mg/minggu diperlukan untuk pemeliharaan remisi. 1
Regimen Methotrexate yang Direkomendasikan
Terapi Induksi
- Gunakan rute subkutan, bukan oral, karena bioavailabilitas oral sangat bervariasi dan berkurang, terutama pada dosis di atas 15 mg 1
- Dosis: 25 mg/minggu subkutan untuk 16 minggu pada pasien dengan penyakit aktif kronik yang gagal dengan kortikosteroid minimal 3 bulan 1
- Rute subkutan lebih disukai daripada intramuskular karena lebih mudah dan kurang nyeri, dengan bioavailabilitas yang sama 1
Terapi Pemeliharaan
- Dosis minimal 15 mg/minggu diperlukan untuk mempertahankan remisi 1
- Dapat beralih ke oral selama fase pemeliharaan jika pasien lebih suka, dengan opsi kembali ke subkutan jika efektivitas hilang 1
- Studi menunjukkan remisi bebas steroid dipertahankan pada 63.6% pasien selama median 12 bulan 1
Suplementasi Asam Folat (Wajib)
- Berikan asam folat 5 mg/minggu (1-2 hari setelah dosis methotrexate) ATAU 1 mg/hari untuk mengurangi toksisitas gastrointestinal dan hati 1
- Pemberian asam folat mengurangi efek samping hingga lima kali lipat (73.7% tanpa asam folat vs 37.6% dengan asam folat) 2
Indikasi Spesifik
Kapan Menggunakan Methotrexate
- Pasien yang gagal atau tidak toleran terhadap thiopurine (azathioprine/mercaptopurine) 1
- Pasien dengan penyakit sedang-berat yang dependen kortikosteroid 1
- Sebagai terapi kombinasi dengan anti-TNF untuk mengurangi imunogenisitas 1, 3
Kapan TIDAK Menggunakan Methotrexate
- Jangan gunakan sebagai monoterapi untuk induksi remisi pada penyakit aktif tanpa kortikosteroid 1
- Tidak efektif untuk kolitis ulseratif - bukti tidak mendukung penggunaannya 1, 4, 3
Jadwal Monitoring
Evaluasi Respons
- Evaluasi respons klinis pada minggu 12-16 untuk terapi induksi 1
- Jika tidak mencapai remisi bebas kortikosteroid dalam 12-16 minggu, modifikasi terapi 1
Monitoring Keamanan
- Fungsi hati: Monitor enzim hati secara berkala karena risiko hepatotoksisitas 1, 3
- Hitung darah lengkap: Monitor untuk supresi sumsum tulang 3
- Insiden fibrosis atau sirosis hati rendah dengan penggunaan dosis rendah jangka panjang 3
Kontraindikasi Penting
Kontraindikasi Absolut
- Kehamilan - methotrexate bersifat teratogenik 5
- Penyakit hati aktif atau hepatitis autoimun 6
- Gangguan ginjal berat 5
Peringatan Khusus
- Efek samping ringan-sedang umum terjadi (43.7% pasien), menyebabkan penghentian pada 33.9% 2
- Mual adalah efek samping paling umum, tidak berbeda antara rute subkutan dan oral 1
Terapi Alternatif
Jika Methotrexate Gagal atau Tidak Dapat Ditoleransi
- Terapi anti-TNF (infliximab, adalimumab) - lebih efektif daripada imunomodulator untuk penyakit sedang-berat 1
- Kombinasi anti-TNF dengan thiopurine lebih superior daripada monoterapi untuk induksi dan pemeliharaan remisi 1
- Vedolizumab atau ustekinumab untuk pasien yang gagal dengan kortikosteroid, thiopurine, methotrexate, atau anti-TNF 1, 6
Hirarki Terapi untuk Penyakit Sedang-Berat
- Kortikosteroid sistemik untuk induksi (prednisolon 40-60 mg/hari) 1, 6
- Mulai imunomodulator dini (thiopurine atau methotrexate) saat tapering steroid untuk mencegah relaps 1
- Pertimbangkan terapi biologis dini untuk penyakit ekstensif atau faktor prognosis buruk 1
Peringatan Klinis Penting
- Jangan gunakan kortikosteroid untuk pemeliharaan - tidak efektif dan meningkatkan toksisitas 1, 6
- Mesalazine (5-ASA) tidak efektif untuk kolitis Crohn, bahkan untuk penyakit kolon 1
- Rute subkutan lebih baik daripada oral untuk induksi, dengan bioavailabilitas yang konsisten 1
- Kombinasi methotrexate dengan azathioprine tidak menawarkan keuntungan dibandingkan methotrexate saja 7