What is the recommended methylprednisolone dose for an otherwise healthy adult outpatient with acute bronchitis?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: February 18, 2026View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Dosis Metilprednisolon pada Bronkitis Akut di Pasien Rawat Jalan

Metilprednisolon tidak direkomendasikan untuk bronkitis akut pada pasien rawat jalan yang sehat, karena tidak terbukti memberikan manfaat klinis yang bermakna. Panel ahli CHEST 2020 secara tegas menyatakan bahwa kortikosteroid oral tidak boleh diresepkan secara rutin untuk batuk akibat bronkitis akut pada pasien dewasa imunokompeten 1.

Rekomendasi Berdasarkan Pedoman

  • Jangan berikan kortikosteroid oral (termasuk metilprednisolon) untuk bronkitis akut tanpa komplikasi pada orang dewasa yang sehat, karena tidak ada bukti yang menunjukkan kortikosteroid membuat batuk lebih ringan atau sembuh lebih cepat 1.

  • Pedoman CHEST 2020 merekomendasikan tidak ada terapi rutin dengan antibiotik, antivirus, antitusif, beta agonis inhalasi, antikolinergik inhalasi, kortikosteroid inhalasi, kortikosteroid oral, NSAID, atau terapi lain sampai terbukti aman dan efektif 1.

  • Bronkitis akut adalah infeksi saluran napas bawah akut yang disebabkan oleh virus pada 89-95% kasus, sehingga kortikosteroid tidak memiliki peran dalam pengobatan 2.

Pengecualian Penting: Kondisi yang Memerlukan Kortikosteroid

Kortikosteroid oral HANYA diindikasikan jika diagnosis bukan bronkitis akut sederhana, tetapi:

Eksaserbasi Asma atau COPD

  • Jika pasien memiliki riwayat asma atau COPD yang tidak terdiagnosis (sekitar sepertiga pasien dengan "bronkitis akut berulang" sebenarnya memiliki asma yang tidak terdiagnosis), maka kortikosteroid oral diindikasikan 1.

  • Untuk eksaserbasi COPD akut dengan insufisiensi pernapasan, metilprednisolon 0,5 mg/kg BB setiap 6 jam intravena selama 72 jam terbukti meningkatkan fungsi paru secara signifikan 3.

  • Untuk asma akut berat yang memerlukan rawat inap, dosis rendah kortikosteroid (≤80 mg/hari metilprednisolon atau ≤400 mg/hari hidrokortison) sudah memadai; dosis lebih tinggi tidak memberikan keuntungan terapeutik tambahan 4.

Algoritma Klinis untuk Memutuskan Penggunaan Kortikosteroid

  1. Konfirmasi diagnosis bronkitis akut dengan menyingkirkan pneumonia (periksa tanda vital: denyut jantung >100/menit, laju napas >24/menit, suhu >38°C, atau temuan pemeriksaan dada abnormal menunjukkan pneumonia, bukan bronkitis) 1, 2.

  2. Singkirkan asma atau COPD dengan:

    • Riwayat episode berulang 2
    • Mengi yang menyertai batuk 1
    • Spirometri atau tes aliran puncak pada pasien yang merokok atau memiliki faktor risiko 2
    • Peningkatan FEV₁ ≥12% dan ≥200 mL setelah bronkodilator (atau peningkatan aliran puncak ≥20%) mengonfirmasi penyakit saluran napas reversibel 2
  3. Jika bronkitis akut tanpa komplikasi dikonfirmasi:

    • JANGAN berikan kortikosteroid 1
    • Berikan edukasi bahwa batuk biasanya berlangsung 10-14 hari dan dapat bertahan hingga 3 minggu 1, 2
    • Pertimbangkan antitusif (kodein atau dekstrometorfan) untuk batuk kering yang mengganggu 1, 2
    • Beta-2 agonis kerja singkat HANYA jika ada mengi 1, 2
  4. Jika asma atau COPD dikonfirmasi:

    • Untuk eksaserbasi asma: prednison 40-60 mg/hari oral selama 5-7 hari 5
    • Untuk eksaserbasi COPD dengan insufisiensi pernapasan: metilprednisolon 0,5 mg/kg BB IV setiap 6 jam selama 72 jam 3

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

  • Jangan asumsikan dahak purulen menunjukkan infeksi bakteri – dahak purulen terjadi pada 89-95% kasus bronkitis virus dan BUKAN indikasi untuk antibiotik atau kortikosteroid 2.

  • Jangan berikan kortikosteroid berdasarkan durasi batuk saja – batuk virus biasanya berlangsung 10-14 hari secara normal 1, 2.

  • Jangan asumsikan demam dalam 3 hari pertama menunjukkan infeksi bakteri – hanya demam yang menetap >3 hari yang menunjukkan kemungkinan superinfeksi bakteri atau pneumonia 2.

Evaluasi Ulang Jika Diperlukan

  • Pasien harus kembali jika demam menetap >3 hari, batuk menetap >3 minggu, atau gejala memburuk daripada membaik secara bertahap 1, 2.

  • Jika demam menetap >3 hari, pertimbangkan pneumonia atau superinfeksi bakteri dan lakukan evaluasi ulang dengan foto toraks 2.

  • Jika batuk menetap >3 minggu, pertimbangkan diagnosis lain: asma, COPD, pertusis, refluks gastroesofageal 2.

References

Guideline

Guideline Directed Topic Overview

Dr.Oracle Medical Advisory Board & Editors, 2025

Guideline

Treatment of Acute Bronchitis

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2026

Research

Corticosteroids for acute severe asthma in hospitalised patients.

The Cochrane database of systematic reviews, 2000

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.