Pemeriksaan Penunjang untuk Diagnosis Atresia/Stenosis Esofagus pada Neonatus
Foto rontgen toraks dan abdomen (anteroposterior dan lateral) merupakan pemeriksaan penunjang lini pertama yang harus dilakukan ketika selang orogastrik tidak dapat dipasang pada neonatus dengan kecurigaan atresia esofagus. 1, 2
Algoritma Diagnostik
Langkah 1: Konfirmasi Klinis
- Ketidakmampuan memasukkan kateter/selang orogastrik ke dalam lambung merupakan tanda klasik atresia esofagus 1
- Gejala penyerta yang mendukung diagnosis meliputi distres respirasi, hipersalivasi, dan ketidakmampuan menelan 1
Langkah 2: Radiografi Polos (Pemeriksaan Utama)
Foto rontgen toraks dan abdomen harus mencakup visualisasi seluruh kolumna vertebralis untuk mendeteksi anomali kongenital terkait. 2
Foto toraks anteroposterior dan lateral dapat menunjukkan:
Foto abdomen membantu mengidentifikasi:
- Adanya gas di lambung dan usus (menandakan fistula trakeoesofageal distal)
- Tidak adanya gas distal (menandakan atresia esofagus murni tanpa fistula) 1
Langkah 3: Pemeriksaan Ultrasonografi
Ultrasonografi jantung dan ginjal harus dilakukan secara rutin pada semua bayi dengan atresia esofagus. 2
- Anomali jantung kongenital terjadi pada proporsi signifikan kasus atresia esofagus 1, 2
- Anomali ginjal dan saluran kemih juga sering ditemukan sebagai bagian dari VACTERL association 2
- Ultrasonografi tidak memiliki peran dalam mengevaluasi obstruksi usus distal atau konfirmasi diagnosis atresia esofagus itu sendiri 3, 4
Langkah 4: Esofagografi dengan Kontras (Jika Diperlukan)
Pemeriksaan esofagografi dengan kontras umumnya TIDAK diperlukan untuk diagnosis awal atresia esofagus, tetapi berguna untuk evaluasi stenosis esofagus kongenital pasca operasi. 5, 6
- Esofagografi dapat menunjukkan lokasi dan derajat stenosis 5, 6
- Pemeriksaan ini lebih relevan untuk follow-up pasca operasi daripada diagnosis awal 5, 6
- Stenosis esofagus kongenital terjadi pada 12% kasus atresia esofagus dan sering terlewat pada evaluasi awal 5
Langkah 5: Endoskopi (Situasi Khusus)
Endoskopi fleksibel dapat dipertimbangkan untuk evaluasi lebih lanjut jika diagnosis masih meragukan atau untuk menilai stenosis esofagus kongenital. 7, 6
- Endoskopi memungkinkan visualisasi langsung anatomi esofagus 6
- Dapat mengidentifikasi stenosis yang tidak terdeteksi pada radiografi 6
- Namun, endoskopi bukan pemeriksaan lini pertama untuk diagnosis atresia esofagus 7
Peringatan Penting
Jangan Melewatkan Anomali Terkait
- Hingga 50% bayi dengan atresia esofagus memiliki anomali kongenital lain, terutama dalam konteks VACTERL association (Vertebral, Anorectal, Cardiac, Tracheo-Esophageal, Renal/Radial, Limb) 1, 2
- Pemeriksaan sistematis untuk anomali terkait adalah wajib sebelum operasi 2
Hindari Kesalahan Diagnostik
- Jangan menggunakan selang orogastrik (OGT) berulang kali karena dapat menyebabkan trauma mukosa esofagus dan mempercepat pembentukan striktur, terutama pada kasus dengan stenosis esofagus kongenital 7
- Jika memerlukan akses enteral, gunakan selang nasogastrik (NGT) yang dipasang oleh tenaga berpengalaman dengan lubrikasi yang baik 7
Stenosis Esofagus Kongenital Tersembunyi
- Diagnosis stenosis esofagus kongenital sering tertunda, terutama pada kasus yang terkait dengan atresia esofagus 5, 6
- Esofagografi pasca operasi harus dilakukan dengan kecurigaan tinggi terhadap stenosis distal karena dapat tidak bergejala pada awalnya 5
- 45% kasus stenosis esofagus kongenital terkait atresia esofagus baru terdiagnosis pada usia 1-10 tahun 5
Protokol Pemeriksaan yang Direkomendasikan
- Foto rontgen toraks dan abdomen (AP dan lateral) - wajib, visualisasi seluruh vertebra 2
- Ultrasonografi jantung - wajib untuk semua kasus 2
- Ultrasonografi ginjal - wajib untuk semua kasus 2
- Sistografi berkemih (VCUG) - jika ditemukan kelainan saluran kemih pada USG atau ada anomali anorektal 2
- Esofagografi dengan kontras - untuk evaluasi pasca operasi atau jika dicurigai stenosis 5, 6
- Endoskopi - untuk konfirmasi stenosis atau evaluasi lebih lanjut 6