Tatalaksana Drainase Kantung Empedu pada Empiema Kandung Empedu
Drainase perkutan transhepatik adalah pilihan utama untuk tatalaksana awal empiema kandung empedu pada pasien yang tidak dapat menjalani kolesistektomi karena risiko tinggi. 1
Pendekatan Diagnostik dan Penilaian Awal
- Ultrasonografi abdomen sebagai modalitas pencitraan lini pertama (sensitivitas ~81%, spesifisitas ~83%)
- Temuan kunci: batu empedu, penebalan dinding kandung empedu (>3mm), cairan perikolesistik, tanda Murphy sonografik, distensi kandung empedu 2
- Evaluasi keparahan sepsis dan komorbiditas untuk menentukan kandidat yang tepat untuk drainase vs. kolesistektomi
Algoritma Tatalaksana Empiema Kandung Empedu
1. Tatalaksana Medis Awal
- Resusitasi cairan (10 ml/kg/jam cairan kristaloid)
- Antibiotik spektrum luas (pilihan utama: Amoksisilin/Klavulanat, alternatif: Seftriakson + Metronidazol, Siprofloksasin + Metronidazol)
- Terapi antibiotik dilanjutkan 4-7 hari berdasarkan kondisi klinis dan penanda inflamasi 2
- Manajemen nyeri dengan NSAID atau asetaminofen
2. Pemilihan Metode Drainase
A. Drainase Perkutan Transhepatik (PT-GBD)
- Indikasi utama: Pasien risiko tinggi untuk operasi (ASA III/IV, status performa 3-4, syok septik) 1, 2
- Keuntungan: Tersedia luas, dapat dilakukan dengan anestesi lokal
- Teknik: Pendekatan transhepatik lebih disukai karena mengurangi risiko kebocoran empedu dan memungkinkan drain tetap terpasang lebih lama 1
- Pemasangan: Dipandu ultrasonografi atau CT, menggunakan teknik Seldinger atau trokar
- Durasi drainase: 4-6 minggu, dengan kolangiogram dilakukan 2-3 minggu setelah pemasangan untuk memastikan patensi saluran empedu 1
- Komplikasi: Kebocoran empedu (3-4% pada saluran sistik paten, 40% pada saluran sistik tersumbat), perdarahan, dislokasi kateter 1
B. Drainase Endoskopik Transpapiler (ET-GBD)
- Indikasi: Pasien yang memerlukan ERCP untuk indikasi lain (koledokolitiasis, kolangitis)
- Keuntungan: Dapat mengatasi batu saluran empedu dan pemasangan stent secara bersamaan
- Teknik: ERCP dengan kanulasi selektif saluran sistik
- Tingkat keberhasilan: 83% dengan resolusi klinis dalam 3 hari (median) 3
- Komplikasi: Tingkat keberhasilan teknis lebih rendah dibandingkan metode lain
C. Drainase Kandung Empedu dengan Panduan EUS (EUS-GBD)
- Indikasi: Pasien dengan stent bilier logam in-dwelling, obstruksi ganas pada percabangan saluran sistik
- Kontraindikasi: Perforasi kandung empedu, peritonitis bilier, asites volume besar, koagulopati signifikan 1
- Keuntungan: Kemungkinan reintervensi paling rendah
- Teknik: Penempatan stent dari duodenum atau lambung ke kandung empedu dengan panduan EUS
Tatalaksana Berdasarkan Tingkat Keparahan Cedera Saluran Empedu
Cedera Saluran Empedu Minor (Strasberg A-D)
- Jika drain terpasang saat operasi dan kebocoran empedu terdeteksi, observasi dan tatalaksana non-operatif selama beberapa jam pertama
- Jika tidak ada drain yang terpasang, lakukan drainase perkutan
- Jika tidak ada perbaikan atau gejala memburuk, tatalaksana endoskopik (ERCP dengan sfingterotomi bilier dan pemasangan stent) menjadi wajib 1
Cedera Saluran Empedu Mayor (Strasberg E1-E2)
- Jika terdiagnosis dalam periode pascaoperasi segera (dalam 72 jam), rujuk ke pusat dengan keahlian prosedur HPB
- Jika terdiagnosis antara 72 jam dan 3 minggu, lakukan drainase perkutan kumpulan cairan, antibiotik yang ditargetkan, dan dukungan nutrisi
- Jika terdiagnosis terlambat dan terdapat manifestasi klinis striktur, lakukan hepatikojejunostomi Roux-en-Y 1
Pertimbangan Khusus
- Pada pasien dengan peritonitis bilier difus, lavase dan drainase rongga abdomen segera diperlukan sebagai langkah pertama pengobatan untuk mencapai kontrol sumber infeksi 1
- Drainase perkutan harus dianggap sebagai jembatan menuju operasi definitif daripada pengobatan definitif karena tingkat kekambuhan yang tinggi 2
- Pada pasien lanjut usia, pendekatan transhepatik lebih disukai untuk drainase perkutan karena mengurangi risiko kebocoran empedu 1
- Studi kasus telah menunjukkan keberhasilan penggunaan stent logam yang dapat mengembang sendiri untuk drainase kolesisto-duodenal pada kasus empiema kandung empedu 4, 5
Drainase perkutan transhepatik tetap menjadi pilihan yang baik pada pasien dengan empiema kandung empedu yang memiliki penyakit penyerta berat dan mungkin terlalu sakit untuk menjalani operasi, dengan 45% atau lebih pasien tetap asimtomatik setelah prosedur ini 6.