What is the management of anaphylactic shock?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: October 21, 2025View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Tatalaksana Syok Anafilaktik

Epinephrine intramuskular adalah terapi lini pertama yang harus segera diberikan pada semua kasus syok anafilaktik, dengan dosis 0,3-0,5 mg (1:1000) pada dewasa dan 0,01 mg/kg pada anak-anak, disuntikkan pada anterolateral paha. 1

Langkah-langkah Awal Penanganan

  • Berikan epinephrine intramuskular 0,3-0,5 mg (1:1000) pada anterolateral paha untuk dewasa atau 0,01 mg/kg untuk anak-anak, yang dapat diulang setiap 5-15 menit sesuai kebutuhan 1, 2
  • Posisikan pasien terlentang dengan kaki terangkat (kecuali jika ada kesulitan bernapas) 2
  • Berikan oksigen tambahan dan pantau saturasi oksigen 2
  • Pasang akses intravena dan berikan bolus cairan kristaloid 500-1000 ml untuk dewasa atau 20 ml/kg untuk anak-anak 1, 2
  • Pantau tanda vital secara ketat (tekanan darah, denyut jantung, laju pernapasan, saturasi oksigen) 1, 2

Penanganan Lanjutan

Untuk Hipotensi Berat atau Tidak Responsif

  • Jika hipotensi berat atau tidak responsif terhadap epinephrine IM dan resusitasi cairan, pertimbangkan epinephrine IV:
    • Dosis: 0,05-0,1 mg (0,1 mg/ml atau 1:10.000) diberikan secara perlahan 1
    • CATATAN: Epinephrine IV hanya boleh diberikan pada hipotensi berat yang tidak responsif atau henti jantung, dengan pemantauan hemodinamik ketat 1
  • Untuk hipotensi persisten, pertimbangkan infus epinephrine (5-15 μg/menit) 1, 2
  • Jika hipotensi masih berlanjut, pertimbangkan vasopressor lain seperti dopamin (400 mg dalam 500 ml D5W, infus 2-20 μg/kg/menit) 1

Untuk Bronkospasme Persisten

  • Jika bronkospasme tidak responsif terhadap epinephrine, berikan beta-agonis inhalasi (albuterol nebulasi 2,5-5 mg dalam 3 ml saline) 1

Terapi Tambahan (Lini Kedua)

  • Berikan antihistamin H1: diphenhydramine 25-50 mg IV/IM (1-2 mg/kg) 1, 2
  • Pertimbangkan antihistamin H2: ranitidine 50 mg IV untuk dewasa (1 mg/kg untuk anak-anak) 1, 2
  • Pertimbangkan kortikosteroid untuk mencegah reaksi bifasik: methylprednisolone IV 1-2 mg/kg/hari atau prednisone oral 0,5 mg/kg 1

Situasi Khusus

Henti Jantung pada Anafilaksis

  • Lakukan resusitasi jantung paru dan tindakan bantuan hidup lanjut 1
  • Berikan epinephrine IV dosis tinggi: 1-3 mg (1:10.000) secara perlahan selama 3 menit, diikuti 3-5 mg selama 3 menit, kemudian infus 4-10 μg/menit 1
  • Lakukan resusitasi cairan agresif 1
  • Pertimbangkan atropin dan pacu jantung transkutan jika terjadi asistol atau aktivitas listrik tanpa nadi 1
  • Lakukan resusitasi yang lebih lama karena kemungkinan keberhasilan lebih tinggi pada anafilaksis 1

Pasien dengan Terapi Beta-Blocker

  • Jika pasien menggunakan beta-blocker dan tidak responsif terhadap epinephrine, berikan glukagon:
    • Dosis: 1-5 mg IV (20-30 μg/kg, maksimum 1 mg untuk anak-anak) selama 5 menit, diikuti infus 5-15 μg/menit 1
    • Perhatikan risiko mual dan muntah 1

Observasi dan Tindak Lanjut

  • Observasi pasien minimal 6 jam atau sampai stabil dan gejala berkurang 2
  • Periode observasi harus diindividualisasi karena tidak ada prediktor yang andal untuk reaksi bifasik 1
  • Berikan resep autoinjector epinephrine dan edukasi penggunaannya untuk pasien dengan riwayat anafilaksis 1, 3
  • Rujuk ke ahli alergi untuk evaluasi lebih lanjut 2

Hal Penting dan Pitfall

  • Jangan menunda pemberian epinephrine - keterlambatan dapat berakibat fatal 4, 3
  • Jangan menggunakan antihistamin atau kortikosteroid sebagai terapi lini pertama pengganti epinephrine 2, 5
  • Jangan memberikan epinephrine IV pada situasi non-henti jantung tanpa pemantauan yang memadai 1
  • Waspadai kemungkinan reaksi bifasik yang dapat terjadi dalam 72 jam 5
  • Ingat bahwa kortikosteroid tidak membantu secara akut tetapi potensial mencegah anafilaksis berulang atau berkepanjangan 1

References

Guideline

Guideline Directed Topic Overview

Dr.Oracle Medical Advisory Board & Editors, 2025

Guideline

Anaphylaxis Management in Sugammadex-Induced Reactions

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Research

The role of epinephrine in the treatment of anaphylaxis.

Current allergy and asthma reports, 2003

Research

Epinephrine (adrenaline) in anaphylaxis.

Chemical immunology and allergy, 2010

Research

Anaphylaxis: Emergency Department Treatment.

Emergency medicine clinics of North America, 2022

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.