Hubungan antara Kacang-kacangan dan Kadar Asam Urat
Konsumsi kacang-kacangan (legum) dikaitkan dengan penurunan kadar asam urat dan risiko hiperurisemia yang lebih rendah, terutama ketika dikonsumsi sebagai bagian dari pola diet berbasis tanaman. 1, 2
Efek Menguntungkan pada Kadar Asam Urat
Pola diet berbasis tanaman yang kaya kacang-kacangan secara konsisten menunjukkan hubungan negatif dengan kadar asam urat serum:
- Meta-analisis terbaru menunjukkan bahwa pola diet berbasis tanaman menurunkan kadar asam urat serum (perbedaan rata-rata standar: -0.24 mg/dL) dalam studi intervensi 2
- Studi observasional mengkonfirmasi hubungan ini dengan odds ratio 0.92 untuk kadar asam urat yang lebih rendah 2
- Pola diet berbasis tanaman mengurangi risiko hiperurisemia sebesar 25% (OR: 0.75; 95% CI: 0.67,0.83) 2
- Efek perlindungan ini lebih kuat pada pria (OR: 0.45; 95% CI: 0.35,0.58) 2
Mekanisme Perlindungan
Kacang-kacangan memberikan manfaat melalui beberapa mekanisme yang bekerja secara bersamaan:
- Jenis purin yang dikonsumsi dari sumber nabati berbeda dengan purin hewani dalam hal metabolisme dan dampaknya terhadap asam urat 1
- Kandungan serat tinggi dalam kacang-kacangan membantu mengurangi pembentukan asam urat 1
- Vitamin C dan faktor gaya hidup yang terkait dengan diet berbasis tanaman bekerja bersama untuk mengurangi produksi asam urat 1
- Kacang-kacangan kaya akan protein nabati, serat larut, vitamin B, mineral, dan memiliki indeks glikemik rendah 3
Bukti Klinis Spesifik untuk Produk Kedelai
Produk kedelai, termasuk tahu, dapat dikonsumsi dengan aman bahkan pada individu dengan hiperurisemia:
- Studi intervensi selama 3 bulan menunjukkan bahwa diet tinggi buah dan produk kedelai menurunkan kadar asam urat serum secara signifikan pada orang dewasa dengan hiperurisemia asimtomatik 4
- Konsumsi tahu meningkatkan konsentrasi asam urat plasma hanya sedikit, dengan peningkatan bersamaan dalam klirens asam urat dan ekskresi urin 5
- Pada pasien gout dengan klirens asam urat >6.0 mL/menit (batas normal bawah), tidak ada peningkatan signifikan dalam kadar asam urat plasma setelah konsumsi tahu 5
- Tahu merupakan sumber protein yang lebih disukai, terutama pada pasien gout dengan fungsi ginjal yang memadai 5
Perbandingan dengan Pola Diet Hewani
Kontras yang jelas terlihat antara diet berbasis tanaman dan hewani:
- Pola diet hewani secara langsung berkorelasi dengan peningkatan kadar asam urat (β = 3.645) 6
- Individu dengan skor tertinggi untuk pola diet hewani memiliki risiko hiperurisemia 40% lebih tinggi (OR = 1.401; 95% CI: 1.129-1.739) 6
- Pola diet berbasis tanaman menunjukkan korelasi negatif dengan kadar asam urat (β = -3.225) 6
Rekomendasi Praktis
Pedoman diet merekomendasikan konsumsi kacang-kacangan yang substansial untuk kesehatan kardiovaskular dan metabolik:
- Konsumsi kacang-kacangan 4 kali per minggu dibandingkan dengan kurang dari sekali per minggu dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit jantung koroner dan kardiovaskular 3
- USDA merekomendasikan konsumsi 1.5 hingga 3 cangkir kacang-kacangan per minggu 3
- Konsumsi 400 g per minggu menunjukkan pengurangan risiko terbesar (14%) untuk penyakit jantung koroner 3
- Ukuran porsi standar adalah ½ cangkir kacang-kacangan yang dimasak 3
Pertimbangan Penting
Meskipun kacang-kacangan mengandung purin, konsumsi yang wajar aman untuk individu normourisemik:
- Mayoritas studi menunjukkan risiko hiperurisemia dan gout yang berkurang dengan diet vegetarian (terutama lakto-vegetarian) 1
- Data terbatas menunjukkan bahwa bahkan dengan diet berbasis tanaman eksklusif, konsentrasi asam urat tetap dalam kisaran normal pada individu yang menjalani diet jangka pendek dan panjang 1
- Konsumsi makanan nabati dengan kandungan purin lebih tinggi sebagai bagian dari diet berbasis tanaman dapat ditoleransi dengan aman pada individu normourisemik 1
- Data tambahan diperlukan untuk individu hiperurisemik, terutama mereka dengan penyakit ginjal kronis 1
Manfaat kesehatan kacang-kacangan melampaui efek pada asam urat, termasuk kontrol glukosa darah yang lebih baik, manajemen berat badan, dan penurunan risiko polip kolorektal berulang. 3