Pneumonia Bakterial Sekunder
Ya, presentasi klinis ini sangat mencurigakan untuk pneumonia bakterial, kemungkinan besar disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae sebagai infeksi primer atau sekunder pasca-viral. Kombinasi batuk produktif dengan sputum purulen yang banyak, demam 1 minggu, dan ronki kasar terlokalisir di paru kanan merupakan gambaran klasik pneumonia bakterial tipikal 1, 2.
Dasar Diagnosis Pneumonia Bakterial
Temuan klinis yang mendukung pneumonia bakterial:
- Ronki kasar fokal di paru kanan adalah tanda konsolidasi alveolar yang sangat spesifik untuk pneumonia bakterial, terutama S. pneumoniae 2, 3
- Sputum purulen yang banyak menunjukkan infeksi bakterial tipikal, bukan atypical pneumonia - ini adalah karakteristik S. pneumoniae 2, 3
- Demam persisten 1 minggu dengan batuk produktif meningkatkan probabilitas pneumonia secara signifikan 3
Patogen yang Paling Mungkin
S. pneumoniae adalah patogen bakterial paling umum pada community-acquired pneumonia di semua kelompok usia, menyebabkan pneumonia lobar dengan konsolidasi fokal 2. Presentasi dengan sputum purulen produktif dan ronki fokal sangat khas untuk infeksi pneumokokus 2.
Kemungkinan infeksi sekunder pasca-viral:
- Pneumonia bakterial sekunder biasanya berkembang 4-5 hari setelah onset gejala viral awal, dengan pola konsolidasi lobar pada pemeriksaan fisik 1
- S. pneumoniae, S. aureus, dan H. influenzae adalah patogen tersering pada pneumonia bakterial sekunder 1, 4
- Mortalitas pneumonia bakterial sekunder berkisar 7-24%, lebih rendah dari pneumonia viral primer (>40%) 1
Langkah Diagnostik yang Diperlukan
Foto thorax adalah pemeriksaan wajib untuk mengkonfirmasi diagnosis pneumonia, karena pemeriksaan fisik saja tidak cukup sensitif atau spesifik 1, 3:
- Cari konsolidasi lobar atau infiltrat patchy 1, 2
- Air bronchogram pada foto thorax adalah patognomonik untuk konsolidasi alveolar S. pneumoniae 2
Pemeriksaan vital signs:
- Takipnea (RR ≥24/menit), takikardia (HR ≥100/menit), atau demam (≥38°C) meningkatkan probabilitas pneumonia secara signifikan 1, 3
- Tidak adanya abnormalitas vital signs memiliki nilai prediktif negatif tinggi untuk menyingkirkan pneumonia 1
Kultur sputum tidak rutin diperlukan pada pasien rawat jalan dengan pneumonia, kecuali hasilnya akan mengubah terapi 1. Namun, jika dicurigai patogen resisten atau pasien tidak respons terhadap terapi empiris, kultur dapat dipertimbangkan 1.
Pertimbangan Penting
Jangan tertipu oleh sputum purulen:
- Sputum purulen dapat terjadi pada infeksi viral maupun bakterial karena adanya sel inflamasi 1
- Namun, kombinasi sputum purulen produktif + ronki fokal + demam persisten sangat mengarah ke bakterial 2, 3
Bedakan dari atypical pneumonia:
- Mycoplasma dan Chlamydophila biasanya menyebabkan batuk non-produktif, progresif lambat, demam ringan, dan infiltrat bilateral 1, 2, 3
- Legionella juga biasanya dengan batuk non-produktif 2
- Presentasi pasien ini dengan sputum produktif purulen dan ronki fokal tidak sesuai dengan atypical pneumonia 2
S. aureus pneumonia biasanya terjadi dalam konteks khusus: pasca-influenza, pengguna narkoba suntik, atau riwayat hospitalisasi baru-baru ini 2. Tanpa faktor risiko ini, S. aureus kurang mungkin sebagai patogen primer 2.
Rekomendasi Manajemen
Mulai antibiotik empiris segera setelah diagnosis pneumonia dikonfirmasi dengan foto thorax 1:
- Untuk pneumonia bakterial tipikal community-acquired, terapi empiris harus mencakup S. pneumoniae 1, 2
- Jika dicurigai pneumonia sekunder pasca-influenza, pertimbangkan coverage untuk S. aureus 1, 4
- Quinolones, cephalosporins, atau macrolides adalah pilihan yang umum digunakan 4
Caveat penting: Jika pasien memiliki riwayat infeksi influenza dalam 1-2 minggu terakhir, risiko pneumonia bakterial sekunder meningkat signifikan, terutama S. aureus yang memiliki mortalitas lebih tinggi (47% vs 16%) dan risiko abses paru (14% vs 2%) 1.