Apa Maksud Antikolinergik
Antikolinergik adalah kelas obat yang memblokir neurotransmitter asetilkolin pada reseptor muskarinik di otak dan jaringan perifer, sehingga menghambat aktivitas sistem saraf parasimpatis. 1
Mekanisme Kerja Dasar
- Obat antikolinergik mencegah akumulasi asetilkolin pada reseptor muskarinik, yang menghambat stimulasi sistem saraf parasimpatis 1
- Blokade reseptor muskarinik ini menghasilkan efek yang dapat diprediksi di berbagai sistem organ 1
- Antikolinergik generasi pertama dapat menembus sawar darah-otak dan memblokir reseptor muskarinik sentral, yang menyebabkan efek kognitif 1
- Antikolinergik yang lebih baru seperti tiotropium memiliki absorpsi sistemik yang terbatas dan penetrasi minimal ke sistem saraf pusat 1
Efek pada Sistem Tubuh
Sistem Pernapasan:
- Bronkodilatasi terjadi melalui blokade tonus otot polos bronkial yang dimediasi vagal 1
- Antikolinergik lebih efektif pada COPD dibandingkan asma 2
- Onset kerja lebih lambat dibanding beta-2 agonis, mencapai maksimum dalam 30-90 menit dan berlangsung 4-6 jam untuk ipratropium 2
Sistem Urinaria:
- Blokade reseptor muskarinik mengurangi kontraksi kandung kemih, membantu mengatasi inkontinensia urin 1
- Dapat menyebabkan retensi urin dan memperburuk gejala hiperplasia prostat pada pria 3
Sistem Sekresi:
- Mengurangi lakrimasi, salivasi, dan perspirasi berlebihan dengan memblokir stimulasi muskarinik 1
- Mengurangi produksi sekret di saluran saliva, bronkial, dan gastrointestinal 4
Sistem Kardiovaskular:
- Takikardia terjadi akibat blokade tonus vagal pada nodus sinoatrial 1
Sistem Mata:
- Menyebabkan midriasis dan sikloplegia dari blokade otot konstriktor pupil dan otot siliaris 1
- Dapat memperburuk glaukoma sudut sempit 3
Penggunaan Klinis
Kondisi Respiratori:
- Digunakan sebagai bronkodilator pada COPD 2
- Kombinasi dengan beta-2 agonis pada dosis submaksimal menghasilkan efek aditif 2
Enuresis pada Anak:
- Oxybutynin, tolterodine, dan propiverine memiliki dokumentasi efikasi dan keamanan yang wajar pada anak 2
- Hanya diindikasikan pada anak dengan enuresis yang gagal dengan terapi standar 2
- Efektif pada sekitar 40% anak dan sering memerlukan kombinasi dengan desmopressin 2
Keracunan Agen Saraf:
- Atropin adalah "standar emas" untuk keracunan agen saraf karena memblokir overstimulasi reseptor muskarinik 1
Efek Samping dan Risiko
Efek Samping Akut (Sindrom Antikolinergik):
- Mulut kering, penglihatan kabur, takikardia, konfusi, dan hipertermia 1
- Retensi urin dan disfungsi kandung kemih 3
- Konstipasi dan gangguan gastrointestinal 3
- Hipoaktif atau tidak ada bising usus 2
- Kulit kering, kemerahan, dan midriasis 2
Risiko Jangka Panjang (Terutama pada Lansia):
- Gangguan kognitif signifikan termasuk masalah memori, konfusi, dan delirium 3, 5
- Efek kognitif lebih menonjol pada pasien di atas 75 tahun 3
- Peningkatan risiko jatuh yang dapat menyebabkan fraktur dan hematoma subdural 3
- Penurunan fungsional dengan skor aktivitas kehidupan sehari-hari (ADL) yang menurun 3
- Peningkatan kunjungan unit gawat darurat dan tingkat rawat inap 3
Beban Antikolinergik Kumulatif
- Sekitar sepertiga hingga setengah dari obat yang umum diresepkan untuk lansia memiliki aktivitas antikolinergik 5
- Efek kumulatif dari beberapa obat antikolinergik secara signifikan meningkatkan risiko hasil yang merugikan 3
- Banyak obat yang bukan termasuk kelas antikolinergik juga memiliki efek antikolinergik, termasuk antidepresan, antipsikotik, dan antihistamin 6
Peringatan Khusus untuk Lansia
- American Geriatrics Society merekomendasikan menghindari oxybutynin pada dewasa berusia 65 tahun ke atas karena risiko signifikan gangguan kognitif, delirium, dan demensia 3
- Lansia lebih sensitif terhadap efek antikolinergik karena perubahan fisiologis penuaan 3
- Kriteria Beers dan kriteria STOPP/START mengidentifikasi banyak obat antikolinergik sebagai berpotensi tidak tepat untuk lansia 3
Rekomendasi Praktis
- Hindari obat antikolinergik pada lansia bila memungkinkan, terutama mereka yang memiliki gangguan kognitif, faktor risiko demensia, atau glaukoma sudut sempit 3
- Untuk kondisi alergi, antihistamin generasi kedua lebih disukai daripada generasi pertama karena efek antikolinergik yang berkurang 3
- Gunakan dosis efektif terendah untuk durasi sesingkat mungkin 3
- Tinjau regimen obat secara teratur untuk mengidentifikasi dan mengurangi beban antikolinergik 3
- Untuk pasien dengan kandung kemih overaktif, pertimbangkan agen antikolinergik topikal daripada sistemik untuk meminimalkan efek samping kognitif 3