Manajemen Terbaik untuk Pasien Sirosis Hati karena Hepatitis B
Untuk pasien dengan sirosis hati karena Hepatitis B, terapi antiviral oral dengan tenofovir atau entecavir sebagai monoterapi adalah pilihan utama, dengan pertimbangan transplantasi hati untuk kasus dekompensasi. 1
Pendekatan Berdasarkan Status Kompensasi
Sirosis Kompensata
Indikasi Terapi:
- Terapi antiviral harus dimulai jika HBV DNA ≥2,000 IU/mL, tanpa mempertimbangkan kadar AST/ALT 1
- Terapi dapat dipertimbangkan bahkan ketika HBV DNA <2,000 IU/mL untuk mengurangi risiko dekompensasi 1
- Kadar AST/ALT tidak boleh digunakan sebagai kriteria untuk memulai terapi karena pasien sirosis sering memiliki kadar transaminase yang hampir normal meskipun sudah ada fibrosis signifikan 1
Pilihan Obat:
- Monoterapi dengan tenofovir atau entecavir adalah pilihan yang direkomendasikan karena efikasi antiviral yang poten dan hambatan genetik tinggi terhadap resistensi obat 1
- Peginterferon-α dapat digunakan dengan monitoring ketat pada pasien dengan fungsi hati yang masih terjaga, namun memerlukan pengawasan terhadap perburukan fungsi hati dan efek samping 1
- Terapi jangka panjang umumnya diperlukan, sehingga pemilihan obat harus mempertimbangkan efikasi antiviral, efek samping, dan hambatan genetik terhadap virus resisten 1
Sirosis Dekompensata
Prinsip Manajemen:
- Terapi antiviral segera direkomendasikan jika HBV DNA terdeteksi dengan tes PCR, tanpa mempertimbangkan kadar AST/ALT 1, 2
- Pasien sebaiknya dirawat di institusi yang dapat memberikan manajemen komprehensif untuk komplikasi sirosis 1, 2
- Transplantasi hati harus dipertimbangkan bersamaan dengan terapi antiviral 1, 2
Pilihan Obat:
- Monoterapi oral dengan tenofovir atau entecavir adalah pilihan utama 1, 2
- Untuk entecavir pada sirosis dekompensata, dosis yang direkomendasikan adalah 1 mg per hari 2, 3
- Penggunaan peginterferon-α DIKONTRAINDIKASIKAN karena risiko komplikasi serius seperti infeksi dan gagal hati 1, 2
- Lamivudine tidak boleh digunakan karena tingkat resistensi yang tinggi 2
Monitoring Selama Terapi
Sirosis Kompensata:
- Fungsi hati harus diperiksa setiap 2-6 bulan 1
- HBV DNA diukur dengan real-time PCR dan status HBeAg diperiksa setiap 2-6 bulan 1
Sirosis Dekompensata:
- Fungsi hati harus diperiksa setiap 1-3 bulan 1, 2
- HBV DNA diukur dengan real-time PCR dan status HBeAg diperiksa setiap 2-6 bulan 1, 2
- Monitoring ketat terhadap parameter klinis dan laboratorium sangat penting, terutama untuk risiko asidosis laktat 2, 3
- Perhatikan kemungkinan flare hepatitis yang dapat terjadi selama terapi 2
Hasil yang Diharapkan dan Prognosis
Timeline Perbaikan Klinis:
- Perbaikan klinis sering memerlukan 3-6 bulan terapi antiviral 1, 2
- Beberapa pasien dapat mengalami perbaikan lambat selama 3-6 bulan dengan terapi NA, berpotensi menghindari kebutuhan transplantasi 2
- Progresi ke gagal hati masih mungkin terjadi bahkan selama terapi antiviral pada beberapa pasien 1
Manfaat Jangka Panjang:
- Terapi entecavir menunjukkan perbaikan skor Child-Pugh pada hampir setengah (27/55) pasien dengan sirosis dekompensata, dengan tingkat survival bebas transplantasi 1 tahun sebesar 87.1% 1
- Pada pasien dengan sirosis, terapi entecavir mengurangi risiko kejadian hepatik (HR 0.51), HCC (HR 0.55), mortalitas terkait hati (HR 0.26), dan mortalitas semua penyebab (HR 0.34) 4
- Supresi HBV DNA yang berkepanjangan dan adekuat dapat menstabilkan pasien dan mencegah progresi penyakit hati dekompensata 2
Pertimbangan Khusus
Peringatan Penting:
- Pasien dengan penyakit hati dekompensata memiliki risiko lebih tinggi untuk asidosis laktat 3
- Terapi harus dihentikan jika terdapat temuan klinis atau laboratorium yang mengarah ke asidosis laktat atau hepatotoksisitas yang jelas 3
- Beberapa pasien dengan penyakit hati lanjut dengan skor Child-Pugh atau MELD tinggi mungkin sudah melewati titik tidak dapat kembali dan masih memerlukan transplantasi hati meskipun dengan terapi antiviral 2
Transplantasi Hati:
- Terapi pra-transplantasi dengan NA poten dengan hambatan resistensi tinggi direkomendasikan untuk mencapai kadar HBV DNA serendah mungkin sebelum transplantasi 2
- Terapi antiviral pra dan pasca-transplantasi telah dilaporkan mengurangi risiko reaktivasi hepatitis setelah transplantasi hati 1
- Terapi dengan NA yang menginduksi HBV DNA tidak terdeteksi saat transplantasi akan menurunkan risiko rekurensi HBV pada graft 2
Durasi Terapi:
- Terapi antiviral biasanya harus dilanjutkan tanpa batas waktu (seumur hidup) pada pasien dengan sirosis dekompensata 2
- Penghentian terapi umumnya tidak direkomendasikan kecuali tercapai hilangnya HBsAg dan serokonversi anti-HBs yang dipertahankan selama 6-12 bulan 2
- Monitoring fungsi hepatik harus dilakukan dengan ketat secara klinis dan laboratorium setidaknya beberapa bulan pada pasien yang menghentikan terapi anti-hepatitis B 3