Can secondary headaches be caused by underlying medical conditions?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: November 24, 2025View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Ya, Sefalgia Sekunder Dapat Disebabkan oleh Kondisi Medis yang Mendasari

Sefalgia sekunder memang disebabkan oleh berbagai kondisi medis yang mendasari, dan penting untuk membedakannya dari sefalgia primer karena beberapa penyebab sekunder dapat mengancam jiwa. 1, 2

Kategori Utama Kondisi Medis Penyebab Sefalgia Sekunder

Menurut International Classification of Headache Disorders edisi ketiga, sefalgia sekunder dapat disebabkan oleh:

Gangguan Vaskular Kranial atau Servikal

  • Perdarahan intrakranial (intraserebral, subdural, subaraknoid, epidural) - dapat menyebabkan "thunderclap headache" atau nyeri kepala terburuk dalam hidup 1
  • Stroke atau TIA - ditandai dengan defisit neurologis fokal atau aura atipikal yang berlangsung >60 menit 1, 3
  • Aneurisma, trombosis vena, iskemia serebral 1, 4
  • Diseksi arteri - memerlukan evaluasi dengan CTA atau MRA jika dicurigai 1

Gangguan Intrakranial Non-Vaskular

  • Tumor otak atau lesi desak ruang - nyeri kepala progresif yang membangunkan dari tidur, memburuk dengan Valsalva atau batuk 3, 5
  • Hipertensi intrakranial idiopatik - nyeri kepala dengan papilledema 1
  • Hipotensi intrakranial spontan - nyeri kepala orthostatik (membaik >50% dalam 2 jam berbaring datar, memburuk dalam 2 jam berdiri) 1, 3
  • Hidrosefalus dan malformasi kongenital 1
  • Malformasi Chiari - nyeri kepala oksipital yang dipicu manuver Valsalva 1

Infeksi

  • Meningitis - nyeri kepala dengan kaku kuduk dan demam yang tidak dapat dijelaskan 1, 3
  • Ensefalitis, abses otak, HIV, sifilis 1, 4

Trauma

  • Cedera kepala primer dan sekuelanya 1, 6
  • Hematoma subdural atau epidural 4, 7

Gangguan Metabolik, Endokrin, dan Elektrolit

  • Hipoglikemia, hiperglikemia, ketoacidosis 1
  • Hiponatremia, hipokalsemia 1
  • Penyakit tiroid (hipertiroidisme, hipotiroidisme) - periksa TSH pagi dan T4 bebas jika ada intoleransi dingin atau pusing 3
  • Penyakit adrenal (Addison, Cushing), feokromositoma 1
  • Uremia, hiperamonemia 1

Gangguan Tekanan CSF

  • Tekanan CSF rendah (<6 cm H2O) atau kebocoran CSF - menyebabkan nyeri kepala postural 1
  • Peningkatan tekanan intrakranial - memburuk dengan batuk, bersin, atau olahraga 3

Substansi atau Penarikannya

  • Medication overuse headache - nyeri kepala ≥15 hari/bulan dengan penggunaan berlebihan analgesik non-opioid ≥15 hari/bulan atau obat akut lain ≥10 hari/bulan selama >3 bulan 1, 3
  • Penarikan alkohol, benzodiazepin, barbiturat, kokain 1
  • Overdosis obat - steroid, kontrasepsi oral, antihipertensi, antikonvulsan 1
  • Keracunan - karbon monoksida, timbal, organofosfat 1

Gangguan Neurologis Lainnya

  • Kejang - salah satu etiologi sekunder paling umum, sering dengan aura mirip migrain 1
  • Multiple sclerosis, Huntington chorea 1
  • Tuberous sclerosis 1

Gangguan Reumatologi/Inflamasi

  • Giant cell arteritis - nyeri kepala onset baru pada pasien >50 tahun dengan nyeri tekan kulit kepala, klaudikasio rahang; periksa ESR/CRP (namun ESR dapat normal pada 10-36% kasus) 3, 5
  • Lupus eritematosus sistemik, sarkoidosis 1, 4

Gangguan Struktur Kranial, Leher, atau Wajah

  • Patologi gigi atau sinusitis 3
  • Gangguan mata, telinga, hidung, mulut 6

Red Flags yang Menunjukkan Sefalgia Sekunder

Tanda bahaya berikut harus meningkatkan kecurigaan terhadap penyebab sekunder 1, 8, 3:

Dari Anamnesis:

  • Thunderclap headache (onset mendadak maksimal)
  • Onset baru setelah usia 50 tahun
  • Nyeri kepala progresif yang memburuk dari waktu ke waktu
  • Aura atipikal (>60 menit atau dengan defisit motorik)
  • Trauma kepala atau leher baru-baru ini
  • Nyeri kepala membangunkan dari tidur
  • Dipicu oleh Valsalva, batuk, atau aktivitas fisik
  • Pola perubahan dari nyeri kepala yang sudah ada sebelumnya

Dari Pemeriksaan Fisik:

  • Demam yang tidak dapat dijelaskan
  • Kaku kuduk atau keterbatasan fleksi leher
  • Defisit neurologis fokal
  • Gangguan kesadaran, memori, atau kepribadian
  • Kehilangan kesadaran yang disaksikan
  • Penurunan berat badan

Pendekatan Diagnostik

Evaluasi Awal

  • Anamnesis lengkap harus mencakup: usia onset, durasi episode, frekuensi, lokasi nyeri, kualitas nyeri, keparahan, faktor yang memperburuk/meringankan, gejala penyerta, gejala aura, riwayat penggunaan obat 1
  • Pemeriksaan neurologis lengkap dengan perhatian khusus pada sistem neurologis, kardiak, dan respiratorik 1
  • Tanda vital termasuk tekanan darah ortostatik 9

Pencitraan

  • MRI otak lebih disukai daripada CT untuk presentasi subakut atau kecurigaan tumor/proses inflamasi karena resolusi lebih tinggi dan tanpa radiasi ionisasi 1, 3, 7
  • CT kepala non-kontras diindikasikan jika presentasi <6 jam dari onset nyeri kepala akut berat (sensitivitas 95% hari ke-0 untuk perdarahan subaraknoid) 3
  • MRA/CTA jika dicurigai diseksi arteri atau stroke akut 1
  • MRV/CTV jika dicurigai trombosis sinus vena atau hipertensi intrakranial 1, 3
  • MRI tulang belakang untuk evaluasi sumber kebocoran CSF pada hipotensi intrakranial 1

Investigasi Laboratorium

  • Pungsi lumbal mungkin diperlukan untuk mengkonfirmasi atau menyingkirkan kecurigaan penyebab sekunder seperti infeksi atau tekanan CSF abnormal 1
  • ESR/CRP jika dicurigai arteritis temporal pada pasien >50 tahun 3
  • TSH dan T4 bebas pagi hari jika ada intoleransi dingin atau pusing 3

Peringatan Penting

  • Riwayat nyeri kepala primer yang sudah ada sebelumnya TIDAK menyingkirkan sefalgia sekunder - bahkan dapat menjadi predisposisi dalam kasus tertentu 2
  • Perubahan pola nyeri kepala yang sudah ada harus meningkatkan kecurigaan terhadap penyebab sekunder 2, 4
  • Pencitraan hanya diindikasikan ketika gangguan nyeri kepala sekunder dicurigai berdasarkan red flags, bukan untuk diagnosis rutin migrain 1, 8
  • Tes laboratorium rutin tidak direkomendasikan untuk presentasi migrain tipikal tanpa red flags 8
  • Kegagalan mengenali gejala red flag dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis atau penanganan yang salah dari gangguan nyeri kepala sekunder yang mengancam jiwa 8, 2

References

Guideline

Guideline Directed Topic Overview

Dr.Oracle Medical Advisory Board & Editors, 2025

Guideline

Approach to Assessment of Headache

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Research

Secondary Headache Syndromes.

Continuum (Minneapolis, Minn.), 2018

Research

Headache Disorders: Differentiating Primary and Secondary Etiologies.

Journal of integrative neuroscience, 2024

Research

Neuroimaging in Secondary Headache Disorders.

Current pain and headache reports, 2015

Guideline

Diagnostic Approach to Migraine

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Guideline

Diagnostic Approach to Headache and Lightheadedness

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.