Teknik Anestesi yang Direkomendasikan untuk Prosedur Pembedahan
Untuk sebagian besar prosedur pembedahan, gunakan anestesi umum seimbang (balanced anesthesia) dengan agen kerja pendek: propofol atau volatile anestesi (sevoflurane/desflurane) dikombinasikan dengan opioid kerja pendek (remifentanil), dengan pemantauan kedalaman anestesi menggunakan BIS targeting 40-60, dan teknik multimodal opioid-sparing untuk meminimalkan morbiditas dan mempercepat pemulihan. 1, 2, 3
Prinsip Dasar Anestesi Seimbang
Anestesi umum modern menggunakan pendekatan seimbang dimana berbagai obat dikombinasikan untuk mencapai tiga tujuan spesifik: ketidaksadaran/amnesia, analgesia, dan relaksasi otot. 4, 5 Pendekatan ini memungkinkan penggunaan dosis minimal dari setiap agen untuk meminimalkan efek samping sambil mengoptimalkan kondisi operasi. 6
Pilihan Teknik Anestesi Berdasarkan Jenis Prosedur
Anestesi Umum dengan Volatile Anestesi
- Sevoflurane atau desflurane merupakan pilihan utama karena farmakokinetik yang cepat, memungkinkan kontrol kedalaman anestesi yang baik dan pemulihan yang cepat 1, 7
- Volatile anestesi terbukti menurunkan pelepasan troponin dan mempertahankan fungsi ventrikel kiri dibandingkan propofol atau midazolam pada pasien dengan penyakit arteri koroner 1
- Sevoflurane yang diberikan sepanjang operasi menurunkan troponin dan lama rawat ICU melalui efek preconditioning dan postconditioning jantung 1
- Hindari nitrous oxide karena meningkatkan mual muntah pascaoperasi dan menunda fungsi usus 1, 3, 8
Total Intravenous Anesthesia (TIVA)
- Propofol TCI (target-controlled infusion) dengan target effect-site 0.5-1 mcg/mL dikombinasikan dengan remifentanil 0.05-0.3 mcg/kg/menit merupakan standar untuk TIVA 2, 3, 9
- TIVA dengan propofol secara signifikan mengurangi PONV dibandingkan volatile anestesi, sehingga menjadi pilihan superior untuk pasien dengan risiko tinggi mual muntah 1, 2, 3, 8
- Hindari bolus dosing propofol untuk mencegah instabilitas hemodinamik; gunakan TCI untuk onset yang cepat 2, 3
- TIVA memberikan pemulihan yang cepat dan dapat diprediksi dengan pengembalian refleks jalan napas yang lebih cepat 3, 10
Anestesi Neuraksial (Spinal/Epidural)
- Untuk prosedur infrainguinal: spinal atau epidural dapat dilakukan dengan perubahan hemodinamik minimal jika blokade terbatas pada dermatomal yang sesuai 1
- Untuk prosedur abdominal: teknik neuraksial memerlukan level dermatomal tinggi yang dapat menyebabkan efek hemodinamik signifikan termasuk hipotensi 1
- Tujuh uji klinis acak pada operasi vaskular menunjukkan tidak ada perbedaan outcome antara anestesi regional dan umum 1
- Epidural torakal menurunkan komplikasi pulmonal pascaoperasi tetapi tidak mempengaruhi insidensi infark miokard atau mortalitas 1
- Pada subgrup pasien operasi aorta, epidural menurunkan insidensi MI dari 7.9% menjadi 2.7% (p<0.05) 1
Monitored Anesthesia Care (MAC)
- MAC dikaitkan dengan insidensi mortalitas 30 hari tertinggi, kemungkinan karena bias seleksi pasien dengan komorbid signifikan 1
- MAC memberikan blokade respons stres yang buruk kecuali anestesi lokal memberikan anestesi yang mendalam 1
- Sedasi berlebihan dapat terjadi untuk mencapai efek yang diinginkan, sehingga anestesi umum atau regional mungkin lebih aman 1
Komponen Anestesi Umum yang Optimal
Induksi
- Propofol sebagai agen induksi kerja pendek dikombinasikan dengan opioid kerja pendek (fentanyl, alfentanil, atau remifentanil) 8, 9
- Rocuronium 0.9-1.2 mg/kg untuk intubasi, atau succinylcholine 1-2 mg/kg sebagai alternatif jika rocuronium tidak tersedia 2, 3, 8
- Untuk prosedur laparoskopi emergensi, gunakan rapid sequence induction dengan pelumpuh otot kerja cepat 8
Maintenance
- Remifentanil infusion 0.05-0.3 mcg/kg/menit sebagai opioid pilihan karena onset dan offset yang sangat cepat 2, 10, 9
- Dosis remifentanil >1 mcg/kg tidak direkomendasikan sebagai dosis awal 10
- Laju infusi akhir remifentanil rata-rata 0.25-0.48 mcg/kg/menit 10
- Menggandakan laju infusi remifentanil 5 menit sebelum stimulus bedah mayor menurunkan insidensi tanda anestesi ringan dari 67% menjadi 8% 10
Adjuvan untuk Mengurangi Komplikasi
- Dexamethasone 0.15-0.25 mg/kg (maksimum 0.5 mg/kg) saat induksi untuk mengurangi pembengkakan dan inflamasi pascaoperasi 2
- Ketamine 0.5 mg/kg bolus diikuti 0.1-0.2 mg/kg/jam infusion untuk mengurangi hiperalgesia yang diinduksi opioid 2
- Dexmedetomidine 0.5-1 mcg/kg bolus kemudian 0.2-0.7 mcg/kg/jam untuk operasi berkepanjangan (4-6 jam) 2
Pemantauan Intraoperatif yang Wajib
- BIS monitoring targeting 40-60 untuk mencegah awareness dan menghindari kedalaman anestesi berlebihan 2, 3, 8
- Hindari BIS <35 pada pasien >60 tahun untuk mengurangi risiko delirium pascaoperasi 2, 3, 8
- Quantitative neuromuscular monitoring wajib saat menggunakan pelumpuh otot, dengan dokumentasi train-of-four ratio ≥0.90 sebelum ekstubasi 2, 3, 8
- Pemantauan tekanan darah invasif arterial sebelum induksi jika memungkinkan, dengan vasopressor (ephedrine atau metaraminol) segera tersedia 2, 3
Strategi Ventilasi
- Tidal volume rendah 6-8 ml/kg predicted body weight dengan PEEP ≥5 cm H2O untuk prosedur laparoskopi 8
- Penambahan PEEP yang cukup dan manuver rekruitmen mengurangi atelektasis intra dan pascaoperasi 1
- Untuk operasi laparoskopi, fleksi trunk pasien (posisi sedikit duduk) memungkinkan eksursi abdominal yang lebih besar dan tekanan jalan napas yang lebih rendah 1
Emergence dan Ekstubasi
- Reversal blokade neuromuskular harus dipandu nerve stimulator dengan tujuan mengembalikan kapasitas motorik sebelum membangunkan pasien 1, 3
- Pasien harus memiliki refleks jalan napas yang kembali dan bernapas dengan tidal volume yang baik sebelum ekstubasi 1, 2, 3
- Ekstubasi dilakukan dengan pasien sadar dan dalam posisi duduk 1, 3
- Untuk pasien obesitas dengan OSA terkonfirmasi, masukkan nasopharyngeal airway sebelum emergence 1, 3
Manajemen Nyeri Pascaoperasi
- Analgesia multimodal opioid-sparing harus digunakan secara rutin 1, 2, 3
- Transisi ke analgesia oral multimodal sesegera mungkin dengan acetaminophen terjadwal 10-15 mg/kg setiap 6 jam dan NSAID terjadwal jika tidak kontraindikasi 2
- Fentanyl 0.5-1.0 mcg/kg dititrasi untuk breakthrough pain di PACU, dengan alternatif morphine 25-100 mcg/kg atau ketamine 0.25-0.5 mg/kg 2
- Opioid hanya untuk nyeri breakthrough berat 2, 3
- Teknik anestesi lokal atau regional (infiltrasi, field block, nerve block) harus diterapkan jika memungkinkan 1, 9
Pertimbangan Khusus untuk Populasi Tertentu
Pasien Obesitas
- Pertimbangkan dosis propofol berdasarkan lean body weight 3
- Asumsikan semua pasien obesitas memiliki sleep-disordered breathing dan modifikasi teknik sesuai: hindari anestesi umum dan sedatif jika memungkinkan, gunakan agen kerja pendek, pemantauan kedalaman anestesi, analgesia multimodal opioid-sparing, pertahankan posisi head-up selama pemulihan 1, 3
- Reinstate CPAP rumah segera setelah kembali ke ruangan jika pasien menggunakannya 1, 3
Pasien Lansia (>60 tahun)
- Target kedalaman anestesi lebih ringan (BIS 50 vs 35) untuk mengurangi delirium pascaoperasi 3, 8
- Hindari nilai BIS yang sangat rendah dan burst suppression 3
- Monitor ketat untuk hipotensi karena lansia lebih sensitif terhadap efek kardiovaskular propofol 3
Peringatan Penting
- Tidak ada bukti superioritas TIVA dibandingkan inhalasi anestesi dalam hal outcome jangka panjang, bahkan pada populasi risiko tinggi termasuk pasien kanker 6
- Pemulihan dari remifentanil cepat dan dapat diprediksi, dengan ekstubasi median 5 menit (outpatient) hingga 10 menit (inpatient) 10
- Tidak ada kasus delayed respiratory depression yang terjadi >30 menit setelah penghentian remifentanil 10
- Pemberian morphine sulfate 0.15 mg/kg IV 20 menit sebelum akhir operasi tidak menunda pemulihan respiratory drive pada pasien dengan remifentanil-propofol TIVA 10