Mengapa Harus Diberikan Balanced Anesthesia
Balanced anesthesia (anestesia seimbang) harus diberikan karena pendekatan ini menggunakan kombinasi obat-obatan berbeda dengan dosis lebih rendah untuk mencapai kondisi anestesi yang optimal, sehingga memaksimalkan efek yang diinginkan sambil meminimalkan efek samping dibandingkan penggunaan satu agen tunggal dalam dosis tinggi. 1, 2
Prinsip Dasar Balanced Anesthesia
Balanced anesthesia adalah strategi yang menggabungkan berbagai obat untuk menciptakan kondisi anestesi yang ideal, menghindari ketergantungan pada satu agen anestesi saja. 2 Pendekatan ini didasarkan pada "triad klasik anestesi" yang terdiri dari:
- Hipnotik untuk menciptakan ketidaksadaran
- Analgesik untuk mengendalikan nosisepsi dan nyeri
- Pelumpuh otot untuk memfasilitasi pembedahan 3, 2
Dengan menggunakan beberapa obat dalam dosis yang lebih kecil, balanced anesthesia mengurangi kemungkinan efek samping dari masing-masing obat dibandingkan jika obat tersebut diberikan sendiri dalam dosis tinggi. 2
Manajemen Nosisepsi Intraoperatif sebagai Komponen Utama
Manajemen nosisepsi intraoperatif sebagai bagian dari teknik balanced anesthesia harus mengikuti prinsip-prinsip berikut: 1
- Analgesia multimodal, yang terbukti menghemat opioid dan memberikan kontrol nyeri yang superior 1
- Promosi pemulihan fungsi normal yang cepat (minum, makan, dan mobilisasi) 1
- Teknik analgesia hemat-opioid dan penggunaan adjuvan hemat-opioid sangat dianjurkan 1
Keuntungan Klinis Spesifik
Mengurangi Respons Stres Bedah
Protokol anestesi untuk pasien yang menjalani operasi besar dilakukan dengan tujuan memberikan anestesi yang mengurangi respons stres bedah, memberikan analgesia, dan mendorong pemulihan mobilisasi, makan, dan minum yang cepat. 1
Kontrol Efek Samping Postoperatif
Balanced anesthesia memungkinkan kontrol yang lebih baik terhadap efek samping yang paling umum dihadapi pasien, termasuk: 3
- Mual dan muntah postoperatif (PONV)
- Keterlambatan bangun
- Gangguan memori
- Sakit kepala
- Perubahan perilaku negatif
Profilaksis multimodal untuk PONV pada kelompok pasien berisiko tinggi sangat diperlukan. 1
Pemulihan yang Lebih Cepat
Penggunaan anestesi kerja-pendek, monitoring kedalaman blok neuromuskular, dan reversal lengkap direkomendasikan. 1 Anestesi volatil seperti desflurane dan sevoflurane, dengan farmakokinetik yang cepat, menjadikan balanced anesthesia sebagai teknik yang setara dan mudah dikontrol. 4
Pemilihan Agen Anestesi
Untuk Induksi dan Maintenance
Agen induksi kerja-pendek seperti propofol dikombinasikan dengan opioid kerja-pendek (fentanil, alfentanil, atau infus remifentanil) direkomendasikan untuk induksi. 5
Untuk maintenance, dapat digunakan: 5
- Anestesi inhalasi kerja-pendek (sevoflurane atau desflurane dalam udara yang diperkaya oksigen), atau
- Total intravenous anesthesia (TIVA)
TIVA dengan propofol mungkin sangat bermanfaat pada pasien dengan risiko tinggi PONV. 5
Pertimbangan Khusus untuk Pasien Jantung
Agen volatil terbukti kardioprotektif selama operasi jantung dan direkomendasikan untuk operasi non-jantung mayor pada pasien dengan penyakit jantung. 6
Monitoring yang Diperlukan
Monitoring kedalaman anestesi menggunakan processed EEG seperti bispectral index (BIS) harus digunakan untuk mengoptimalkan hasil pasien, terutama pada pasien di atas 60 tahun untuk mengurangi risiko delirium postoperatif dan hipotensi yang diinduksi anestesi. 7
Target BIS sekitar 50 (versus level yang lebih dalam dengan BIS 35) dapat secara signifikan mengurangi delirium postoperatif pada pasien di atas 60 tahun. 7
Analgesia Regional sebagai Komponen
Teknik anestesi regional (spinal atau epidural) dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari pendekatan balanced: 1
- Epidural torakal dapat dipertimbangkan untuk prosedur laparoskopi terbuka atau assisted untuk mengurangi respons stres dan memberikan kontrol nyeri postoperatif yang lebih baik 5
- Alternatif epidural termasuk lidokain intravena, anestesi spinal dengan anestesi lokal dan opioid, dan pemberian intraperitoneal anestesi lokal 5
Strategi Ventilasi
Tidal volume rendah (6-8 ml/kg berat badan prediksi) dengan positive end-expiratory pressure (PEEP ≥ 5 cm H2O) harus digunakan. 5
Peringatan Penting dan Pitfall yang Harus Dihindari
Pada Pasien Lansia
- Kedalaman anestesi yang berlebihan harus dihindari pada pasien lansia karena meningkatkan risiko delirium postoperatif dan hipotensi 7
- Dosis opioid harus digunakan dengan hati-hati pada pasien lansia (>70 tahun) karena risiko depresi pernapasan postoperatif 5
Manajemen Cairan dan Metabolik
- Keseimbangan cairan harus ditinjau dengan tujuan euvolemia 1
- Normotermia harus dipertahankan menggunakan alat penghangat aktif dan pemanasan cairan intravena 5
- Kadar glukosa darah harus dipantau dan dijaga <10 mmol/l menggunakan insulin intravena bila diperlukan 5
Reversal Neuromuskular
Monitoring neuromuskular kuantitatif perifer harus digunakan untuk memastikan reversal yang adekuat sebelum ekstubasi. 5 Sugammadex dapat dipertimbangkan untuk reversal relaksasi otot yang dalam, terutama dengan rocuronium. 5
Nitrous Oxide
Nitrous oxide tidak direkomendasikan karena meningkatkan mual dan muntah. 1
Transisi ke Periode Postoperatif
Protokol analgesik postoperatif multimodal harus digunakan secara rutin, dan resep opioid untuk dibawa pulang harus diminimalkan. 1 Rute oral harus digunakan sesegera mungkin untuk pemberian obat-obatan. 1