Pendekatan Bedah untuk Fraktur Femur Distal
Posisi Pasien
Pasien diposisikan terlentang (supine) di meja operasi dengan pinggul rata dan lutut yang terkena sedikit fleksi untuk memfasilitasi akses bedah. 1 Lengan ditempelkan ke samping tubuh, dan bantalan defibrilator ditempatkan di luar area operasi dengan mempertimbangkan kemungkinan sternotomi darurat jika diperlukan. 1
- Elevasi ringan pada hemitoraks yang terkena (sekitar 30 derajat) dapat membantu akses, terutama untuk pendekatan lateral. 1
- Hindari fleksi berlebihan dan rotasi internal pada pinggul yang tidak dioperasi untuk mencegah kerusakan tekanan. 2
- Posisikan dengan simpatik untuk mencegah luka tekan dan neuropraksia, terutama pada pasien lanjut usia dengan kulit rapuh. 2
Pendekatan Bedah Utama
1. Pendekatan Anterolateral (Modified Swashbuckler)
Pendekatan anterolateral yang dimodifikasi memberikan visualisasi superior dari kondilus femoral lateral dan medial tanpa mengorbankan mekanisme ekstensor lutut atau suplai vaskular patella. 3
- Insisi dimulai dari aspek lateral patella, meluas ke proksimal sepanjang garis lateral paha. 3
- Pendekatan ini mempertahankan anastomosis arteri patella dan integritas aparatus ekstensor, memungkinkan mobilisasi berat badan yang cepat. 3
- Teknik ini sangat efektif untuk fraktur AO/OTA tipe 33 dan fraktur periprostetik lutut. 3
Keuntungan utama:
- Tidak mengganggu vaskularisasi patella 3
- Mempertahankan mekanisme ekstensor utuh 3
- Memberikan visualisasi yang sangat baik dari kondilus medial dan lateral 3
- Memungkinkan mobilisasi dini dan pemulihan aktivitas harian yang cepat 3
2. Pendekatan Lateral Langsung
Pendekatan lateral standar digunakan untuk fraktur yang lebih sederhana atau ketika fiksasi pelat lateral tunggal sudah cukup. 4
- Insisi dibuat di sepanjang aspek lateral femur distal, memanjang dari metafisis ke kondilus lateral. 4
- Pendekatan ini memberikan akses langsung untuk pemasangan distal femur locking compression plate (DFLCP). 4
3. Pendekatan Dual Incision untuk Dual Plating
Untuk fraktur dengan kehilangan tulang suprakondilus medial, fraktur bikondilus trans-kondilus rendah, fraktur Hoffa medial, atau fraktur kominutif berat (AO tipe C3), dual plating dengan konfigurasi ortogonal diperlukan. 5
- Pendekatan insisi tunggal atau dual incision dapat digunakan sesuai preferensi ahli bedah. 5
- Pelat medial ditambahkan ke pelat lateral untuk stabilitas yang lebih baik pada fraktur kompleks. 5
- Indikasi spesifik termasuk: 5
- Kehilangan tulang suprakondilus medial
- Fraktur bikondilus trans-kondilus rendah
- Fraktur Hoffa medial
- Fraktur periprostetik femur distal
- Non-union setelah fiksasi pelat lateral tunggal gagal
- Kualitas tulang yang buruk dan fraktur femur distal kominutif
Pemilihan Teknik Fiksasi
Distal Femur Locking Compression Plate (DFLCP)
DFLCP adalah implan yang lebih baik untuk fraktur inter-kondilus (intra-artikular) dan fraktur femur distal yang sangat kominutif, memberikan fiksasi anatomis dan stabil. 4
- Kehilangan darah intraoperatif rata-rata: 425 ml 4
- Waktu penyatuan rata-rata: 8,15 bulan 4
- Hasil fungsional sangat baik dicapai pada 46% kasus 4
Intramedullary Supracondylar Nail (IMSCN)
IMSCN lebih disukai untuk fraktur ekstra-artikular dengan kompromi jaringan lunak minimal. 4
- Kehilangan darah intraoperatif rata-rata: 242,85 ml (lebih rendah dari DFLCP) 4
- Waktu penyatuan rata-rata: 7,15 bulan (lebih cepat dari DFLCP) 4
- Reduksi tertutup mempertahankan hematoma fraktur dan mengurangi kompromi jaringan lunak 4
- Hasil fungsional sangat baik dicapai pada 42,85% kasus 4
Distal Femoral Replacement (DFR)
Untuk fraktur periprostetik dengan kualitas tulang yang sangat buruk atau kegagalan ORIF sebelumnya, DFR dapat dipertimbangkan. 6
- Tingkat komplikasi bedah serupa dengan ORIF (14,9% vs 20,5%) 6
- Tingkat reoperasi serupa (12,5% vs 12,9%) 6
- Peringatan penting: Tingkat komplikasi medis lebih tinggi dengan DFR (23,1% vs 8,5%, P = 0,0006) 6
Pertimbangan Teknis Kritis
Reduksi Anatomis
Mencapai reduksi anatomis di bawah panduan fluoroskopi dalam proyeksi AP dan lateral sangat penting, dengan restorasi kontinuitas korteks medial dan sudut leher-batang normal (sekitar 130-135 derajat). 2
Pitfall yang Harus Dihindari
- Reduksi yang tidak memadai sebelum fiksasi dapat menyebabkan malunion dan kegagalan hardware 2
- Over-compression dapat menyebabkan kominutif fraktur pada tulang osteoporotik 2
- Hindari penempatan stent primer di arteri femoralis kecuali untuk menyelamatkan hasil yang suboptimal dari dilatasi balon 7
Manajemen Perioperatif
Preoperatif
- Berikan antibiotik profilaksis dalam satu jam sebelum insisi kulit 2
- Monitor kedalaman anestesi dengan pemantauan BIS untuk menghindari depresi kardiovaskular 2
- Berikan cairan intravena preoperatif secara rutin 2
- Implementasikan strategi pemanasan aktif intraoperatif 2
- Hindari traksi preoperatif - tidak ada manfaat dan secara khusus tidak direkomendasikan 2
Postoperatif
- Mobilisasi berat badan segera sesuai toleransi dengan fiksasi yang memadai 2, 8
- Berikan fondaparinux atau low molecular weight heparin untuk profilaksis DVT 2, 8
- Waktu pemberian low molecular weight heparin antara 18:00-20:00 untuk meminimalkan risiko perdarahan 2
- Lanjutkan parasetamol reguler sepanjang periode perioperatif 2, 8
- Gunakan opioid dengan hati-hati, terutama pada pasien dengan disfungsi ginjal 2, 8
- Jangan berikan kodein karena konstipasi, emesis, dan asosiasi dengan disfungsi kognitif postoperatif 2
Komplikasi dan Manajemen
Kompromi jaringan lunak pada fraktur terbuka grade 3B mempengaruhi hasil fungsional secara signifikan. 4 Tingkat reintervention substansial, dengan revisi lokal terkait prosedur diperlukan pada 8,6% pasien. 7