Tatalaksana Emfisema
Penghentian merokok adalah intervensi tunggal paling penting dalam tatalaksana emfisema, dikombinasikan dengan bronkodilator inhalasi, rehabilitasi paru, dan oksigen jangka panjang untuk hipoksemia berat. 1
Modifikasi Faktor Risiko
Penghentian merokok merupakan prioritas utama dan harus menjadi fokus pada setiap kunjungan pasien 1. Paparan terhadap debu okupasional, asap, gas, dan polutan udara dalam dan luar ruangan juga harus dikurangi secara total 1.
Terapi Farmakologis
Bronkodilator
- Bronkodilator inhalasi (beta-agonis dan antikolinergik) mengurangi gejala dan meningkatkan status kesehatan 1
- Pasien dengan eosinofilia saluran napas menunjukkan respons bronkodilator yang lebih baik terhadap beta-agonis 1
- Bronkodilator harus digunakan jika terdapat obstruksi aliran udara 1
Kortikosteroid
- Kortikosteroid oral berguna pada pasien dengan komponen asma yang jelas, namun harus digunakan dengan hati-hati dalam jangka panjang karena efek pada kehilangan massa tulang 1
- Kehilangan tinggi tulang belakang berkontribusi pada kehilangan volume paru dan disabilitas akibat nyeri spinal 1
Antibiotik
- Antibiotik harus digunakan pada pasien dengan bukti bronkitis atau infeksi saluran napas atas 1
- Makrolid dapat mengurangi inflamasi neutrofilik, namun pengembangan resistensi bakteri memerlukan penggunaan beta-laktam atau kuinolon 1
- Pasien dengan bronkiektasis memerlukan terapi antibiotik yang lebih lama 1
Terapi Oksigen dan Dukungan Ventilasi
Oksigen Jangka Panjang
- Pemberian oksigen jangka panjang (>15 jam/hari) meningkatkan survival pada pasien dengan hipoksemia istirahat berat 1
- Oksigen harus digunakan pada pasien dengan desaturasi saat latihan 1
- Terapi oksigen jangka panjang TIDAK memperpanjang waktu hingga kematian atau hospitalisasi pertama pada pasien PPOK stabil dengan desaturasi oksigen arterial sedang saat istirahat atau latihan 1
Dukungan Ventilasi
- Pada pasien dengan PPOK dan obstructive sleep apnea (OSA), continuous positive airway pressure meningkatkan survival dan menghindari hospitalisasi 1
Rehabilitasi Paru
Rehabilitasi paru meningkatkan daya tahan, mengurangi dispnea, dan mengurangi jumlah hospitalisasi 1. Program ini menggabungkan:
- Pengembangan kebugaran kardiovaskular
- Peningkatan kepercayaan diri
- Kontrol stres 1
Peringatan penting: Efek latihan berkurang seiring waktu setelah terapi selesai, sehingga diperlukan pemantauan dan motivasi berkelanjutan 1.
Manajemen Gejala Psikologis
Depresi
- Tanda awal depresi seperti kehilangan nafsu makan harus dikenali dan diobati secara agresif 1
- Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI) efektif untuk depresi 1
- Antidepresan trisiklik dapat ditoleransi dengan buruk pada pasien dengan produksi sputum kronis 1
Gangguan Panik dan Ansietas
- Benzodiazepin kerja pendek dapat digunakan, namun efek samping dapat membatasi kegunaannya 1
- Buspirone (agonis parsial reseptor 5-hidroksitriptamin) sangat efektif jika digunakan dalam dosis yang cukup tinggi 1
- SSRI juga berguna untuk gangguan ansietas 1
- Teknik relaksasi non-farmakologis seperti yoga dapat membantu 1
Nutrisi
- Penurunan berat badan dan malnutrisi adalah masalah umum pada emfisema akibat peningkatan metabolisme dari peningkatan kerja pernapasan 1
- Dukungan nutrisi intensif sebagian besar tidak berhasil dalam mengembalikan berat badan ideal 1
- Makan dalam porsi kecil dan lebih sering dapat mengurangi dispnea dengan mengurangi kembung abdomen 1
Intervensi Bedah
Lung Volume Reduction Surgery (LVRS)
Pasien PPOK dengan emfisema lobus atas dan kapasitas latihan rendah pasca-rehabilitasi mengalami peningkatan survival dengan LVRS dibandingkan terapi medis 1.
Kontraindikasi LVRS (mortalitas lebih tinggi daripada manajemen medis) 1:
- FEV1 ≤20% prediksi DAN
- Emfisema homogen pada HRCT ATAU
- DLCO ≤20% prediksi
Bullectomy
Pada pasien terpilih dengan jaringan paru yang relatif terpelihara, bullectomy berhubungan dengan penurunan dispnea dan peningkatan fungsi paru serta toleransi latihan 1.
Transplantasi Paru
- Transplantasi paru meningkatkan status kesehatan dan kapasitas fungsional tetapi tidak memperpanjang survival 1
- Transplantasi paru bilateral dilaporkan memiliki survival lebih lama daripada transplantasi paru tunggal pada pasien PPOK, terutama yang berusia <60 tahun 1
Intervensi Bronkoskopik
Endobronchial Valve
- Studi RCT menunjukkan peningkatan FEV1 dan jarak jalan 6 menit yang signifikan secara statistik, namun besaran peningkatan tidak bermakna secara klinis 1
- Efikasi bervariasi pada pasien dengan emfisema heterogen atau homogen 1
Nitinol Coils
- Dua uji coba multisenter melaporkan peningkatan jarak jalan 6 menit dengan terapi coil dibandingkan kontrol 1
- Peningkatan lebih kecil pada FEV1 dan kualitas hidup 1
Peringatan: Data tambahan diperlukan untuk mendefinisikan populasi pasien optimal dan membandingkan durabilitas jangka panjang dengan LVRS 1.
Terapi Augmentasi (untuk Defisiensi Alpha-1 Antitrypsin)
Untuk pasien dengan emfisema akibat defisiensi AAT berat, terapi augmentasi intravena dengan konsentrat AAT plasma manusia (60 mg/kg berat badan sekali seminggu) meningkatkan kadar AAT paru hingga 60-70% normal 1. Terapi ini disetujui FDA pada tahun 1988 1.
Perawatan Paliatif
Untuk dispnea berat yang tidak teratasi 1:
- Fokus pada pengurangan dispnea, nyeri, ansietas, depresi, kelelahan, dan nutrisi buruk
- Diskusi perawatan akhir kehidupan harus melibatkan pasien dan keluarga
- Perencanaan perawatan lanjutan dapat mengurangi ansietas dan memastikan perawatan sesuai keinginan pasien