Antibiotik Pilihan Utama untuk Abses Retrofaring
Untuk abses retrofaring, antibiotik pilihan utama adalah kombinasi beta-laktam (seperti ceftriaxone atau ampicillin-sulbactam) ditambah clindamycin atau metronidazole untuk memberikan cakupan terhadap bakteri aerob dan anaerob, terutama Streptococcus pyogenes, Staphylococcus aureus (termasuk MRSA), dan bakteri anaerob penghasil beta-laktamase.
Mikrobiologi Abses Retrofaring
Abses retrofaring memiliki mikrobiologi polimikrobial yang kompleks:
- Bakteri aerob dominan: Streptococcus pyogenes (grup A streptococcus), Staphylococcus aureus, dan Haemophilus influenzae 1, 2
- Bakteri anaerob: Prevotella, Porphyromonas, Fusobacterium, dan Peptostreptococcus species ditemukan pada sebagian besar abses ketika teknik kultur yang tepat digunakan 2
- Peningkatan MRSA: Terdapat peningkatan signifikan infeksi MRSA community-associated pada abses retrofaring, terutama pada anak-anak 3
- Organisme penghasil beta-laktamase: Lebih dari dua pertiga abses leher dalam mengandung organisme penghasil beta-laktamase 2
Regimen Antibiotik yang Direkomendasikan
Pilihan Utama (Terapi Empirik Awal)
Ceftriaxone 1-2 g IV setiap 24 jam (dewasa) atau 50-100 mg/kg/hari IV (anak) DITAMBAH Clindamycin 600-900 mg IV setiap 8 jam (dewasa) atau 10-13 mg/kg/dosis IV setiap 6-8 jam (anak) 3, 2
Kombinasi ini memberikan:
- Cakupan terhadap Streptococcus pyogenes dan bakteri aerob gram-positif 2
- Cakupan terhadap MRSA melalui clindamycin 3
- Cakupan terhadap bakteri anaerob dan organisme penghasil beta-laktamase 2, 4
Pilihan Alternatif
Ampicillin-sulbactam 3 g IV setiap 6 jam (dewasa) atau 50 mg/kg/dosis IV setiap 6 jam (anak) DITAMBAH Metronidazole 500 mg IV setiap 8 jam (dewasa) atau 7.5 mg/kg/dosis IV setiap 6 jam (anak) 2, 4
- Regimen ini efektif untuk cakupan aerob dan anaerob 4
- Metronidazole memberikan cakupan anaerob yang sangat baik 4
Pertimbangan Khusus untuk MRSA
Pada populasi dengan prevalensi MRSA tinggi atau pada pasien dengan faktor risiko:
- Anak usia <12 bulan memiliki risiko lebih tinggi untuk infeksi MRSA dan memerlukan durasi rawat inap lebih lama (rata-rata 8.8 hari vs 4.5 hari) 3
- Semua isolat MRSA pada studi retrofaring sensitif terhadap clindamycin, menjadikannya pilihan yang sangat baik 3
- Komplikasi serius seperti mediastinitis lebih sering terjadi dengan MRSA 3
Jika MRSA dicurigai kuat atau dikonfirmasi, pertimbangkan:
- Vancomycin 15-20 mg/kg/dosis IV setiap 8-12 jam (dewasa) atau 15 mg/kg/dosis IV setiap 6 jam (anak) sebagai alternatif clindamycin 5
- Linezolid 600 mg IV/PO setiap 12 jam (dewasa) atau 10 mg/kg/dosis IV/PO setiap 8 jam (anak) untuk kasus resisten 5
Prinsip Manajemen Penting
Drainase Bedah
- Terapi antibiotik sistemik dosis tinggi harus diberikan segera setelah diagnosis ditegakkan 2
- Ketika pus telah terbentuk, terapi antimikroba hanya efektif bila dikombinasikan dengan drainase bedah yang adekuat 2
- Drainase intraoral adalah teknik bedah yang disukai oleh 83% praktisi 6
Durasi Terapi
- Terapi intravena dilanjutkan hingga perbaikan klinis signifikan (biasanya 48-72 jam bebas demam dengan perbaikan gejala) 3
- Transisi ke antibiotik oral setelah respons klinis baik, dengan total durasi terapi 10-14 hari 3, 2
- Untuk terapi oral lanjutan: amoxicillin-clavulanate atau clindamycin 3, 2
Peringatan Klinis Penting
- Abses yang tidak diobati dapat ruptur spontan ke faring, menyebabkan aspirasi katastrofik 2
- Komplikasi serius termasuk: obstruksi jalan napas, erosi ke pembuluh darah besar, atau ekstensi ke mediastinum 2
- Jangan gunakan rifampin sebagai monoterapi atau terapi adjuvan untuk infeksi jaringan lunak 5
- Studi bakteriologis rutin tidak diperlukan pada presentasi awal, tetapi pertimbangkan kultur jika tidak ada respons terhadap terapi empirik 4