What is the primary antibiotic of choice for treating a retropharyngeal abscess?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: December 23, 2025View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Antibiotik Pilihan Utama untuk Abses Retrofaring

Untuk abses retrofaring, antibiotik pilihan utama adalah kombinasi beta-laktam (seperti ceftriaxone atau ampicillin-sulbactam) ditambah clindamycin atau metronidazole untuk memberikan cakupan terhadap bakteri aerob dan anaerob, terutama Streptococcus pyogenes, Staphylococcus aureus (termasuk MRSA), dan bakteri anaerob penghasil beta-laktamase.

Mikrobiologi Abses Retrofaring

Abses retrofaring memiliki mikrobiologi polimikrobial yang kompleks:

  • Bakteri aerob dominan: Streptococcus pyogenes (grup A streptococcus), Staphylococcus aureus, dan Haemophilus influenzae 1, 2
  • Bakteri anaerob: Prevotella, Porphyromonas, Fusobacterium, dan Peptostreptococcus species ditemukan pada sebagian besar abses ketika teknik kultur yang tepat digunakan 2
  • Peningkatan MRSA: Terdapat peningkatan signifikan infeksi MRSA community-associated pada abses retrofaring, terutama pada anak-anak 3
  • Organisme penghasil beta-laktamase: Lebih dari dua pertiga abses leher dalam mengandung organisme penghasil beta-laktamase 2

Regimen Antibiotik yang Direkomendasikan

Pilihan Utama (Terapi Empirik Awal)

Ceftriaxone 1-2 g IV setiap 24 jam (dewasa) atau 50-100 mg/kg/hari IV (anak) DITAMBAH Clindamycin 600-900 mg IV setiap 8 jam (dewasa) atau 10-13 mg/kg/dosis IV setiap 6-8 jam (anak) 3, 2

Kombinasi ini memberikan:

  • Cakupan terhadap Streptococcus pyogenes dan bakteri aerob gram-positif 2
  • Cakupan terhadap MRSA melalui clindamycin 3
  • Cakupan terhadap bakteri anaerob dan organisme penghasil beta-laktamase 2, 4

Pilihan Alternatif

Ampicillin-sulbactam 3 g IV setiap 6 jam (dewasa) atau 50 mg/kg/dosis IV setiap 6 jam (anak) DITAMBAH Metronidazole 500 mg IV setiap 8 jam (dewasa) atau 7.5 mg/kg/dosis IV setiap 6 jam (anak) 2, 4

  • Regimen ini efektif untuk cakupan aerob dan anaerob 4
  • Metronidazole memberikan cakupan anaerob yang sangat baik 4

Pertimbangan Khusus untuk MRSA

Pada populasi dengan prevalensi MRSA tinggi atau pada pasien dengan faktor risiko:

  • Anak usia <12 bulan memiliki risiko lebih tinggi untuk infeksi MRSA dan memerlukan durasi rawat inap lebih lama (rata-rata 8.8 hari vs 4.5 hari) 3
  • Semua isolat MRSA pada studi retrofaring sensitif terhadap clindamycin, menjadikannya pilihan yang sangat baik 3
  • Komplikasi serius seperti mediastinitis lebih sering terjadi dengan MRSA 3

Jika MRSA dicurigai kuat atau dikonfirmasi, pertimbangkan:

  • Vancomycin 15-20 mg/kg/dosis IV setiap 8-12 jam (dewasa) atau 15 mg/kg/dosis IV setiap 6 jam (anak) sebagai alternatif clindamycin 5
  • Linezolid 600 mg IV/PO setiap 12 jam (dewasa) atau 10 mg/kg/dosis IV/PO setiap 8 jam (anak) untuk kasus resisten 5

Prinsip Manajemen Penting

Drainase Bedah

  • Terapi antibiotik sistemik dosis tinggi harus diberikan segera setelah diagnosis ditegakkan 2
  • Ketika pus telah terbentuk, terapi antimikroba hanya efektif bila dikombinasikan dengan drainase bedah yang adekuat 2
  • Drainase intraoral adalah teknik bedah yang disukai oleh 83% praktisi 6

Durasi Terapi

  • Terapi intravena dilanjutkan hingga perbaikan klinis signifikan (biasanya 48-72 jam bebas demam dengan perbaikan gejala) 3
  • Transisi ke antibiotik oral setelah respons klinis baik, dengan total durasi terapi 10-14 hari 3, 2
  • Untuk terapi oral lanjutan: amoxicillin-clavulanate atau clindamycin 3, 2

Peringatan Klinis Penting

  • Abses yang tidak diobati dapat ruptur spontan ke faring, menyebabkan aspirasi katastrofik 2
  • Komplikasi serius termasuk: obstruksi jalan napas, erosi ke pembuluh darah besar, atau ekstensi ke mediastinum 2
  • Jangan gunakan rifampin sebagai monoterapi atau terapi adjuvan untuk infeksi jaringan lunak 5
  • Studi bakteriologis rutin tidak diperlukan pada presentasi awal, tetapi pertimbangkan kultur jika tidak ada respons terhadap terapi empirik 4

References

Research

Retropharyngeal abscess: a clinical review.

The Journal of laryngology and otology, 1997

Research

Microbiology and management of peritonsillar, retropharyngeal, and parapharyngeal abscesses.

Journal of oral and maxillofacial surgery : official journal of the American Association of Oral and Maxillofacial Surgeons, 2004

Research

[The role of anaerobic bacteria in peritonsillar abscesses].

Polski merkuriusz lekarski : organ Polskiego Towarzystwa Lekarskiego, 2008

Guideline

Guideline Directed Topic Overview

Dr.Oracle Medical Advisory Board & Editors, 2025

Research

Retropharyngeal abscess management in children: current practices.

Otolaryngology--head and neck surgery : official journal of American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery, 1999

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.