Bladder Training Sebelum Pelepasan Kateter Indwelling
Bladder training TIDAK diperlukan sebelum pelepasan kateter indwelling dan tidak memberikan manfaat klinis yang signifikan.
Rekomendasi Berdasarkan Bukti Terkini
Bladder training melalui clamping kateter sebelum pelepasan tidak meningkatkan tingkat keberhasilan trial without catheter (TWOC) dan tidak mengurangi risiko retensi urin yang memerlukan kateterisasi ulang 1, 2.
Studi terbesar (845 pasien dengan retensi urin akut akibat BPH) menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna dalam tingkat keberhasilan TWOC antara kelompok bladder training (65.2%) versus free drainage (68.6%), dengan p > 0.05 2.
Penelitian pada pasien artroplasti total (218 pasien) juga mengkonfirmasi tidak ada keuntungan bladder training, dengan angka retensi urin 2.6% pada kelompok bladder training versus 5.8% pada kelompok free drainage (p = 0.316) 1.
Prosedur yang Direkomendasikan
Langkah pelepasan kateter yang tepat:
Lepaskan kateter indwelling sesegera mungkin ketika indikasi medis sudah tidak ada, idealnya dalam 24-48 jam untuk meminimalkan risiko infeksi 3, 4, 5.
Lakukan pelepasan kateter dengan teknik free drainage tanpa prosedur clamping atau bladder training 1, 2.
Untuk pasien dengan BPH atau risiko retensi urin, berikan alpha blocker (tamsulosin 0.4 mg atau alfuzosin 10 mg sekali sehari) minimal 3 hari sebelum mencoba pelepasan kateter untuk meningkatkan tingkat keberhasilan TWOC 5.
Monitoring Pasca-Pelepasan Kateter
Pemantauan yang diperlukan setelah kateter dilepas:
Monitor kemampuan berkemih pasien secara ketat setelah pelepasan kateter, karena ini lebih penting daripada bladder training 1.
Lakukan pengukuran post-void residual (PVR) menggunakan bladder scanner atau kateterisasi in-and-out untuk mendeteksi retensi urin 3, 4.
Jika PVR >300 mL atau pasien tidak dapat berkemih dalam 6-8 jam, pertimbangkan kateterisasi intermiten daripada memasang kembali kateter indwelling 4, 5.
Pertimbangan Khusus Berdasarkan Kondisi Pasien
Untuk pasien stroke:
Implementasikan program bladder training yang individualized dengan prompted voiding SETELAH kateter dilepas, bukan sebelumnya 3, 5.
Lepaskan kateter Foley dalam 48 jam untuk menghindari peningkatan risiko infeksi saluran kemih 3.
Untuk pasien dengan BPH atau prostatism:
Pasien dengan riwayat prostatism memiliki odds ratio 26.42 (p < 0.001) untuk memerlukan kateterisasi ulang, sehingga memerlukan monitoring lebih ketat 1.
Terapi kombinasi alpha blocker dan 5-alpha reductase inhibitor dapat dipertimbangkan untuk mencegah episode retensi berulang pada prostat besar (>30cc) 5.
Kesalahan yang Harus Dihindari
Jangan melakukan bladder training dengan clamping kateter karena tidak ada bukti manfaatnya dan hanya menunda pelepasan kateter 1, 2.
Jangan memasang kembali kateter indwelling untuk kenyamanan staf atau caregiver ketika kateterisasi intermiten masih feasible, karena ini meningkatkan risiko infeksi secara dramatis 4.
Jangan membiarkan kateter indwelling terpasang lebih dari 48 jam tanpa indikasi medis yang jelas, karena risiko catheter-associated urinary tract infection (CAUTI) meningkat sekitar 5% per hari 6.
Hindari penggunaan obat antimuskarinik untuk gejala overactive bladder pada pasien dengan PVR >250-300 mL, karena dapat memperburuk retensi 4.