Hubungan Reaksi Hipersensitivitas Tipe 3 dan Systemic Lupus Erythematosus
Systemic Lupus Erythematosus (SLE) adalah penyakit prototipe reaksi hipersensitivitas tipe III, di mana deposisi kompleks imun menyebabkan inflamasi dan kerusakan jaringan di berbagai organ. 1, 2
Mekanisme Patofisiologi Dasar
SLE merupakan penyakit autoimun multisistem yang ditandai oleh:
- Produksi autoantibodi terhadap antigen nuklear (terutama anti-dsDNA, anti-histon, dan anti-nukleosoma) yang membentuk kompleks imun 1, 3
- Deposisi kompleks imun lokal di dinding pembuluh darah, glomerulus, dan sendi yang mengaktivasi sistem komplemen 1, 3
- Reaksi inflamasi berat akibat aktivasi komplemen yang menyebabkan vaskulitis, glomerulonefritis, dan artritis 3, 4
Peran Kompleks Imun dalam Manifestasi Klinis
Mekanisme hipersensitivitas tipe III menjelaskan manifestasi organ spesifik:
- Lupus nefritis: Deposisi kompleks anti-nuklear dengan kromatin yang dilepaskan di glomerulus menyebabkan inflamasi ginjal yang parah 3
- Vaskulopati sistemik: Akumulasi kompleks imun di dinding pembuluh darah menyebabkan kerusakan vaskular 1, 2
- Manifestasi multiorgan: Kompleks imun dapat mengendap di berbagai jaringan, menjelaskan heterogenitas klinis SLE 1, 2
Faktor Pemicu Pembentukan Kompleks Imun
Beberapa mekanisme berkontribusi pada pembentukan kompleks imun patogenik:
- Gangguan apoptosis dan NETosis: Proses kematian sel yang abnormal meningkatkan pelepasan debris apoptotik termasuk kromatin 3, 5
- Gangguan klirens: Ketidakmampuan membersihkan debris apoptotik/kromatin dari matriks ekstraseluler dan sirkulasi 3
- Defisiensi DNase1: Penurunan aktivitas nukleasa serum utama yang bertanggung jawab menghilangkan DNA dari antigen nuklear, terbukti pada model hewan dan pasien SLE 4
Implikasi Klinis dan Monitoring
Pemahaman mekanisme hipersensitivitas tipe III memandu pendekatan klinis:
- Monitoring aktivitas penyakit: Kadar komplemen (C3, C4) yang rendah mengindikasikan konsumsi komplemen aktif akibat deposisi kompleks imun 1
- Anti-dsDNA sebagai biomarker: Perubahan titer anti-dsDNA berkorelasi dengan aktivitas penyakit dan penyakit ginjal aktif, mencerminkan pembentukan kompleks imun 1
- Evaluasi proteinuria: Rasio protein/kreatinin urin memberikan informasi tentang deposisi kompleks imun di ginjal 1
Pertimbangan Penting dalam Praktik
Beberapa peringatan klinis yang perlu diperhatikan:
- Bukan semua manifestasi SLE dimediasi kompleks imun: Beberapa manifestasi mungkin melibatkan mekanisme autoimun lain atau efek langsung autoantibodi 2
- CRP biasanya tidak meningkat pada SLE: Peningkatan signifikan CRP (>50 mg/L) harus menimbulkan kecurigaan infeksi superimposed, bukan aktivitas penyakit 1, 6
- Heterogenitas autoantibodi: Tidak ada korespondensi unik antara target autoantibodi dan manifestasi klinis, meskipun pola tertentu memiliki nilai prognostik 1