Pencegahan Reaksi Hipersensitivitas Tipe 3 pada Anestesi Umum
Klarifikasi Penting tentang Tipe Reaksi
Perlu dipahami bahwa reaksi hipersensitivitas yang terjadi selama anestesi umum hampir selalu merupakan reaksi tipe I (anafilaksis yang dimediasi IgE) atau reaksi non-imunologik, bukan reaksi hipersensitivitas tipe 3 (kompleks imun). 1 Reaksi tipe 3 memerlukan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu untuk terbentuk dan tidak relevan dalam konteks anestesi akut. 2
Pada pasien dengan Systemic Lupus Erythematosus (SLE) yang menjalani anestesi umum, fokus pencegahan sebenarnya adalah pada reaksi anafilaksis tipe I dan pengelolaan kondisi SLE itu sendiri, bukan reaksi tipe 3.
Strategi Pencegahan Utama
Anamnesis Pra-Operatif yang Menyeluruh
Identifikasi riwayat reaksi anafilaksis sebelumnya adalah langkah pencegahan paling penting. 1
- Tanyakan secara spesifik tentang riwayat kolaps kardiorespirasi atau reaksi alergi selama anestesi sebelumnya 1
- Tanyakan tentang alergi lateks dengan menanyakan apakah kontak dengan balon, kondom, atau sarung tangan lateks menyebabkan gatal, ruam, atau angioedema 1
- Identifikasi alergi terhadap buah-buahan (pisang, kastanye, alpukat) yang dapat bereaksi silang dengan lateks 1
- Dokumentasikan riwayat alergi obat, terutama antibiotik dan obat pelemas otot 3, 4
Tidak Ada Manfaat Skrining Rutin
Skrining pra-operatif tidak memiliki nilai pada pasien tanpa riwayat reaksi anafilaksis sebelumnya. 1 Sensitivitas dan spesifisitas tes kulit dan tes darah relatif rendah, dan jika probabilitas pre-test sangat rendah (tidak ada riwayat positif), baik tes negatif maupun positif tidak akan prediktif terhadap hasil. 1
Premedikasi TIDAK Efektif
Tidak ada bukti bahwa pretreatment dengan hidrokortison atau obat antihistamin akan mengurangi keparahan anafilaksis. 1 Meskipun beberapa sumber menyebutkan premedikasi dengan antihistamin dan kortikosteroid mungkin mengurangi keparahan reaksi terhadap obat atau bahan kontras, tidak jelas apakah pretreatment menurunkan insiden reaksi anafilaksis. 5 Tidak ada bukti bahwa premedikasi mencegah reaksi alergi terhadap lateks. 5 Dokter tidak boleh mengandalkan efikasi premedikasi. 5
Manajemen Pasien dengan Riwayat Reaksi Sebelumnya
Jika Rekam Medis Tersedia
Hindari semua obat yang diberikan selama anestesi sebelumnya sebelum onset kolaps kardiorespirasi, kecuali agen inhalasi. 1
- Jika pasien menerima obat pelemas otot neuromuskular sebelum kolaps, hindari semua obat pelemas otot neuromuskular jika memungkinkan karena sensitivitas silang sering terjadi 1, 6
- Agen inhalasi kemungkinan aman kecuali kolaps sebelumnya disebabkan oleh hipertermia maligna 1
Jika Rekam Medis Tidak Tersedia
Hindari semua obat pelemas otot neuromuskular jika memungkinkan (ahli anestesi perlu menilai keseimbangan risiko). 1
- Obat yang digunakan dalam anestesi lokal dan regional kemungkinan aman; alergi terhadap obat anestesi lokal amida sangat jarang 1
- Hindari preparat klorheksidin jika memungkinkan; alergi terhadap povidon iodin lebih jarang daripada alergi terhadap klorheksidin 1
- Hindari obat yang diketahui melepaskan histamin, misalnya morfin, karena reaksi sebelumnya mungkin merupakan hasil dari anafilaksis non-alergi 1
Pencegahan Alergi Lateks
Identifikasi Pasien Risiko Tinggi
Sekitar 8% populasi tersensitisasi terhadap lateks tetapi hanya 1,4% populasi menunjukkan alergi lateks. 1 Kelompok berisiko tinggi meliputi:
- Pasien dengan atopi 1, 2
- Anak-anak yang menjalani prosedur bedah multipel, seperti spina bifida, atau anak-anak yang menjalani operasi pada usia sangat muda 1, 2
- Pasien dengan dermatitis berat pada tangan mereka 1, 2
- Profesional kesehatan 1, 2
- Pasien dengan alergi terhadap buah-buahan; paling sering pisang, kastanye, dan alpukat 1, 2
Tindakan Pencegahan Perioperatif untuk Alergi Lateks
Jika alergi lateks didiagnosis pra-operatif, penghindaran adalah wajib. 1
- Alergi lateks harus dicatat dalam catatan kasus dan pada gelang pergelangan tangan pasien 1
- Tim bedah dan tim dukungan keperawatan dan anestesi harus diperingatkan 1
- Ruang operasi harus disiapkan malam sebelumnya untuk menghindari pelepasan partikel lateks dan pasien harus dijadwalkan pertama dalam daftar 1
- Pemberitahuan 'Alergi lateks' harus ditempatkan di pintu ruang anestesi dan ruang operasi 1
- Lalu lintas staf harus dibatasi 1
- Penggunaan absolut sarung tangan sintetis saat menyiapkan peralatan dan selama anestesi, operasi, dan perawatan pasca operasi 1
- Area anestesi dan bedah harus hanya berisi produk bebas lateks 1
Pertimbangan Khusus untuk Obat Tertentu
Propofol pada Pasien dengan Alergi Telur/Kedelai
Tidak ada bukti yang dipublikasikan yang menunjukkan bahwa propofol harus dihindari pada pasien yang alergi terhadap telur, kedelai, atau kacang-kacangan. 1 Propofol mengandung fosfatida telur yang dimurnikan dan minyak kedelai, dan kemungkinan proses manufaktur menghilangkan atau mendenaturasi protein yang bertanggung jawab untuk alergi telur dan alergi kedelai. 1 Namun, pendekatan hati-hati tampaknya tepat pada pasien dengan alergi telur atau alergi kedelai. 1
Antiseptik
Hindari preparat klorheksidin pada pasien dengan riwayat reaksi yang tidak jelas; alergi terhadap povidon iodin lebih jarang. 1 Yodium bukanlah alergen—ini adalah elemen jejak esensial yang diperlukan untuk kehidupan dan tidak dapat memicu respons imun. 7 Pasien dengan alergi kerang atau makanan laut tidak berisiko tinggi untuk reaksi terhadap produk yang mengandung yodium dibandingkan dengan populasi umum. 7
Investigasi Pasca-Reaksi
Setiap reaksi hipersensitivitas yang dicurigai selama anestesi harus diselidiki secara ekstensif untuk mengkonfirmasi sifat reaksi, mengidentifikasi obat yang bertanggung jawab, dan memberikan rekomendasi untuk prosedur anestesi di masa depan. 3, 4
- Rujukan ke spesialis alergi adalah wajib untuk semua reaksi hipersensitivitas yang dicurigai 2, 5
- Tes kulit sangat bergantung pada teknik dan interpretasinya memerlukan pelatihan dan pengalaman spesialis 1
- Patch testing oleh ahli berguna dalam diagnosis hipersensitivitas tipe IV yang tertunda terhadap karet 1, 2