Penanganan Intraoperatif Hipotensi
Pertahankan mean arterial pressure (MAP) ≥60 mmHg pada pasien berisiko selama operasi, dan tangani hipotensi berdasarkan penyebab yang mendasarinya menggunakan vasopresor yang sesuai setelah optimalisasi volume. 1
Target Tekanan Darah Intraoperatif
- MAP harus dipertahankan ≥60 mmHg pada pasien berisiko tinggi untuk mencegah cedera ginjal akut, cedera miokard, infark miokard, dan kematian 1
- Tekanan darah sistolik harus dijaga ≥90-100 mmHg untuk mencegah komplikasi organ 1
- Tingkatkan target MAP ketika tekanan vena atau kompartemen meningkat (misalnya posisi Trendelenburg, insuflasi gas peritoneal, tekanan intraabdomen tinggi) dengan menambahkan nilai tekanan kompartemen ke target MAP 1
- Pada pasien dengan hipertensi sebelumnya, pertimbangkan target MAP yang lebih tinggi berdasarkan tekanan darah baseline pasien 1
Algoritma Penanganan Hipotensi Intraoperatif
Langkah 1: Optimalisasi Volume Terlebih Dahulu
- Koreksi deplesi volume darah sepenuhnya sebelum memberikan vasopresor 2, 3
- Gunakan terapi cairan goal-directed dengan monitoring stroke volume untuk memandu resusitasi cairan 2
- Gunakan kristaloid seimbang (Ringer Laktat atau Plasmalyte) dengan kecepatan 1-2 ml/kg/jam 4
- Hindari saline 0,9% karena meningkatkan risiko asidosis hiperkloremik dan disfungsi ginjal 4
Langkah 2: Identifikasi Penyebab Hipotensi
Tangani hipotensi berdasarkan penyebab yang mendasari: 1
- Vasodilatasi: gunakan vasopresor
- Hipovolemia: berikan cairan (jika responsif terhadap cairan)
- Bradikardia: atasi gangguan irama
- Cardiac output rendah: pertimbangkan inotropik
Langkah 3: Pilihan Vasopresor
Norepinefrin adalah vasopresor lini pertama setelah status volume dioptimalkan: 1, 2, 5
- Memberikan efek vasokonstriktor dan agonis beta-1 untuk mendukung kontraktilitas jantung 2
- Dosis pemeliharaan rata-rata: 2-4 mcg/menit (0,5-1,4 mcg/kg/menit) 5, 3
- Titrasi untuk mencapai MAP ≥60-65 mmHg 2, 5
- Dapat diberikan melalui akses vena perifer sementara sambil memasang akses vena sentral 5
Fenilefrin sebagai alternatif: 1, 6
- Bolus intravena: 50-250 mcg 6
- Infus kontinu: 0,5-1,4 mcg/kg/menit 6
- Perhatian: dapat menyebabkan bradikardia refleks dan menurunkan cardiac output, sehingga mungkin mengurangi perfusi organ meskipun tekanan darah meningkat 1
Efedrin: 1
- Mengalami takifilaksis dengan penggunaan berulang 1
- Kurang disukai dibandingkan norepinefrin untuk perlindungan organ 1
Monitoring Intraoperatif
- Pertimbangkan monitoring tekanan darah arteri kontinu karena dapat membantu mengurangi keparahan dan durasi hipotensi dibandingkan monitoring intermiten 1
- Pasang jalur arteri untuk monitoring kontinu pada pasien yang memerlukan vasopresor 5
- Gunakan kombinasi sinergis monitoring CVP dan stroke volume variation (SVV) untuk panduan hemodinamik 4
- Monitor untuk responsivitas cairan sebelum memberikan cairan tambahan, karena sekitar 50% pasien hipotensi tidak responsif terhadap cairan 5
Peringatan Penting dan Kesalahan yang Harus Dihindari
- Jangan gunakan vasopresor sebagai terapi lini pertama tanpa memastikan status volume yang adekuat 2, 4
- Jangan hindari vasopresor sepenuhnya ketika hipotensi menetap meskipun volume adekuat, karena hipotensi berkepanjangan menyebabkan cedera organ 2
- Jangan tunda inisiasi vasopresor sambil menunggu resusitasi cairan tambahan pada pasien dengan hipotensi berat, karena dapat mengancam jiwa 5
- Ketika hipotensi terjadi selama pemeliharaan CVP rendah (misalnya operasi hepatobilier), tangani dengan vasopresor bukan bolus cairan untuk menghindari peningkatan CVP dan perdarahan bedah 4
- Jangan tangani hipotensi akibat epidural atau nitrogliserin dengan cairan berlebihan; gunakan vasopresor 4
- Hindari hipotensi ketika menangani hipertensi intraoperatif 1
Pertimbangan Khusus
- Pada pasien dengan risiko kardiovaskular tinggi, pertimbangkan target MAP yang lebih tinggi (75 mmHg) untuk mengurangi cedera miokard 1
- Pada pasien usia lanjut (≥65 tahun), target MAP 95-100 mmHg dapat mengurangi delirium pascaoperasi hingga 50% 1
- Hipotensi pascaoperasi sering tidak terdeteksi dan mungkin lebih penting daripada hipotensi intraoperatif karena sering berkepanjangan dan tidak diobati 1