Terapi Trombositosis Reaktif pada Anak
Trombositosis reaktif pada anak umumnya tidak memerlukan pengobatan khusus dan hanya memerlukan observasi serta penanganan penyakit yang mendasarinya, karena risiko komplikasi tromboembolik sangat rendah dan jumlah trombosit akan kembali normal setelah penyebab primer terkontrol. 1, 2, 3
Prinsip Manajemen Utama
Observasi tanpa terapi antitrombotik adalah pendekatan yang direkomendasikan untuk anak-anak dengan trombositosis reaktif yang tidak memiliki faktor risiko tambahan untuk trombosis, bahkan pada kasus trombositosis ekstrem (jumlah trombosit >1.000.000/μL). 4
Karakteristik Trombositosis Reaktif
- Trombositosis reaktif sangat umum pada anak-anak, terjadi pada 3-13% anak yang dirawat di rumah sakit 1
- Sebanyak 99,8% kasus trombositosis pada anak adalah sekunder/reaktif, bukan primer 3
- Trombositosis ringan (>500.000/μL hingga <700.000/μL) terjadi pada 72-86% anak, sedangkan trombositosis ekstrem (>1.000.000/μL) hanya terjadi pada 0,5-3% kasus 1
- Risiko komplikasi tromboembolik pada anak dengan trombositosis reaktif sangat rendah jika tidak ada faktor risiko trombosis lainnya 4
Algoritma Penanganan
Langkah 1: Identifikasi dan Tangani Penyebab Primer
- Infeksi dengan anemia (48,3%) adalah penyebab paling umum trombositosis reaktif, diikuti oleh defisiensi besi saja (17,2%) dan infeksi saja (16,2%) 3
- Infeksi respiratorik (28,3%) merupakan penyebab infeksi yang paling sering diamati 3
- Penyebab lain termasuk inflamasi kronis, kerusakan jaringan, keganasan, obat-obatan, dan splenektomi bedah atau fungsional 1, 2
- Keparahan trombositosis meningkat seiring dengan keparahan anemia, terutama pada anemia defisiensi besi 3
Langkah 2: Monitor Jumlah Trombosit Secara Berkala
- Jumlah trombosit biasanya kembali normal setelah faktor penyebab primer terkontrol 2
- Konsultasi dengan hematologi anak diperlukan jika peningkatan jumlah trombosit menetap, tidak dapat dijelaskan, atau bergejala 1
- Pada mayoritas kasus, tidak diperlukan pengobatan dan pasien hanya perlu dimonitor secara ketat 1
Langkah 3: Pertimbangan Terapi Khusus (Jarang Diperlukan)
Terapi antiplatelet atau sitoreduksi hanya dipertimbangkan pada kondisi sangat spesifik:
- Terapi antiplatelet dengan aspirin dapat dipertimbangkan untuk pasien dengan risiko trombosis atau trombositosis ekstrem yang bergejala 2
- Terapi sitoreduksi (hidroksikarbamid, interferon-alfa, atau anagrelide) dapat dilakukan bila diperlukan, tetapi efek toksik dan efek samping obat harus dipantau ketat 2
- Pada pasien dengan keganasan non-mieloproliferatif yang menyebabkan trombositosis reaktif, terdapat peningkatan risiko komplikasi tromboembolik, namun belum ada bukti ilmiah yang kuat untuk profilaksis antitrombotik 4
Peringatan Penting dan Pitfall yang Harus Dihindari
- Jangan memberikan terapi antitrombotik rutin pada anak dengan trombositosis reaktif tanpa faktor risiko trombosis tambahan, bahkan pada trombositosis ekstrem 4
- Jangan mengabaikan kemungkinan trombositosis primer jika peningkatan trombosit menetap tanpa penyebab yang jelas - rujuk ke hematologi anak 1
- Trombositosis primer (essential thrombocythemia, polycythemia vera, chronic myeloid leukemia) sangat jarang pada anak (insidensi 1 per juta anak), tetapi harus dipertimbangkan jika jumlah trombosit umumnya >1.000.000/μL dan menetap 1, 2
- Tidak ada manifestasi tromboembolik yang diamati pada anak-anak dengan trombositosis reaktif dalam studi observasional 3
Indikasi Evaluasi Lebih Lanjut
- Trombositosis yang menetap setelah penyebab primer teratasi 1
- Trombositosis tanpa penyebab yang jelas 1
- Trombositosis yang disertai gejala (perdarahan atau trombosis) 1
- Trombositosis ekstrem dengan kecurigaan kelainan mieloproliferatif (perlu pemeriksaan apusan darah tepi, aspirasi sumsum tulang, dan mutasi gen seperti JAK2) 2, 5