Is phenytoin use related to mortality in a CNS lymphoma patient undergoing chemotherapy?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: January 17, 2026View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Hubungan Fenitoin dengan Kematian pada Pasien Limfoma SSP yang Menjalani Kemoterapi

Ya, penggunaan fenitoin berhubungan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas pada pasien limfoma SSP yang menjalani kemoterapi, dan harus dihindari.

Bukti Langsung Bahaya Fenitoin

Fenitoin secara khusus dikaitkan dengan peningkatan kematian dan disabilitas pada pasien tumor otak. Pedoman American Heart Association/American Stroke Association tahun 2023 menyatakan dengan tegas bahwa fenitoin untuk pencegahan kejang berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas berlebihan 1. Pedoman tahun 2015 juga menemukan bahwa pasien yang menerima obat antikejang (terutama fenitoin) tanpa kejang terdokumentasi secara signifikan lebih mungkin meninggal atau mengalami disabilitas pada 90 hari 1. Studi observasional single-center juga menemukan hasil serupa khusus untuk fenitoin 1.

Interaksi Berbahaya dengan Kemoterapi

Fenitoin memiliki interaksi metabolik yang kompleks dan berbahaya dengan agen kemoterapi yang digunakan untuk limfoma SSP:

  • Fluktuasi kadar yang tidak terduga: Pasien dengan tumor SSP yang menerima kemoterapi mengalami fluktuasi dramatis dalam kadar fenitoin, dengan peningkatan dosis yang diperlukan hingga 50-300% (rata-rata 134%) setelah memulai kemoterapi 2. Perubahan ini terjadi sedini 2 hari setelah pemberian kemoterapi 3.

  • Metabolisme CYP2C9: Fenitoin dimetabolisme secara ekstensif melalui enzim CYP2C9 hepatik 4. Agen kemoterapi seperti fluorouracil dan derivatnya (termasuk doxifluridine) menghambat CYP2C9, menyebabkan peningkatan kadar fenitoin hingga empat kali lipat dan toksisitas 4, 5.

  • Penurunan kadar dengan cisplatin: Sebaliknya, cisplatin (sering digunakan dalam rejimen limfoma) menyebabkan penurunan kadar fenitoin lebih dari 20% pada 65% siklus kemoterapi 3.

Toksisitas Fenitoin pada Pasien Kanker

Gejala toksisitas fenitoin mencakup: konfusi, nistagmus, agitasi, gangguan gait, dan halusinasi 6. Pada pasien dengan kanker lanjut, gejala-gejala ini dapat disalahartikan sebagai progresi penyakit atau efek samping kemoterapi, menunda pengenalan dan penanganan 6.

Rekomendasi Antikonvulsan yang Aman

Levetiracetam adalah pilihan lini pertama untuk pasien limfoma SSP yang menjalani kemoterapi:

  • Metabolisme hepatik minimal dan ekskresi renal primer (66% tidak berubah dalam urin) 7, 8
  • Tidak ada interaksi dengan agen kemoterapi 8
  • Dosis loading: 500-1500 mg oral atau intravena 7, 8
  • Ditoleransi lebih baik daripada asam valproat dengan risiko toksisitas hematologik yang lebih rendah 8

Alternatif jika levetiracetam tidak dapat ditoleransi:

  • Lacosamide: metabolisme hepatik minimal, tersedia dalam formulasi oral dan intravena 7, 8
  • Gabapentin atau pregabalin: tidak mengalami metabolisme hepatik, ekskresi renal 7, 8

Kapan Antikonvulsan Diperlukan

Profilaksis antikonvulsan TIDAK direkomendasikan untuk pasien tanpa riwayat kejang:

  • Meta-analisis American Academy of Neurology menyimpulkan bahwa antikonvulsan profilaksis tidak mengurangi risiko kejang pertama 1
  • Pedoman SNO dan EANO 2021 menemukan 3 studi acak kelas I, 8 studi kelas II, dan 11 studi kelas III yang menunjukkan pasien tidak mendapat manfaat dari profilaksis primer 1
  • European Federation of Neurological Sciences merekomendasikan menahan antikonvulsan profilaksis untuk pasien tanpa riwayat kejang 1

Antikonvulsan hanya diindikasikan untuk:

  • Pasien yang mengalami kejang klinis 1
  • Kejang elektrografis pada pasien dengan perubahan status mental 1
  • Periode perioperatif (dapat dihentikan setelah periode perioperatif) 1

Peringatan Penting

Hindari fenitoin, carbamazepine, dan phenobarbital pada pasien yang menerima kemoterapi karena mereka adalah inducer kuat metabolisme hepatik dan mengganggu banyak agen kemoterapi 8. Asam valproat juga harus dihindari meskipun non-enzyme-inducing karena potensi hepatotoksisitas langsung 7, 8.

Jika pasien sudah menggunakan fenitoin, pertimbangkan untuk beralih ke levetiracetam sebelum memulai kemoterapi untuk menghindari fluktuasi kadar yang tidak terduga dan risiko mortalitas yang meningkat 1, 8.

References

Guideline

Guideline Directed Topic Overview

Dr.Oracle Medical Advisory Board & Editors, 2025

Research

Decreased phenytoin levels in patients receiving chemotherapy.

The American journal of medicine, 1989

Research

Phenytoin and fluorouracil interaction.

The Annals of pharmacotherapy, 2001

Research

Probable metabolic interaction of doxifluridine with phenytoin.

The Annals of pharmacotherapy, 2002

Guideline

Antiepileptic Medications Safe for Patients with Transaminitis

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Guideline

Antiepileptic Drugs with Minimal Hepatic Effects

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.