Kemoterapi untuk Small Cell Lung Carcinoma dengan Metastase Hepar: Persyaratan Fungsi Hati
Kemoterapi untuk small cell lung carcinoma (SCLC) dengan metastase hepar tidak mensyaratkan SGOT dan SGPT yang normal, tetapi pemeriksaan enzim hati harus dilakukan sebagai bagian dari penilaian awal dan monitoring. 1
Persyaratan Pra-Kemoterapi Berdasarkan Guideline
Pedoman ESMO (European Society for Medical Oncology) secara eksplisit menyatakan bahwa penilaian awal untuk SCLC harus mencakup pemeriksaan enzim hati, tetapi tidak ada persyaratan bahwa nilai-nilai ini harus normal sebelum memulai kemoterapi. 1
Pemeriksaan yang Diperlukan:
- Pemeriksaan enzim hati (SGOT/SGPT) sebagai bagian dari staging awal 1
- Hitung darah lengkap 1
- Fungsi ginjal (lebih kritis untuk dosis kemoterapi) 1
- Elektrolit, kalsium, glukosa, dan laktat dehidrogenase 1
- CT scan thoraks dan abdomen termasuk hepar 1
Regimen Kemoterapi Standar untuk SCLC Extensive-Stage dengan Metastase Hepar
Kombinasi etoposide plus cisplatin atau carboplatin tetap menjadi standar terapi untuk SCLC extensive-stage, termasuk pasien dengan metastase hepar. 2
Pilihan Regimen:
- Etoposide plus cisplatin: Regimen standar lini pertama 2
- Etoposide plus carboplatin: Alternatif dengan efikasi setara (response rate 67% vs 66%, median survival 9.6 vs 9.4 bulan) tetapi toksisitas lebih rendah (kurang mual, neuropati, dan nefrotoksisitas) 2
Pertimbangan Khusus untuk Metastase Hepar
Prognosis:
Pasien SCLC dengan metastase hepar memiliki prognosis yang secara signifikan lebih buruk dibandingkan tanpa metastase hepar, tanpa ada survivors bebas penyakit pada 3 tahun. 3
Modifikasi Terapi:
- Tidak ada kontraindikasi absolut untuk kemoterapi berdasarkan elevasi enzim hati ringan hingga sedang 1
- Monitoring enzim hati selama terapi diperlukan untuk mendeteksi hepatotoksisitas 4
- Abnormalitas fungsi hati yang terjadi selama kemoterapi umumnya ringan dan reversibel pada sekitar 50% kasus 4
Faktor yang Lebih Menentukan Kelayakan Kemoterapi
Performance status (PS) adalah faktor penentu yang jauh lebih penting daripada nilai enzim hati:
Kriteria Kelayakan:
- PS 0-2: Kandidat untuk kemoterapi kombinasi penuh 2
- PS 3-4: Hanya best supportive care atau kemoterapi agen tunggal 2
- Fungsi ginjal: Lebih kritis—GFR <60 mL/min memerlukan substitusi carboplatin untuk cisplatin 2, 4
Monitoring Selama Kemoterapi
Pemeriksaan Rutin:
- Hitung darah lengkap sebelum setiap siklus 5
- Fungsi ginjal sebelum setiap siklus (terutama untuk dosis carboplatin) 5, 2
- Enzim hati periodik untuk mendeteksi hepatotoksisitas 4
- Elektrolit untuk mendeteksi abnormalitas (natrium 29%, kalium 20%, kalsium 22%, magnesium 29% mengalami penurunan) 4
Peringatan Penting
Toksisitas Hematologi (Lebih Kritis):
- Myelosupresi adalah toksisitas dose-limiting utama, bukan hepatotoksisitas 4
- Trombositopenia dan neutropenia memerlukan penundaan atau reduksi dosis 5
- Jika terjadi pancytopenia berat dengan perdarahan, semua kemoterapi harus dihentikan segera 5
Hepatotoksisitas dari Kemoterapi:
- Insidensi abnormalitas tes fungsi hati: bilirubin total 5%, SGOT 15%, alkaline phosphatase 24% 4
- Abnormalitas ini umumnya ringan dan reversibel 4
- Peran tumor metastatik di hepar dapat mempersulit penilaian 4
Kesimpulan Praktis
Mulai kemoterapi untuk SCLC dengan metastase hepar jika:
- Performance status 0-2 2
- Fungsi ginjal adekuat (atau gunakan carboplatin jika GFR <60 mL/min) 2
- Hitung darah adekuat (ANC ≥1,000/mm³, platelet ≥100,000/mm³) 5
Enzim hati yang meningkat bukan kontraindikasi absolut, tetapi harus dimonitor untuk mendeteksi perburukan selama terapi. 1, 4 Keputusan untuk memberikan kemoterapi harus lebih didasarkan pada performance status dan fungsi organ vital lainnya, terutama fungsi ginjal dan sumsum tulang. 2