Klasifikasi Hipertensi Pulmonal Berdasarkan Flow dan Resistance
Klasifikasi Hemodinamik Utama
Hipertensi pulmonal diklasifikasikan secara hemodinamik menjadi dua kategori utama berdasarkan tekanan baji arteri pulmonal (PAWP): pre-kapiler dan post-kapiler, dengan resistance vaskular pulmonal (PVR) sebagai parameter kunci pembeda. 1
Pre-Kapiler Pulmonary Hypertension
Pre-kapiler PH ditandai oleh karakteristik hemodinamik berikut 1, 2:
- Mean PAP ≥25 mmHg saat istirahat
- PAWP ≤15 mmHg
- PVR >3 Wood Units (menunjukkan peningkatan resistance)
Kategori ini mencakup 1:
- Grup 1: Hipertensi Arteri Pulmonal (PAH) - peningkatan resistance tanpa peningkatan flow patologis
- Grup 3: PH akibat penyakit paru dan/atau hipoksemia
- Grup 4: Chronic thromboembolic PH (CTEPH)
- Grup 5: PH dengan mekanisme tidak jelas/multifaktorial
Post-Kapiler Pulmonary Hypertension
Post-kapiler PH ditandai oleh 1, 2:
- Mean PAP ≥25 mmHg saat istirahat
- PAWP >15 mmHg (menunjukkan peningkatan tekanan balik dari jantung kiri)
Post-kapiler PH dibagi lebih lanjut menjadi 1:
1. Isolated Post-Capillary PH (Ipc-PH):
- DPG (diastolic pressure gradient) <7 mmHg dan/atau
- PVR ≤3 Wood Units
- Menunjukkan peningkatan tekanan pasif tanpa komponen resistance yang signifikan
2. Combined Post-Capillary and Pre-Capillary PH (Cpc-PH):
- DPG ≥7 mmHg dan/atau
- PVR >3 Wood Units
- Menunjukkan kombinasi peningkatan tekanan balik DAN peningkatan resistance vaskular
Kategori ini terutama mencakup Grup 2: PH akibat penyakit jantung kiri 1
Klasifikasi Khusus pada Penyakit Jantung Kongenital
Pada pasien dengan riwayat penyakit jantung kongenital, klasifikasi PAH berdasarkan flow dan resistance sangat penting 1:
1. Sindrom Eisenmenger
- Karakteristik: Defek besar intra/ekstra-kardiak dengan shunt sistemik-ke-pulmonal yang berkembang menjadi elevasi PVR yang berat 1
- Hemodinamik: Reversal shunt (pulmonal-ke-sistemik) atau bidirectional akibat PVR melebihi resistance sistemik 1
- Manifestasi: Sianosis, eritrositosis sekunder, keterlibatan multi-organ 1
2. PAH dengan Shunt Sistemik-ke-Pulmonal Predominan
- Karakteristik: Defek moderat hingga besar dengan PVR ringan hingga sedang meningkat 1
- Hemodinamik: Shunt sistemik-ke-pulmonal masih predominan, sianosis saat istirahat tidak ada 1
- Subklasifikasi: Correctable vs non-correctable 1
- Flow: Peningkatan flow pulmonal masih terjadi meskipun resistance mulai meningkat 3, 4
3. PAH dengan Defek Kecil/Coincidental
- Karakteristik: Elevasi PVR yang marked dengan defek kecil (VSD <1 cm, ASD <2 cm pada dewasa) 1
- Hemodinamik: Defek tidak cukup besar untuk menjelaskan peningkatan PVR 1
- Gambaran klinis: Mirip dengan idiopathic PAH 1
- Kontraindikasi: Penutupan defek dikontraindikasikan 1
4. PAH Pasca Koreksi Defek
- Karakteristik: PAH persisten atau rekuren setelah perbaikan defek kongenital 1
- Timing: Dapat terjadi segera pasca koreksi atau bulan/tahun kemudian 1
- Hemodinamik: Tidak ada lesi hemodinamik postoperatif yang signifikan 1
Pertimbangan Penting dalam Evaluasi
Parameter Hemodinamik Kunci
Untuk menentukan klasifikasi yang tepat, evaluasi harus mencakup 1, 5:
- Mean PAP: Threshold diagnostik ≥25 mmHg
- PAWP: Membedakan pre-kapiler (≤15 mmHg) vs post-kapiler (>15 mmHg)
- PVR: Threshold >3 Wood Units untuk PAH
- Cardiac output: Untuk kalkulasi PVR yang akurat
- Rasio flow pulmonal/sistemik (Qp:Qs): Pada kasus dengan shunt 1
Pitfall yang Harus Dihindari
Jangan mengandalkan diameter defek saja pada pasien dewasa dengan penyakit jantung kongenital - pertimbangkan juga gradient tekanan, ukuran shunt, arah shunt, dan rasio Qp:Qs 1
Multi-point pressure/flow measurements lebih baik daripada single-point determination untuk karakterisasi PVR yang lebih akurat, terutama untuk identifikasi penyakit dini dan penilaian respons terapi 5
Occlusion analysis dari kurva decay tekanan arteri pulmonal dapat membantu melokalisasi lokasi peningkatan resistance (proksimal vs distal vasculopathy), terutama pada CTEPH 5
Implikasi Prognostik
Klasifikasi berdasarkan flow dan resistance memiliki implikasi prognostik yang signifikan 3, 4:
- PAH-CHD dengan elevated PVR secara marked meningkatkan morbiditas dan mortalitas 3
- Timing perbaikan bedah krusial untuk mencegah dan meminimalkan risiko PAH postoperatif 6
- Pasien dengan PVR normal atau near-normal dengan shunt sistemik-ke-pulmonal dapat benefit dari penutupan defek terlambat 3
- Pasien dengan PAH dan defek coincidental atau pasca perbaikan CHD harus dikelola seperti idiopathic PAH 3