What is the primary treatment for inflammatory pelvic disease?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: January 30, 2026View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Terapi Penyakit Inflamasi Pelvis (PIP)

Terapi antibiotik spektrum luas yang mencakup Chlamydia trachomatis, Neisseria gonorrhoeae, bakteri anaerob, basil gram-negatif, dan streptokokus merupakan terapi utama untuk penyakit inflamasi pelvis, dengan pilihan regimen bergantung pada tingkat keparahan penyakit dan kemampuan pasien untuk rawat jalan.

Kriteria Hospitalisasi

Keputusan untuk merawat inap pasien harus didasarkan pada kriteria spesifik berikut 1, 2:

  • Kecurigaan abses pelvis - memerlukan evaluasi imaging dan kemungkinan intervensi bedah 1
  • Pasien hamil - risiko komplikasi maternal dan fetal yang lebih tinggi 1
  • Pasien remaja - karena ketidakpatuhan terapi yang tidak dapat diprediksi dan potensi sekuel jangka panjang yang serius 2
  • Penyakit berat yang mencegah manajemen rawat jalan 1
  • Ketidakmampuan mentoleransi regimen rawat jalan 1
  • Kegagalan terapi rawat jalan 1
  • Ketidakmampuan untuk follow-up klinis dalam 72 jam setelah memulai antibiotik 1

Regimen Terapi untuk Pasien Rawat Inap

Regimen A (Pilihan Pertama)

  • Cefoxitin 2 g IV setiap 6 jam ATAU Cefotetan 2 g IV setiap 12 jam 1
  • PLUS Doxycycline 100 mg oral atau IV setiap 12 jam 1
  • Lanjutkan terapi minimal 48 jam setelah perbaikan klinis 1
  • Setelah pulang, lanjutkan doxycycline 100 mg oral dua kali sehari untuk total 10-14 hari 1, 2

Regimen B (Alternatif)

  • Clindamycin 900 mg IV setiap 8 jam 1, 2
  • PLUS Gentamicin dosis loading IV atau IM (2 mg/kg berat badan) diikuti dosis maintenance (1.5 mg/kg) setiap 8 jam 1
  • Lanjutkan minimal 48 jam setelah perbaikan klinis 2

Pertimbangan penting: Clindamycin memberikan cakupan anaerob yang lebih lengkap dibandingkan doxycycline, namun doxycycline tetap menjadi pilihan utama untuk infeksi Chlamydia 1, 2. Kombinasi cefoxitin/doxycycline dan clindamycin/aminoglikosida memiliki pengalaman klinis yang luas dan telah terbukti sangat efektif dengan tingkat kesembuhan klinis 90-98% 2, 3, 4.

Regimen Terapi Rawat Jalan

Untuk kasus ringan hingga sedang yang tidak memerlukan hospitalisasi 1, 2:

  • Cefoxitin 2 g IM PLUS Probenecid 1 g oral bersamaan 1, 2
    • ATAU Ceftriaxone 250 mg IM 1, 2, 5
  • PLUS Doxycycline 100 mg oral dua kali sehari selama 10-14 hari 1, 2

Peringatan penting: Ceftriaxone, seperti sefalosporin lainnya, tidak memiliki aktivitas terhadap Chlamydia trachomatis, sehingga cakupan antiklamidial yang sesuai harus selalu ditambahkan 5. Terapi rawat jalan secara teoritis dapat mengurangi kemungkinan eradikasi patogen yang berhasil dari traktus genitalis atas 2.

Monitoring dan Follow-up

  • Pasien harus menunjukkan perbaikan substansial dalam 3 hari setelah memulai terapi 1
  • Pasien yang tidak membaik dalam interval ini biasanya memerlukan hospitalisasi, tes tambahan, dan intervensi bedah 1, 6
  • Penurunan skor nyeri abdomen lebih dari 70% harus terjadi pada 89% pasien dalam 6 minggu setelah pulang 4

Manajemen Partner Seksual

  • Partner seksual harus diperiksa dan diobati secara empiris dengan regimen yang efektif terhadap C. trachomatis dan N. gonorrhoeae 2
  • Evaluasi dan terapi diperlukan jika mereka memiliki kontak seksual dengan pasien dalam 60 hari sebelum onset gejala 1

Pertimbangan Khusus dalam Pemilihan Terapi

  • Pilihan regimen antibiotik harus mempertimbangkan ketersediaan institusional, kontrol biaya, penerimaan pasien, dan perbedaan regional dalam kerentanan antimikroba 2
  • Setiap regimen yang digunakan HARUS mencakup: C. trachomatis, N. gonorrhoeae, anaerob, basil gram-negatif, dan streptokokus 2, 7, 6
  • Melanjutkan pengobatan setelah pulang sangat penting, terutama untuk pasien dengan kemungkinan infeksi Chlamydia 1, 2

Manajemen Abses Tubo-Ovarium

  • Tingkat keberhasilan terapi antibiotik untuk PIP yang dikomplikasi dengan abses tubo-ovarium adalah 55-81% 3, 4
  • Jika tidak ada perbaikan klinis dengan antibiotik, penempatan drain perkutan dapat mempromosikan kontrol sumber yang efisien 6
  • Intervensi bedah (histerektomi dengan salpingo-ooforektomi bilateral atau unilateral) mungkin diperlukan pada kasus yang tidak responsif 3, 4

References

Guideline

Pelvic Cellulitis Treatment Guidelines

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Guideline

Tratamiento de la Enfermedad Pélvica Inflamatoria

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Research

Identification and Treatment of Acute Pelvic Inflammatory Disease and Associated Sequelae.

Obstetrics and gynecology clinics of North America, 2022

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.