Tatalaksana Demam Tifoid: Antibiotik Lini Pertama, Kedua, Ketiga dan Terapi Tambahan
Antibiotik Lini Pertama
Azithromycin adalah antibiotik lini pertama pilihan untuk demam tifoid, terutama di daerah dengan resistensi fluoroquinolone yang tinggi. 1
Dosis Azithromycin:
- Dewasa: 500 mg oral sekali sehari selama 7 hari 1
- Anak: 20 mg/kg/hari (maksimal 1 gram/hari) oral selama 7 hari 1, 2
Keunggulan Azithromycin:
- Risiko kegagalan klinis lebih rendah (OR 0.48) dibandingkan fluoroquinolone 1
- Lama rawat inap lebih singkat sekitar 1 hari dibandingkan fluoroquinolone 1
- Risiko relaps sangat rendah (OR 0.09) dibandingkan ceftriaxone 1, 3
- Tingkat kesembuhan 94% pada anak dengan demam tifoid 2
Peringatan Penting:
- Jangan gunakan ciprofloxacin secara empiris untuk kasus dari Asia Selatan atau Asia Tenggara karena resistensi mencapai 96% di beberapa wilayah 1
- Lebih dari 70% isolat S. typhi dari Asia Selatan resisten terhadap fluoroquinolone 1, 2
Antibiotik Lini Kedua
Ceftriaxone adalah pilihan lini kedua untuk demam tifoid yang resisten terhadap quinolone atau ketika terapi lini pertama gagal. 3
Dosis Ceftriaxone:
- Dewasa: 2-4 gram IV sekali sehari selama 5-7 hari 3
- Anak: 50-80 mg/kg/hari IV (maksimal 2 gram) sekali sehari selama 5-7 hari 1, 2
Indikasi Ceftriaxone:
- Kasus berat yang memerlukan rawat inap 2
- Demam tifoid yang terbukti resisten terhadap quinolone 3
- Strain multidrug resistant (resisten terhadap chloramphenicol, ampicillin, dan trimethoprim-sulfamethoxazole) 3
Karakteristik Ceftriaxone:
- Tingkat kesembuhan klinis 79-83% dalam uji acak 3
- Demam akan turun dalam 4-5 hari dengan terapi yang tepat 3
- Namun perlu diingat: Azithromycin memiliki tingkat relaps yang jauh lebih rendah (OR 0.09) dibandingkan ceftriaxone, sehingga azithromycin tetap pilihan superior bila tersedia 3
Antibiotik Lini Ketiga
Cefixime (Alternatif Oral):
Peringatan Kritis tentang Cefixime:
- WHO hanya mencantumkan cefixime sebagai opsi "alternatif", bukan lini pertama 1
- Tingkat kegagalan terapi 4-37.6% dalam praktik klinis 1
- Tingkat relaps 4-37.6% 1
- Wajib dilakukan test-of-cure pada minggu ke-1 karena tingkat kegagalan yang tinggi 1
Fluoroquinolone (Hanya dengan Konfirmasi Sensitivitas):
- Levofloxacin atau ciprofloxacin hanya boleh digunakan bila sensitivitas dikonfirmasi melalui kultur dan uji sensitivitas 1, 2
- Jangan gunakan secara empiris karena resistensi yang luas 1
- Kegagalan terapi dengan levofloxacin pada strain resisten mengakibatkan penyakit yang jauh lebih lama (76.4 jam vs 41.2 jam untuk strain sensitif) 1
Chloramphenicol (Pilihan Terakhir):
- Hanya dipertimbangkan sebagai opsi terakhir ketika tidak ada antibiotik lain yang tersedia 2
- Meskipun 97.8% isolat S. Typhi masih sensitif terhadap antibiotik lini pertama konvensional (ampicillin, chloramphenicol, cotrimoxazole) 4, namun tidak lagi menjadi pilihan utama
Terapi Tambahan Selain Antibiotik
1. Manajemen Cairan dan Elektrolit:
- Evaluasi ulang keseimbangan cairan dan elektrolit pada pasien dengan gejala persisten 2
- Penting untuk mencegah dehidrasi dan gangguan elektrolit
2. Manajemen Demam:
- Antipiretik untuk kontrol demam
- Ekspektasi penurunan demam dalam 4-5 hari dengan terapi antibiotik yang tepat 1, 3
3. Nutrisi:
- Dukungan nutrisi yang adekuat
- Diet lunak yang mudah dicerna selama fase akut
4. Monitoring Komplikasi:
- Perforasi intestinal terjadi pada 10-15% pasien dengan durasi penyakit lebih dari 2 minggu 1
- Intervensi bedah dengan eksisi sederhana dan penutupan diperlukan untuk perforasi, dengan tingkat keberhasilan hingga 88.2% 1
- Monitor tanda-tanda perforasi: nyeri abdomen akut, peritonitis
5. Isolasi dan Pencegahan:
Algoritma Pemilihan Terapi
Langkah 1: Ambil Kultur Darah
- Selalu ambil kultur darah sebelum memulai antibiotik bila memungkinkan 1, 2
- Kultur darah memiliki hasil tertinggi dalam minggu pertama onset gejala 1
Langkah 2: Terapi Empiris Berdasarkan Geografi
- Kasus dari Asia Selatan/Tenggara: Mulai dengan azithromycin 1
- Kasus berat/sepsis: Mulai terapi spektrum luas setelah mengambil kultur, kemudian sesuaikan berdasarkan hasil sensitivitas 2
- Bayi <3 bulan: Gunakan cephalosporin generasi ketiga 2
Langkah 3: Evaluasi Respons Klinis
- Bila tidak ada respons pada hari ke-5, pertimbangkan resistensi atau diagnosis alternatif 1, 3
- Demam seharusnya turun dalam 4-5 hari 1, 3
Langkah 4: Transisi ke Terapi Oral
- Pasien yang awalnya mendapat antibiotik parenteral harus dialihkan ke regimen oral segera setelah terjadi perbaikan klinis dan suhu normal selama 24 jam 2
Langkah 5: Durasi Terapi
- Selesaikan kursus penuh 7 hari untuk mencegah relaps, yang terjadi pada 10-15% kasus yang tidak diobati dengan adekuat 1, 3
- Jangan hentikan antibiotik prematur meskipun demam sudah turun 1, 3
Kesalahan Umum yang Harus Dihindari
- Jangan gunakan ciprofloxacin empiris untuk kasus dari Asia Selatan/Tenggara 1
- Jangan hentikan antibiotik terlalu dini 1, 3
- Jangan andalkan presentasi klinis saja untuk diagnosis; ambil kultur bila memungkinkan 2
- Jangan gunakan kombinasi ceftriaxone dengan levofloxacin - tidak ada bukti yang mendukung kombinasi ini 3
- Pertimbangkan pola resistensi lokal saat memilih terapi empiris 1, 2