What are the first, second, and third line treatments for typhoid fever?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: February 2, 2026View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Tatalaksana Demam Tifoid: Antibiotik Lini Pertama, Kedua, Ketiga dan Terapi Tambahan

Antibiotik Lini Pertama

Azithromycin adalah antibiotik lini pertama pilihan untuk demam tifoid, terutama di daerah dengan resistensi fluoroquinolone yang tinggi. 1

Dosis Azithromycin:

  • Dewasa: 500 mg oral sekali sehari selama 7 hari 1
  • Anak: 20 mg/kg/hari (maksimal 1 gram/hari) oral selama 7 hari 1, 2

Keunggulan Azithromycin:

  • Risiko kegagalan klinis lebih rendah (OR 0.48) dibandingkan fluoroquinolone 1
  • Lama rawat inap lebih singkat sekitar 1 hari dibandingkan fluoroquinolone 1
  • Risiko relaps sangat rendah (OR 0.09) dibandingkan ceftriaxone 1, 3
  • Tingkat kesembuhan 94% pada anak dengan demam tifoid 2

Peringatan Penting:

  • Jangan gunakan ciprofloxacin secara empiris untuk kasus dari Asia Selatan atau Asia Tenggara karena resistensi mencapai 96% di beberapa wilayah 1
  • Lebih dari 70% isolat S. typhi dari Asia Selatan resisten terhadap fluoroquinolone 1, 2

Antibiotik Lini Kedua

Ceftriaxone adalah pilihan lini kedua untuk demam tifoid yang resisten terhadap quinolone atau ketika terapi lini pertama gagal. 3

Dosis Ceftriaxone:

  • Dewasa: 2-4 gram IV sekali sehari selama 5-7 hari 3
  • Anak: 50-80 mg/kg/hari IV (maksimal 2 gram) sekali sehari selama 5-7 hari 1, 2

Indikasi Ceftriaxone:

  • Kasus berat yang memerlukan rawat inap 2
  • Demam tifoid yang terbukti resisten terhadap quinolone 3
  • Strain multidrug resistant (resisten terhadap chloramphenicol, ampicillin, dan trimethoprim-sulfamethoxazole) 3

Karakteristik Ceftriaxone:

  • Tingkat kesembuhan klinis 79-83% dalam uji acak 3
  • Demam akan turun dalam 4-5 hari dengan terapi yang tepat 3
  • Namun perlu diingat: Azithromycin memiliki tingkat relaps yang jauh lebih rendah (OR 0.09) dibandingkan ceftriaxone, sehingga azithromycin tetap pilihan superior bila tersedia 3

Antibiotik Lini Ketiga

Cefixime (Alternatif Oral):

  • Dewasa: 400 mg oral sekali sehari 2
  • Anak: 8 mg/kg/hari oral sekali sehari 2
  • Durasi: 7-14 hari 2

Peringatan Kritis tentang Cefixime:

  • WHO hanya mencantumkan cefixime sebagai opsi "alternatif", bukan lini pertama 1
  • Tingkat kegagalan terapi 4-37.6% dalam praktik klinis 1
  • Tingkat relaps 4-37.6% 1
  • Wajib dilakukan test-of-cure pada minggu ke-1 karena tingkat kegagalan yang tinggi 1

Fluoroquinolone (Hanya dengan Konfirmasi Sensitivitas):

  • Levofloxacin atau ciprofloxacin hanya boleh digunakan bila sensitivitas dikonfirmasi melalui kultur dan uji sensitivitas 1, 2
  • Jangan gunakan secara empiris karena resistensi yang luas 1
  • Kegagalan terapi dengan levofloxacin pada strain resisten mengakibatkan penyakit yang jauh lebih lama (76.4 jam vs 41.2 jam untuk strain sensitif) 1

Chloramphenicol (Pilihan Terakhir):

  • Hanya dipertimbangkan sebagai opsi terakhir ketika tidak ada antibiotik lain yang tersedia 2
  • Meskipun 97.8% isolat S. Typhi masih sensitif terhadap antibiotik lini pertama konvensional (ampicillin, chloramphenicol, cotrimoxazole) 4, namun tidak lagi menjadi pilihan utama

Terapi Tambahan Selain Antibiotik

1. Manajemen Cairan dan Elektrolit:

  • Evaluasi ulang keseimbangan cairan dan elektrolit pada pasien dengan gejala persisten 2
  • Penting untuk mencegah dehidrasi dan gangguan elektrolit

2. Manajemen Demam:

  • Antipiretik untuk kontrol demam
  • Ekspektasi penurunan demam dalam 4-5 hari dengan terapi antibiotik yang tepat 1, 3

3. Nutrisi:

  • Dukungan nutrisi yang adekuat
  • Diet lunak yang mudah dicerna selama fase akut

4. Monitoring Komplikasi:

  • Perforasi intestinal terjadi pada 10-15% pasien dengan durasi penyakit lebih dari 2 minggu 1
  • Intervensi bedah dengan eksisi sederhana dan penutupan diperlukan untuk perforasi, dengan tingkat keberhasilan hingga 88.2% 1
  • Monitor tanda-tanda perforasi: nyeri abdomen akut, peritonitis

5. Isolasi dan Pencegahan:

  • Higiene tangan yang ketat 1
  • Praktik keamanan makanan dan air yang tepat 1

Algoritma Pemilihan Terapi

Langkah 1: Ambil Kultur Darah

  • Selalu ambil kultur darah sebelum memulai antibiotik bila memungkinkan 1, 2
  • Kultur darah memiliki hasil tertinggi dalam minggu pertama onset gejala 1

Langkah 2: Terapi Empiris Berdasarkan Geografi

  • Kasus dari Asia Selatan/Tenggara: Mulai dengan azithromycin 1
  • Kasus berat/sepsis: Mulai terapi spektrum luas setelah mengambil kultur, kemudian sesuaikan berdasarkan hasil sensitivitas 2
  • Bayi <3 bulan: Gunakan cephalosporin generasi ketiga 2

Langkah 3: Evaluasi Respons Klinis

  • Bila tidak ada respons pada hari ke-5, pertimbangkan resistensi atau diagnosis alternatif 1, 3
  • Demam seharusnya turun dalam 4-5 hari 1, 3

Langkah 4: Transisi ke Terapi Oral

  • Pasien yang awalnya mendapat antibiotik parenteral harus dialihkan ke regimen oral segera setelah terjadi perbaikan klinis dan suhu normal selama 24 jam 2

Langkah 5: Durasi Terapi

  • Selesaikan kursus penuh 7 hari untuk mencegah relaps, yang terjadi pada 10-15% kasus yang tidak diobati dengan adekuat 1, 3
  • Jangan hentikan antibiotik prematur meskipun demam sudah turun 1, 3

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

  • Jangan gunakan ciprofloxacin empiris untuk kasus dari Asia Selatan/Tenggara 1
  • Jangan hentikan antibiotik terlalu dini 1, 3
  • Jangan andalkan presentasi klinis saja untuk diagnosis; ambil kultur bila memungkinkan 2
  • Jangan gunakan kombinasi ceftriaxone dengan levofloxacin - tidak ada bukti yang mendukung kombinasi ini 3
  • Pertimbangkan pola resistensi lokal saat memilih terapi empiris 1, 2

Efek Samping yang Perlu Dimonitor

Azithromycin:

  • Gejala gastrointestinal: mual, muntah, nyeri abdomen, dan diare 1
  • Monitor interaksi obat, terutama obat yang memperpanjang interval QT 1

References

Guideline

Management of Typhoid Fever

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2026

Guideline

Treatment of Enteric Fever in Children

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Guideline

Typhoid Fever Treatment Guidelines

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2026

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.