Antibiotik Oral Pilihan Pertama untuk Rawat Jalan Demam Tifoid
Azithromycin adalah antibiotik oral pilihan pertama untuk pengobatan rawat jalan demam tifoid, dengan dosis 500 mg sekali sehari selama 7 hari pada dewasa atau 20 mg/kg/hari (maksimal 1g/hari) selama 7 hari pada anak-anak. 1, 2
Mengapa Azithromycin adalah Pilihan Terbaik
Azithromycin menunjukkan keunggulan klinis yang signifikan dibandingkan antibiotik lain:
- Tingkat kegagalan klinis lebih rendah dengan odds ratio 0.48 (95% CI 0.26-0.89) dibandingkan fluoroquinolone 1
- Risiko relaps dramatis lebih rendah dengan odds ratio 0.09 (95% CI 0.01-0.70) dibandingkan ceftriaxone 1
- Lama rawat inap lebih singkat sekitar 1 hari dibandingkan fluoroquinolone (MD -1.04 hari, 95% CI -1.73 hingga -0.34 hari) 1
- Tingkat kesembuhan 94% pada anak dengan demam tifoid 2
Pertimbangan Pola Resistensi Geografis
Pemilihan antibiotik harus mempertimbangkan asal geografis pasien:
- Asia Selatan dan Asia Tenggara: Resistensi fluoroquinolone melebihi 70% dan mendekati 96% di beberapa wilayah, sehingga ciprofloxacin tidak boleh digunakan secara empiris 1, 3
- Azithromycin adalah pilihan lini pertama yang direkomendasikan untuk kasus dari wilayah ini 1
- Sub-Sahara Afrika: Ciprofloxacin masih dapat menjadi alternatif jika sensitivitas dikonfirmasi, namun tetap harus dilakukan kultur dan uji sensitivitas 4
Algoritma Pengobatan Rawat Jalan
Langkah 1: Mulai Terapi Empiris
- Azithromycin 500 mg oral sekali sehari selama 7 hari (dewasa) 1
- Azithromycin 20 mg/kg/hari oral sekali sehari selama 7 hari (anak-anak, maksimal 1g/hari) 1, 2
Langkah 2: Ambil Kultur Darah Sebelum Memulai Antibiotik
- Kultur darah memiliki sensitivitas hingga 80% pada minggu pertama onset gejala 3
- Hasil kultur akan memandu terapi definitif dan mengidentifikasi pola resistensi 4
Langkah 3: Monitor Respons Klinis
- Demam harus turun dalam 4-5 hari setelah terapi yang tepat 1, 4
- Jika tidak ada perbaikan klinis pada hari ke-5, pertimbangkan resistensi atau diagnosis alternatif 4
Langkah 4: Selesaikan Kursus Penuh
- Jangan hentikan antibiotik prematur meskipun demam sudah turun 4
- Penghentian dini meningkatkan risiko relaps hingga 10-15% 4
Alternatif Jika Azithromycin Tidak Tersedia atau Kontraindikasi
Pilihan Kedua: Cefixime
- Dosis dewasa: 400 mg oral sekali sehari 2
- Dosis anak: 8 mg/kg/hari oral sekali sehari 2
- Durasi: 7-14 hari 2
- Peringatan penting: Cefixime memiliki tingkat kegagalan 4-37.6% dan tingkat relaps yang lebih tinggi 1
- Wajib dilakukan test-of-cure pada 1 minggu karena tingkat kegagalan yang tinggi 1
Pilihan Ketiga: Fluoroquinolone (Hanya Jika Sensitivitas Dikonfirmasi)
- Ciprofloxacin: Hanya untuk kasus dari Sub-Sahara Afrika dengan sensitivitas terkonfirmasi 3, 5
- Tidak boleh digunakan empiris untuk kasus dari Asia Selatan/Tenggara 1, 4
- Label FDA menyetujui ciprofloxacin untuk demam tifoid (Enteric Fever) yang disebabkan oleh Salmonella typhi 5
Kesalahan Umum yang Harus Dihindari
1. Penggunaan Ciprofloxacin Empiris untuk Kasus Asia
- Jangan pernah gunakan ciprofloxacin secara empiris untuk kasus dari Asia Selatan atau Asia Tenggara 1, 4
- Resistensi fluoroquinolone sangat tinggi di wilayah ini (>70%) 1
2. Penghentian Antibiotik Prematur
- Selesaikan kursus penuh 7 hari bahkan jika demam sudah turun lebih awal 4
- Penghentian prematur meningkatkan risiko relaps secara signifikan 4
3. Tidak Mengambil Kultur Sebelum Memulai Antibiotik
- Selalu ambil kultur darah sebelum memulai antibiotik jika memungkinkan 2, 4
- Kultur memandu terapi definitif dan mengidentifikasi pola resistensi 4
Efek Samping dan Monitoring
Efek Samping Azithromycin yang Umum
- Gejala gastrointestinal: mual, muntah, nyeri perut, diare 1, 4
- Monitor interaksi obat yang memperpanjang interval QT 1, 4
Kapan Merujuk atau Rawat Inap
- Tidak ada perbaikan klinis pada hari ke-5 4
- Tanda-tanda komplikasi: perforasi intestinal (terjadi pada 10-15% pasien dengan durasi penyakit >2 minggu) 4
- Fitur sepsis atau ketidakstabilan klinis 3
Bukti Penelitian Pendukung
Studi terbaru menunjukkan azithromycin dan gatifloxacin memiliki efikasi yang sebanding dengan median waktu penurunan demam 106 jam pada kedua kelompok, dengan tingkat kegagalan pengobatan keseluruhan 9% 6. Namun, mengingat resistensi fluoroquinolone yang tinggi di Asia, azithromycin tetap menjadi pilihan yang lebih aman untuk terapi empiris 1, 7.