Terapi Kanker Prostat Metastasis Tulang dengan PSA >100
Untuk pasien laki-laki 60 tahun dengan kanker prostat metastasis tulang yang belum pernah mendapat terapi (treatment-naïve), terapi kombinasi triplet (ADT + docetaxel + inhibitor reseptor androgen) adalah pilihan terbaik jika pasien fit untuk kemoterapi, karena memberikan keuntungan survival yang signifikan dibandingkan terapi hormonal saja. 1, 2
Rekomendasi Terapi Berdasarkan Status Fungsional Pasien
Pasien Fit untuk Kemoterapi (Pilihan Utama)
Terapi triplet adalah standar terkini untuk penyakit metastasis hormone-sensitive: 1, 2
- ADT (triptorelin/leuprolide/goserelin) + docetaxel + darolutamide meningkatkan 4-year overall survival menjadi 62.7% vs 50.4% dengan plasebo (HR 0.68, P<0.001) 2
- Alternatif: ADT + docetaxel + abiraterone juga menunjukkan benefit survival yang substansial 2
- European Society for Medical Oncology (ESMO) 2015 secara eksplisit merekomendasikan ADT + docetaxel sebagai terapi lini pertama untuk penyakit metastasis hormone-naïve pada pasien yang fit untuk kemoterapi dengan level of evidence I, grade A 1
- Docetaxel 75 mg/m² setiap 3 minggu untuk 6 siklus
- ADT kontinyu (LHRH agonis atau antagonis)
- Inhibitor reseptor androgen (darolutamide atau abiraterone) dimulai bersamaan dan dilanjutkan
Pasien Tidak Fit untuk Kemoterapi
ADT kontinyu sebagai monoterapi adalah pilihan jika pasien tidak dapat mentoleransi kemoterapi: 1
- Bilateral orchiectomy atau LHRH agonis (leuprolide, goserelin, triptorelin) adalah pilihan setara 1
- LHRH antagonis (degarelix) dapat dipertimbangkan untuk menghindari testosterone flare 1, 2
- Penting: Jika menggunakan LHRH agonis, berikan antiandrogen (bicalutamide) selama 3-4 minggu pertama untuk mencegah flare phenomenon, terutama pada pasien dengan risiko tinggi komplikasi akut dari metastasis (seperti kompresi medula spinalis) 1
Terapi yang TIDAK Direkomendasikan
Combined androgen blockade (CAB) rutin tidak direkomendasikan: 1, 2
- Meta-analisis 27 studi menunjukkan benefit survival minimal (5-year survival 25.4% vs 23.6% dengan kastrasi saja, P=0.11) dengan toksisitas tambahan 2
- ESMO tidak merekomendasikan penambahan antiandrogen rutin pada terapi kastrasi sebagai lini pertama 2
Monoterapi antiandrogen tidak boleh diberikan: 1
- Bicalutamide monoterapi menunjukkan survival inferior dibandingkan kastrasi 1
- Steroidal antiandrogen monotherapy tidak boleh ditawarkan 1
Pertimbangan Khusus untuk Pasien Ini
Dengan PSA >100 dan metastasis tulang, pasien ini memiliki prognosis yang memerlukan terapi agresif: 1, 2
- Risiko tinggi untuk skeletal-related events memerlukan pertimbangan bone-targeted therapy 1
- Zoledronic acid atau denosumab dapat dipertimbangkan untuk mencegah komplikasi skeletal, meskipun tidak rutin direkomendasikan pada fase hormone-naïve 1
Monitoring yang diperlukan: 2
- Baseline dan monitoring periodik: kadar testosterone, PSA, faktor risiko kardiovaskular, kesehatan tulang
- Testosterone harus dikonfirmasi mencapai kadar kastrasi (<50 ng/dL atau <1.7 nmol/L) 2
- PSA dimonitor setiap 3-6 bulan 2
- Bone scan dan CT abdomen-pelvis untuk baseline imaging 1
Algoritma Keputusan Klinis
- Evaluasi fitness untuk kemoterapi (status performa, komorbiditas, fungsi organ) 1, 2
- Jika fit: Mulai terapi triplet (ADT + docetaxel + darolutamide/abiraterone) 1, 2
- Jika tidak fit: Mulai ADT kontinyu (LHRH agonis + antiandrogen 3-4 minggu pertama, atau LHRH antagonis) 1
- Hindari: Combined androgen blockade rutin, monoterapi antiandrogen 1, 2
Peringatan Penting
Testosterone flare dengan LHRH agonis dapat menyebabkan komplikasi serius: 1
- Pada pasien dengan risiko tinggi kompresi medula spinalis atau obstruksi ureter, pertimbangkan bilateral orchiectomy, LHRH antagonis, atau antiandrogen monoterapi sementara daripada LHRH agonis 1
- Jika LHRH agonis dipilih, antiandrogen wajib diberikan 3-4 minggu pertama 1
Intermittent ADT tidak direkomendasikan untuk penyakit metastasis hormone-naïve: 1
- Hanya dipertimbangkan jika ada intoleransi signifikan terhadap continuous ADT 1