Cilostazol untuk Infark Medulla Oblongata
Cilostazol dapat dipertimbangkan sebagai terapi antiplatelet jangka panjang untuk pencegahan stroke sekunder pada pasien dengan infark medulla oblongata (stroke iskemik non-kardioembolik), tetapi aspirin atau clopidogrel tetap menjadi pilihan utama yang lebih direkomendasikan.
Rekomendasi Antiplatelet untuk Stroke Iskemik Non-Kardioembolik
Terapi Lini Pertama
American College of Chest Physicians merekomendasikan aspirin (75-100 mg sekali sehari), clopidogrel (75 mg sekali sehari), aspirin/extended-release dipyridamole (25 mg/200 mg dua kali sehari), atau cilostazol (100 mg dua kali sehari) untuk pencegahan jangka panjang pada pasien dengan riwayat stroke iskemik non-kardioembolik atau TIA (Grade 1A). 1
Namun, clopidogrel atau aspirin/extended-release dipyridamole lebih disukai dibandingkan aspirin (Grade 2B) atau cilostazol (Grade 2C) dalam hierarki rekomendasi. 1
Posisi Cilostazol dalam Algoritma Terapi
Cilostazol memiliki beberapa keunggulan potensial untuk stroke iskemik:
Cilostazol dapat memberikan perbaikan yang lebih besar dalam aliran darah serebral dan status kognitif dibandingkan antiplatelet lain, menurut European Stroke Organisation. 1
Studi pada hewan menunjukkan cilostazol mengurangi volume infark, meningkatkan aliran darah serebral regional selama iskemia, menghambat jalur apoptosis, dan mengurangi stres oksidatif. 2
Cilostazol secara signifikan menurunkan pulsatility index pada arteri serebral media dan arteri basilaris pada pasien dengan infark lakunar akut, yang mungkin terkait dengan efek vasodilatasi. 3
Cilostazol meningkatkan kecepatan aliran puncak sistolik pada arteri serebral yang sebelumnya abnormal sebesar 42.9% dibandingkan 27.5% dengan aspirin (P=0.04). 4
Keamanan dan Kontraindikasi Penting
Cilostazol DIKONTRAINDIKASIKAN ABSOLUT pada pasien dengan gagal jantung kongestif dari tingkat keparahan apapun karena merupakan inhibitor phosphodiesterase tipe 3 yang dapat meningkatkan risiko mortalitas. 1, 5
Efek samping yang sering menyebabkan penghentian obat:
- Sakit kepala, diare, pusing, dan palpitasi terjadi pada hingga 25% pasien 1, 5
- Sekitar 20% pasien menghentikan cilostazol dalam 3 bulan karena efek samping 1, 5
Algoritma Praktis untuk Infark Medulla Oblongata
Fase Akut (dalam 48 jam):
- Berikan aspirin 160-325 mg sebagai terapi awal (Grade 1A) 1
Pencegahan Sekunder Jangka Panjang:
Pilihan pertama: Clopidogrel 75 mg sekali sehari ATAU aspirin 75-100 mg sekali sehari 1, 5
Pertimbangkan cilostazol 100 mg dua kali sehari jika:
- Pasien memiliki kontraindikasi terhadap aspirin atau clopidogrel
- Terdapat kekhawatiran tentang risiko perdarahan (cilostazol menunjukkan frekuensi perdarahan lebih rendah: 0 kasus vs 5 kasus dengan aspirin, P<0.05) 4
- Pasien memiliki penyakit arteri perifer bersamaan dengan klaudikasio intermiten 1
- PASTIKAN tidak ada riwayat gagal jantung 1, 5
Jangan gunakan terapi antiplatelet ganda (aspirin + clopidogrel) secara rutin karena tidak memberikan manfaat yang jelas untuk mengurangi kejadian kardiovaskular dan meningkatkan risiko perdarahan (Grade 1B) 1, 5
Pertimbangan Khusus untuk Infark Batang Otak
Meskipun tidak ada data spesifik untuk infark medulla oblongata, cilostazol menunjukkan efek protektif terhadap transformasi hemoragik pada model iskemia serebral fokal pada tikus, dengan pengurangan signifikan pada volume infark, transformasi hemoragik, dan ekstravasasi Evans blue. 6, 7
Peringatan Penting
- Cilostazol BUKAN pengganti untuk aspirin atau clopidogrel dalam pencegahan kejadian kardiovaskular—ia memiliki tujuan yang berbeda 5
- Jika digunakan untuk klaudikasio bersamaan, cilostazol dapat ditambahkan SELAIN (bukan menggantikan) aspirin atau clopidogrel 5
- Evaluasi fungsi jantung sebelum memulai cilostazol untuk menyingkirkan gagal jantung 1, 5