From the Research
Menurut BCSH (British Committee for Standards in Haematology) Guidelines, reaksi transfusi diklasifikasikan berdasarkan tingkat keparahannya menjadi ringan, sedang, berat, dan mengancam jiwa. Reaksi ringan biasanya meliputi urtikaria lokal, pruritus, dan demam ringan tanpa gejala lain. Reaksi sedang melibatkan urtikaria yang lebih luas, flushing, demam, dispnea ringan, dan hipotensi ringan yang respons cepat terhadap pengobatan. Reaksi berat termasuk hipotensi signifikan yang memerlukan vasopressor, distress pernapasan yang memerlukan bronkodilator, dan rigors atau demam berat. Reaksi mengancam jiwa memanifestasikan sebagai anafilaksis dengan kompromi saluran napas, hipotensi berat yang tidak responsif terhadap pengobatan, bronkospasme berat, dan gejala kolaps kardiovaskular. Klasifikasi ini membantu klinisi menentukan intervensi yang tepat, dengan reaksi ringan sering hanya memerlukan pengobatan simtomatik dan observasi, sedangkan reaksi mengancam jiwa memerlukan penghentian transfusi segera, perawatan dukungan intensif, dan potensi tindakan resusitasi 1, 2, 3, 4, 5. Pengkajian tingkat keparahan membantu menentukan urgensi dan intensitas respons medis yang diperlukan untuk mengelola reaksi transfusi secara efektif. Namun, perlu diingat bahwa gejala-gejala tersebut dapat bervariasi dan tidak semua reaksi transfusi dapat diklasifikasikan dengan jelas ke dalam salah satu kategori tersebut. Oleh karena itu, penting untuk melakukan evaluasi yang teliti dan segera terhadap setiap reaksi transfusi untuk menentukan tingkat keparahannya dan memberikan pengobatan yang tepat. Dalam beberapa kasus, reaksi transfusi dapat memerlukan tindakan segera dan agresif untuk mencegah komplikasi yang lebih serius. Dengan demikian, pengenalan dini dan pengobatan yang tepat sangat penting dalam mengelola reaksi transfusi dan mencegah morbiditas dan mortalitas yang terkait.