Tatalaksana Stridor
Untuk stridor akut, berikan oksigen aliran tinggi segera, posisikan pasien tegak, dan identifikasi penyebab untuk menentukan terapi spesifik—nebulisasi epinefrin untuk croup/edema pasca-ekstubasi, atau amankan jalan napas definitif jika terdapat tanda obstruksi berat.
Penilaian Awal dan Stabilisasi Jalan Napas
- Berikan oksigen aliran tinggi segera melalui face mask untuk mempertahankan saturasi oksigen >92%, karena hipoksia dapat berkembang cepat meskipun pasien tampak nyaman 1
- Posisikan pasien tegak (upright) untuk meningkatkan volume jalan napas total dan mengurangi keparahan stridor 1
- Jangan manipulasi jalan napas secara agresif pada kasus yang dicurigai epiglotitis atau obstruksi berat, karena dapat memicu obstruksi komplit 2, 3
- Monitor kontinyu dengan pulse oximetry dan observasi tanda-tanda perburukan seperti retraksi interkostal, penurunan kesadaran, atau silent chest 1
Identifikasi Penyebab Berdasarkan Presentasi Klinis
Stridor Pasca-Ekstubasi atau Edema Inflamasi
- Nebulisasi epinefrin (adrenalin) 1 mg merupakan terapi lini pertama untuk mengurangi edema jalan napas pada pasien sadar dengan stridor pasca-ekstubasi 1
- Kortikosteroid sistemik (hidrokortison 100 mg IV setiap 6 jam atau setara) harus dimulai sesegera mungkin jika terdapat edema inflamasi akibat trauma jalan napas langsung, dengan dosis minimal setara 100 mg hidrokortison setiap 6 jam 1
- Kortikosteroid harus diberikan minimal 12 jam sebelumnya untuk efektif; dosis tunggal sesaat sebelum ekstubasi tidak efektif 1
- Heliox dapat dipertimbangkan untuk mengurangi turbulensi aliran udara, meskipun membatasi FiO2 yang dapat diberikan 1
Croup (Laringotrakeobronkitis Viral)
- Nebulisasi epinefrin 1 mg diberikan untuk mengurangi edema mukosa jalan napas 1, 2
- Kortikosteroid sistemik (deksametason 0.6 mg/kg dosis tunggal atau prednisolon 1-2 mg/kg) harus diberikan pada semua kasus croup sedang hingga berat 4, 5
- Pasien harus diobservasi minimal 2-4 jam pasca nebulisasi epinefrin karena efeknya bersifat sementara dan dapat terjadi rebound 2
Epiglotitis Bakterial (Kegawatdaruratan)
- Jangan lakukan pemeriksaan orofaring atau manipulasi jalan napas yang dapat memicu obstruksi komplit 2, 3
- Panggil tim airway expert (anestesi, THT) segera untuk persiapan intubasi atau trakeostomi 1, 3
- Antibiotik spektrum luas (ceftriaxone atau cefotaxime) harus dimulai segera setelah jalan napas diamankan 2
- Intubasi harus dilakukan di ruang operasi dengan persiapan trakeostomi darurat 1, 3
Aspirasi Benda Asing
- Jangan lakukan blind finger sweep pada orofaring 2
- Jika obstruksi parsial dengan ventilasi adekuat, posisikan pasien nyaman dan berikan oksigen sambil persiapan bronkoskopi rigid 2, 3
- Jika obstruksi komplit, lakukan back blows dan chest thrusts (infant) atau Heimlich maneuver (anak >1 tahun) 2
- Bronkoskopi rigid merupakan gold standard untuk ekstraksi benda asing 2, 6
Anafilaksis dengan Angioedema
- Epinefrin intramuskular 0.01 mg/kg (maksimal 0.5 mg) harus diberikan segera pada paha anterolateral 2
- Kortikosteroid IV (hidrokortison 100-200 mg atau metilprednisolon 1-2 mg/kg) dan antihistamin untuk mencegah reaksi bifasik 2
- Persiapan untuk intubasi atau krikotiroidotomi darurat jika terdapat progresi cepat obstruksi jalan napas 1, 2
Indikasi Intervensi Jalan Napas Definitif
Tanda-tanda obstruksi berat yang memerlukan intubasi atau front-of-neck access (FONA) meliputi 1:
- Silent chest atau usaha napas yang memburuk
- Sianosis atau saturasi oksigen <92% meskipun dengan oksigen aliran tinggi
- Penurunan kesadaran atau agitasi ekstrem
- Kelelahan respirasi yang progresif
Teknik intubasi pada stridor berat 1, 3:
- Pertimbangkan intubasi sadar dengan fiberoptik pada pasien stabil dan kooperatif
- Gunakan videolaringoscopy jika tersedia untuk meningkatkan angka keberhasilan
- Persiapkan untuk krikotiroidotomi atau trakeostomi darurat jika intubasi gagal
- Hindari paralisis neuromuskular sebelum konfirmasi kemampuan ventilasi
Monitoring Pasca-Intervensi
- Pasien dengan stridor harus dimonitor ketat selama 6-24 jam tergantung penyebab dan keparahan, karena dapat terjadi perburukan lambat atau rebound setelah efek terapi awal menghilang 1, 2
- Pemeriksaan fiberoptik laring sebelum ekstubasi sering diperlukan pada pasien dengan riwayat intubasi berkepanjangan atau trauma jalan napas 1
- Stridor pasca-ekstubasi terjadi pada 25-75% ekstubasi pediatrik tetapi jarang pada dewasa; toleransi rendah harus diterapkan sebelum re-intubasi untuk mencegah kompromis respirasi 1
Perangkap Klinis yang Harus Dihindari
- Jangan tunda pemberian kortikosteroid sambil memberikan nebulisasi bronkodilator berulang—kortikosteroid harus dimulai segera pada edema inflamasi 1
- Jangan berikan sedasi pada pasien dengan stridor akut karena dapat menekan usaha napas dan mempercepat dekompensasi 2, 3
- Jangan asumsikan penyebab tunggal—sekitar 10% kasus memiliki lesi di lebih dari satu lokasi anatomis jalan napas 6
- Jangan lakukan pemeriksaan invasif (laringoskopi langsung, spatula lidah) pada kasus yang dicurigai epiglotitis tanpa persiapan airway definitif 2, 3