What are the causes of a patient who cannot urinate and cannot pass stool?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: September 25, 2026 • View editorial policy

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.

Penyebab Pasien Tidak Bisa BAK dan BAB

Penyebab paling umum pasien tidak bisa buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB) secara bersamaan adalah gangguan neurologis (terutama cedera medula spinalis, spina bifida, atau stroke di ganglia basalis), konstipasi berat dengan impaksi feses yang menyebabkan obstruksi saluran kemih, atau gangguan dasar panggul dengan disfungsi sfingter.

Kategori Penyebab Utama

1. Gangguan Neurologis (Penyebab Tersering)

Kondisi neurologis adalah penyebab paling signifikan ketika kedua fungsi terganggu bersamaan:

  • Cedera Medula Spinalis: Pasien dengan cedera medula spinalis mengalami neurogenic bladder dan neurogenic bowel secara bersamaan. Tingkat keparahan bergantung pada level cedera - semakin tinggi level cedera, semakin berat disfungsinya 1, 2.

  • Spina Bifida: Pasien dengan malformasi anorektal kongenital sering mengalami masalah urologi bersamaan termasuk infeksi saluran kemih berulang, refluks vesikoureter, dan penyakit ginjal kronik 3.

  • Stroke di Ganglia Basalis: Meskipun jarang, stroke iskemik di ganglia basalis dapat menyebabkan inkontinensia fekal dan urin sebagai manifestasi klinis awal 4.

  • Multiple Sclerosis dan ALS: Pasien dengan ALS usia ≥60 tahun menunjukkan peningkatan inkontinensia urin (50% pada wanita, 36% pada pria) dengan urge incontinence sebagai presentasi dominan (73%), plus konstipasi tinggi (46%) 5.

2. Konstipasi Berat dengan Impaksi Feses

Impaksi feses masif dapat menyebabkan obstruksi uropati dan retensi urin akut melalui kompresi mekanis:

  • Feses yang mengeras dan menumpuk di kolon dapat menekan kandung kemih dan uretra, menyebabkan ketidakmampuan berkemih 3, 6.

  • Pada anak-anak, konstipasi adalah penyebab retensi urin akut pada 13% kasus 7.

  • Kasus dilaporkan pada anak prasekolah dengan retensi urin akut yang sembuh setelah enema dan modifikasi diet 6.

3. Gangguan Dasar Panggul (Defecatory Disorders)

Disfungsi koordinasi otot dasar panggul dapat menyebabkan kedua masalah:

  • Dyssynergia: Kegagalan relaksasi atau kontraksi paradoksal sfingter anal eksternal dan puborektalis saat defekasi 8.

  • Pasien memerlukan tekanan perineal/vaginal atau evakuasi digital untuk mengeluarkan feses - bahkan feses lunak atau cairan enema sulit dikeluarkan 8.

  • Gangguan ini sering tidak terdeteksi karena pasien tidak melaporkan gejala kecuali ditanya spesifik.

4. Efek Samping Obat

Obat-obatan tertentu menyebabkan konstipasi dan retensi urin:

  • Opioid: Penyebab paling umum
  • Antikolinergik: Mengurangi kontraktilitas kandung kemih dan motilitas usus
  • Calcium channel blockers: Efek relaksasi otot polos
  • Muscle relaxants: Pada pasien ALS, penggunaan muscle relaxants dan antikolinergik berkaitan dengan inkontinensia urin dan keparahan gejala 5

Efek obat 3 kali lebih sering pada laki-laki dibanding perempuan (16% vs 6%) 7.

5. Penyebab Lain pada Anak

Pada populasi pediatrik, distribusi penyebab berbeda 7:

  • Proses neurologis: 17%
  • Disfungsi berkemih berat: 15%
  • Infeksi saluran kemih: 13% (6x lebih sering pada perempuan)
  • Konstipasi: 13% (2x lebih sering pada perempuan)
  • Efek samping obat: 13%
  • Penyebab inflamasi lokal: 7%
  • Neoplasma: 6% (eksklusif pada laki-laki)

Pendekatan Diagnostik Kritis

Anamnesis Spesifik yang Harus Ditanyakan:

Untuk BAB:

  • Berapa lama mengejan sebelum bisa BAB?
  • Apakah perlu menekan perineum/vagina atau evakuasi digital?
  • Apakah feses lunak juga sulit dikeluarkan?
  • Konsistensi feses (gunakan Bristol Stool Scale - 65% pasien neurogenic bladder memiliki konsistensi abnormal) 2

Untuk BAK:

  • Durasi tidak bisa berkemih (>12 jam dengan volume >expected untuk usia)
  • Riwayat penggunaan obat (opioid, antikolinergik, calcium channel blockers)
  • Gejala neurologis lain (kelemahan ekstremitas, mati rasa)

Pemeriksaan Fisik Krusial:

Pemeriksaan rektal digital 8:

  • Observasi penurunan perineum saat simulasi defekasi
  • Tonus sfingter saat istirahat dan saat mengejan
  • Palpasi puborektalis - nyeri lokal menunjukkan levator ani syndrome
  • Deteksi impaksi feses

Pemeriksaan neurologis:

  • Refleks anal (pinprick/scratch)
  • Kekuatan ekstremitas
  • Sensasi perineal

Peringatan Penting

  • Jangan abaikan kemungkinan neurologis: 17% kasus retensi urin pada anak memiliki penyebab neurologis. Jika tidak ada penyebab jelas dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, lakukan evaluasi neurologis segera dan imaging 7.

  • Defecatory disorders tidak respons terhadap laksatif standar: Kegagalan mengenali komponen ini adalah alasan tersering kegagalan terapi 8.

  • Hubungan bladder-bowel: Pasien dengan gejala kandung kemih lebih buruk juga mengalami disfungsi usus lebih buruk - keduanya harus ditangani bersamaan 2.

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.